Derita Warga Sijantang Koto, Bertahan Hidup di ''Negeri Abu PLTU''

Derita Warga Sijantang Koto Bertahan Hidup di Negeri Abu PLTU Seorang petani, Mariyenti beraktivitas di lahan pertanian dengan latar PLTU Ombilin di Desa Sijantang Koto, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Sumbar, Kamis (17/10/2019). Foto: Covesia/ Laila Marni

Covesia.com - Kabut asap menyelimuti kota Padang Rabu (16/10/2019) sore itu. Menurut data BMKG, suhu udara di Padang sedang tidak baik akibat kabut asap kiriman. Namun, bukan hal itu yang menjadi perhatian Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang. 

Beberapa wartawan dari berbagai media bersama LBH berangkat menuju Kota Sawahlunto. Tujuannya tak lain mendatangi langsung masyarakat Sijantang Koto, Kecamatan Talawi Sawahlunto yang sudah amat resah karena terus-menerus terpapar abu dari aktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ombilin.

Perjalanan yang ditempuh lebih kurang 4 jam itu terasa begitu lama. Apalagi ketika berjumpa “asap” di Sitinjau Lauik yang begitu pekat. Mungkin suhu udara yang minim membuat Sitinjau Lauik seperti negeri di atas awan. Jarak pandang pun terbatas.

Pemandangan “putih” itu berubah ketika sampai di Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok. Persawahan membentang di pinggir jalan raya. Juga beberapa heler padi berjejer di tepi jalan. Maklum, Solok terkenal sebagai tempat penghasil beras ternama di Sumbar.

Pukul 18:30 WIB, sampailah rombongan di kota Sawahlunto, tepatnya di halaman SDN 19 Sijantang Koto Kecamatan Talawi, sementara langit sudah gelap. Beberapa orang yang ingin mengambil video aksi “menembakan cahaya proyektor” telah bersiap. 

Tepat pukul 20:00 WIB, puluhan anak-anak SDN 19 Sijantang berdatangan ke sekolah. Salah satu aktivis yang datang dari Jakarta bernama Mutia, memulai aksinya. Ia dengan cekatan mengumpulkan anak-anak di suatu ruangan dan meminta meraka menceritakan tentang cita-cita mereka. Banyak dari mereka yang ingin menjadi polisi, tentara dan perawat. 

Sejarah PLTU Ombilin dan Kerusakan yang Dialaminya 

Dahulu, Sawahlunto adalah daerah penghasil batubara terbesar di Indonesia. Tak ayal, daerah ini memiliki sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). 

PLTU Ombilin terletak lebih kurang 15 kilometer dari pusat kota Sawahlunto. PLTU ini dibangun pada 1993 dan mulai beroperasi 1996 di Desa Sijantang Koto, Kecamatan Talawi, Sawahlunto. 

Berdasarkan berita Covesia Selasa, (25/6/2019) berjudul Walhi: Semburan Limbah B3 PLTU Ombilin membahayakan Masyarakat dan Ekologi diketahui tata kelola PLTU tidak baik hingga berbahaya bagi masyarakat dan keberlanjutan ekosistem. Pada Mei 2019, muncul protes dari masyarakat terkait pencemaran udara yang disebabkan abu hitam pekat yang keluar dari cerobong asap PLTU Ombilin. 

Tak hanya itu, Walhi menyampaikan PLTU Ombilin yang berkapasitas 2 x 100 Megawatt itu juga memiliki permasalahan yang sangat mendesak untuk segera diselesaikan yakni limbah B3 (Bahan Berbahaya Beracun). Dari hasil pembakaran batubara, ratusan ton limbah B3 dihasilkan tiap harinya hingga membentuk gunungan tanpa adanya penanganan yang tepat sesuai Undang-Undang. 

Direktur LBH Wendra Rona Putra mengatakan penyebab utama kebocoran limbah FABA ke sungai Batang Ombilin adalah karena kerusakan filter (penyaring) udara pada cerobong tempat saluran akhir limbah abu terbang.

Kerusakan terjadi pada sistem elektro presentator (EP) atau penangkap sisa kebakaran pada pembangkit PLTU. Hingga asap sisa pembakaran terlepas ke udara dan tidak tersaring. Partikel abu itulah yang “mengganggu” warga sekitar. 

Ia juga mengatakan, kerusakan terjadi karena peralatan pembangkit yang sudah uzur memasuki usia 22 tahun. Sedangkan batas untuk peralatan pembangkit listrik biasanya 25 tahun.

Menyoal limbah B3 PLTU Ombilin, pihak terkait telah melakukan upaya pengangkutan abu yang menumpuk sekitar 200 ribu ton di area PLTU ke lokasi penetralisir asam tambang yang dikuasai PT Guguk Tinggi Coal sejak 19 Juli 2019. Perbaikan pada filter penangkap debu yang keluar dari cerobong juga dilakukan perbaikan. 


Tentang Siswa SDN 19 Sijantang Koto  

SDN 19 Sijantang Koto terletak lebih kurang 300 meter dari PLTU Ombilin. Sekolah ini memiliki murid lebih kurang 140 anak. Siswa-siswa tersebut seperti sudah terbiasa dengan kondisi lingkungan dan udara yang tidak sehat, akibat abu yang menyembur dari cerobong PLTU Ombilin. Namun amat disayangkan, anak-anak itu tak pernah tahu bahwa abu yang sering jatuh di sekolah mereka berbahaya bagi kesehatan.

Angga (9) yang duduk di kelas 4 SD lebih khawatir dengan kabut asap kiriman provinsi tetangga dari pada abu yang mengandung limbah B3 yang dikeluarkan PLTU. 

“Hari ini sekolah diliburkan karena kabut asap,” ungkapnya. 

Dijumpai di tempat yang berbeda,  Nisa (10) mengatakan jarang memakai masker kalau tidak ada asap. Ia bahkan tidak tahu sama sekali bahwa abu yang keluar dari cerobong asap PLTU itu mengandung zat yang membahayakan kesehatan.

Ekonomi, guru olahraga SDN 19 Sijantang sadar betul bahwa abu tersebut berbahaya bagi kesehatan masyarakat juga bagi muridnya. Eko tidak pernah lagi melakukan kegiatan olahraga di lapangan sekolah, apalagi membawa anak-anak gerak jalan 1 KM. 

“Saya mau saja praktik di lapangan, tapi melihat kondisi anak-anak harus terpapar abu saya khawatir kesehatan mereka,” ungkapnya.


PLN (Persero) Ombilin bekerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia pernah melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap 45 siswa SDN 19 Sijantang Koto tahun 2017.  Hasilnya, terdapat gangguan paru pada 76 persen anak. Ada juga gambaran kelainan paru, bronkitis dan sebagainya.

Direktur LBH Padang, Wendra Rona Putra mengatakan sedang mempersiapkan langkah hukum yang dapat ditempuh oleh wali murid guna menyikapi kondisi itu. 

“Kami sedang mempersiapkan bukti-bukti pelanggaran yang dilakukan PLTU Ombilin, serta akan memeriksakan kesehatan anak-anak SDN 19 Sijantang Koto,” ungkapnya, Kamis (17/10/2019).

Jeritan Hati Warga Sijantang Koto

Aida Fitriani, salah seorang warga yang tinggal di dekat PLTU Ombilin mengatakan abu hampir setiap hari mengenai rumahnya. Tak hanya atap bahkan pakaian yang dijemur pun begitu. Menyapu rumah sudah menjadi rutinitas “lebih wajib dari pada makan.” 

“Jika kita makan hanya 2 sampai 3 kali sehari, menyapu bisa 5 sampai 6 kali sehari,” terangnya Kamis, (17/10/2019).

Aida juga mengatakan, apabila angin kencang, rumah kontrakannya itu pun ikut terdampak. Bukan dari abu yang di cerobong, akan tetapi abu yang menggunung sisa pembakaran batu bara PLTU. 

“Tak banyak yang bisa ia perbuat selain menyapu abu tersebut. Kadang makanan pun bisa terkena abu,” ungkapnya.

Pantauan Covesia, malam sebelumnya (Rabu, 16/10/2019) abu dari cerobong PLTU Ombilin menyebar ke berbagai tempat. Bahkan daun-daun di sekitaran SDN 19 Sijantang Koto ikut terkena abu. Kira-kira pukul 20:00 abu semakin banyak beterbangan. Tak hanya di benda seperti motor, mobil yang terparkir, bahkan proyektor yang dipakai oleh aktivis LBH Padang untuk melakukan aksi juga terpapar abu. Selain itu, abu juga menempel di pakaian, kulit dan menyisakan noda hitam.


Berdasarkan alat pengukur kualitas udara Airvisual yang dipasang LBH Padang dan Greenpeace Indonesia di sekitaran PLTU, indeks kualitas udara beberapa hari terakhir berada di posisi bahaya. Kualitas udara 408 dengan PM 2,5  sebesar 376 mikrogram per meter kubik. Sedangkan sesuai peraturan Menteri Lingkungan Hidup tentang baku mutu pembangkit listrik tenaga termal, ambang batas PM 2,5 adalah 100 mikrogram per meter kubik. 

Warga lainnya, Nevi Gusnita mengatakan ia sudah amat lelah dengan abu yang terus menerus menimpali rumahnya. Selain itu, keresahannya juga terdahap dampak kesehatan kepada anaknya. 

“Kami sudah melakukan hal semaksimal mungkin untuk kesehatan anak-anak. Memperhatikan gizi dan kebersihan makanan. Namun jika bahaya itu berasal dari udara apa yang bisa kami lakukan?” jelasnya.

Ia sangat mengharapkan perbaikan dari kualitas udara tersebut. “Jika mustahil menghentikan kegiatan PLTU setidaknya segeralah perbaiki penyaring cerobong sehingga tidak menyebabkan bahaya bagi kami. Sejujurnya kami telah lelah, setiap hari harus membersihkan abu yang bertebaran di rumah,” ungkapnya.

Senada dengan Nevi, wali murid lainnya, Siti Aminah mengungkapkan keluarganya harus siap sedia dengan obat. Siti tinggal tidak jauh dari PLTU Ombilin sekitar 300 meter. Bila anaknya demam, keresahan di hatinya semakin meningkat. Ia tak hanya khawatir dengan masalah demam. Lebih dari itu, ia khawatir dengan kesehatan paru-paru anaknya. 

“Angga masih berumur 9 tahun. Ia senang bermain di luar rumah. Namun, karena abu yang tiap hari bertebaran, saya sering melarangnya keluar rumah. Tapi itu tidak cukup, karena abu juga masuk ke rumah. Saya hanya ingin anak-anak bisa bermain dengan leluasa tanpa mengkhawatirkan bahaya abu,” jelasnya pada Covesia.

Siti sudah 7 tahun tinggal di Sijantang. Bentuk perhatian dari PLN memang ada namun menurutnya tidak setimpal dengan risiko yang dihadapi. 

“Anak-anak diberi sebutir telur dan satu kotak kecil susu, tujuannya untuk apa saya tak mengerti. Jika untuk gizi, insyaallah kami bisa penuhi, tapi kalau udara bersihnya tidak ada, itu kami yang tidak sanggup,” jelasnya. 

Berkali-kali Siti menuturkan bahwa ia dan warga Sijantang butuh udara yang bersih untuk anaknya. “Mereka harapan kami di masa mendatang. Kalau mereka tumbuh di lingkungan yang tercemar bagaimana masa depan mereka,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Di temui di lain tempat, Afni Efrientri (40) juga mengharapkan segera adanya perbaikan untuk desanya. Ia dengan berbagai cara berusaha menyelamatkan anaknya dari bahaya abu. 

Tapi apa daya, cara-cara yang ia tempuh seperti pindah rumah pun belum menampakkan hasil yang diinginkan. 

“Saya memiliki tiga anak, dua anak saya bergantung pada obat,” ungkapnya lirih.

Ia menuturkan, si bungsu berumur 10 tahun duduk di kelas 4 SD. Setiap hari harus mengonsumsi obat antibiotik, namun karena khawatir efek samping obat farmasi, dua bulan terakhir ia memilih menggunakan obat herbal. Sementara si sulung sudah berumur 13 tahun. Ia memilih menyekolahkan anaknya jauh dari Sijantang karena tak ingin udara di sekitar Sijantang yang tidak baik terhirup. 

“Sebenarnya, saya ingin ‘hidup’ dekat dengan anak-anak. Tapi apalah daya, saya ingin mereka hidup dengan udara yang lebih layak, makanya saya memilih untuk menyekolahkannya di luar kota, meski tak sedikit biaya yang harus dikeluarkan,” ungkapnya.

Abu dari sisa pembakaran batu bara PLTU sejak 3 tahun terakhir sangat membahayakan, sebutnya. 

“Kami periksakan ke dokter berbagai macam nama penyakit disebutkan, bronkitis, ISPA, asma dan lainnya. Anak-anak kami sangat rentan dengan penyakit. Bahkan saya pernah pindah ke desa tetangga untuk menghindari dampak abu karena saran dokter. Akhirnya saya kembali karena punya rumah di sini, saya asli warga sini,” terangnya.

Afni menambahkan, dulu warga sering menelepon pihak PLN untuk menyiram jalan supaya tak banyak debu. 

“Namun kini tak ada yang bisa dilakukan lagi. Kami hanya berharap udara bersih kembali bisa dihirup di Desa Sijantang Koto,” ungkapnya mengakiri.  

Penulis: Laila Marni

Editor: Rudrik Syaputra

Berita Terkait

Baca Juga