BMKG: 21 Seismograf Akan Dipasang di Sumbar Tahun Ini

BMKG 21 Seismograf Akan Dipasang di Sumbar Tahun Ini Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG RI, Rahmat Triyono (kiri) menerima cendera mata dari Rektor ITP Henderi Nofrianto usai seminar di kampus tersebut, Kamis (10/10/2019). (Foto: Laila Marni/covesia)

Covesia.com - Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG RI, Rahmat Triyono mengatakan tahun ini Sumbar akan memiliki 21 alat sensor yang digunakan untuk mengukur gempa (seismograf) untuk mencatat gempa bumi yang terjadi di daerah itu.

"Saat ini di Sumatra Barat telah dipasang 6 Seismograf dan dalam tahun ini akan dipasang 15 seismograf lagi,” ungkap Rahmat kepada wartawan usai seminar nasional di Institut Teknologi Padang,Kamis (10/10/2019).

Lebih lanjut Rahmat mengatakan, tak hanya pemasangan seismograf, di Sumbar juga akan dipasang 50 alat sensor yang dihibahkan oleh China kepada pemerintah Indonesia.

“Sebenarnya, ada 200 alat sensor yang dihibahkan, 50 akan dipasang di Sumbar,” ungkap Rahmat.

Sementara, 145 sensor lainnya dipasang di pulau jawa dan 5 sensor selanjutnya akan dibongkar untuk dilihat bagaimana teknologinya.

Ia juga mengatakan pada tahun 2020 akan dilakukan evaluasi apakah alat sensor tersebut mampu mendeteksi gempa, mengingat Indonesia sangat aktif gempa bumi, bahkan dalam setahu terakhir banyak terjadi gempa bumi. “Gempa Palu dan Mataram adalah buktinya,” ungkapnya.

Ia mengimbau masyarakat Sumbar untuk tetao siaga bencana, karena daerah itu rawan terjadi gempa bumi dan tsunami. “Sumbar sangat berpotensi terjadi gempa dan tsunami. Jangan sampai kejadian di Aceh 2004 lalu yang menelan banyak korban terjadi lagi,” ungkapnya.

Seperti diketahui, seminar nasional dengan tema 'Inovasi Teknologi dan Infrastruktur untuk mitigasi bencana pada Indonesia 4.0' yang digelar ITP ini melibatkan 3 orang keynote speaker yaitu Direktur Direktorat Perbaikan Darurat BNPB, Medi Herlianto, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG RI  Rahmat Triyono, serta Yulhendra, dosen ITP.

Peserta seminar ini berjumlah 200 orang dari berbagai instansi, mahasiswa, dosen, serta komunitas peduli bencana di Sumbar.

Kontributor: Laila Marni

Berita Terkait

Baca Juga