Kopi Sirukam, Masa Depan Petani Kopi di Kabupaten Solok

Kopi Sirukam Masa Depan Petani Kopi di Kabupaten Solok Tampak biji kopi yang sedang dijemur di tempat penjemuran bantuan dari program pemberdayaan ekonomi masyarakat Dompet Dhuafa Singgalang ( Foto: covesia/ Laila)

Covesia.com - Kopi Solok memiliki kekhasan tersendiri karena ditanam di ketinggian 1000 di atas permukaan laut. Tiap tahunnya permintaan kopi khususnya greenbeannya terus meningkat, namun kondisi tersebut tidak sebanding dengan kesejahteraan petani kopi.

"Selama ini petani kopi cukup kecewa dengan hasil kopi karena harganya sangat rendah, hanya 4000-6500 perkilonya," ungkap Jorong Kubang Nan Duo, Nagari Sirukam Kecamatan Payung Sekaki Kabupaten Solok, Adris (49) kepada Covesia, Kamis (21/11/2019).

Lebih lanjut Adris mengatakan sebelum adanya pemberdayaan dan pembinaan oleh Dompet Dhuafa Singgalang petani di jorong ini banyak yang memilih menanam padi, coklat, cabe, dan bawang.

Ia menuturkan sejak 3 bulan lalu ia dan kelompok tani Ciburuih Indah Nan Jaya didampingi juga diberdayakan. "Tidak hanya modal tapi juga fasilitas berupa mesin, tempat penjemuran kopi, serta gudang dapat dimanfaatkan petani," ujarnya.

Masyarakat kembali antusias untuk menanam kopi. "Sejauh ini sudah ada 25 hektar kebun kopi yang digarap oleh 25 Kepala keluarga, ke depannya bisa dikembangkan menjadi 200-300 hektar dan menghasilkan kopi lebih maksimal," jelasnya.

Adris mengaku awalnya banyak yang tidak percaya dengan apa yang ia giatkan dengan menanam kopi. Namun, setelah dibantu dompet dhuafa kerja kerasnya berbuah manis.

Kopi yang kelompok tani Solok ini hasilkan sudah memiliki harga yang sesuai. "Kisaran harga tergantung kualitas, tidak terlalu mahal dan kompetitif dengan kopi lainnya. Pengiriman kopi Sirukam bahkan tidak hanya dalam negeri tapi juga luar negeri walaupun masih dalam jumlah yang terbatas," terangnya.

Adris yang juga ketua petani kopi ini mengatakan besar harapannya pada Dompet Dhuafa Singgalang untuk terus mendampingi dan memberikan pelatihan.

Ia juga berharap pada pemerintah untuk mempermudah izin usaha dan bantuan bibit yang baik hingga mereka dapat menghasilkan kopi dengan kualitas yang lebih baik pula.

Hadie Bandarian Syah selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Sumbar mengatakan bahwa pendampingan terhadap petani kopi akan berlangsung selama satu tahun.

"Jika dalam satu tahun ini berdampak baik bagi masyarakat dan berkembang maka akan diberikan pendpingan berkelanjutan sehingga semakin banyak penerima manfaat yang semakin sejahtera," ungkapnya.

Hadie juga mengatakan pemberian pendampingan tidak hanya pada sektor kopi, sebelumnya Dompet Dhuafa Singgalang juga memberikan pendampingan pada petani jagung di Pariaman, peternakan sapi di Pesisir Selatan.

"Target selanjutnya, bukan hanya kopi dan jagung tapi juga Gambir di masa mendatang," ujarnya.

Kontributor: Laila Marni


Berita Terkait

Baca Juga