Merangkai Sejarah dan Upaya Memugar Kejayaan Dharmasraya dalam Festival Pamalayu

Merangkai Sejarah dan Upaya Memugar Kejayaan Dharmasraya dalam Festival Pamalayu Bupati Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan

Covesia.com - Kabupaten Dharmasraya merupakan salah satu daerah di Provinsi Sumatra Barat yang memiliki nilai sejarah yang kuat. Penamaan kabupaten ini pun diambil dari manuskrip yang terdapat pada prasasti Padang Roco. Pada prasasti itu, disebutkan Dharmasraya sebagai ibu kota dari kerajaan Melayu waktu itu. 

Kerajaan ini muncul setelah kejatuhan kerajaan Sriwijaya pada abad 13-14, di mana daerah kekuasaan kerajaan ini merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Sriwijaya sebelumnya, yaitu mulai dari Semenanjung Malaya hingga Sumatra. Hal ini dapat dibuktikan dari Prasasti Grahi di Chaiya, selatan Thailand serta catatan dalam naskah Cina yang berjudul Zhufan Zhi karya Zhao Rugua tahun 1225.

Di Kabupaten Dharmasraya, terdapat hulu Sungai Batanghari. Sungai terpanjang di Sumatra ini melintasi dua provinsi, di Sumatera Barat dan Jambi. Tak hanya itu, di Dharmasraya, banyak ditemukan situs-situs purbakala hasil peninggalan Kerajaan Melayu yang pernah berdiri abad 13. 

Situs Candi Padang Roco salah satu yang terkenal. Selain itu juga terdapat situs-situs lainnya yakni situs Pulau Sawah, situs Awang Maombiak, dan situs Padang Lawas, yang memanjang dari hulu ke hilir Sungai Batanghari sekitar radius 8 km.

Pada Minggu (27/10/2019) wartawan Covesia, Laila Marni berkesempatan mengunjungi Kabupaten Dharmasraya. Dengan menempuh jarak lebih kurang 202 kilometer atau 5 jam perjalanan menggunakan mobil dari Kota Padang, sampailah rombongan wartawan Covesia di sebuah rusunawa Pulau Punjung, ibu kota Kabupaten Dharmasraya. 

Dari serangkaian kegiatan, salah satu yang dikunjungi adalah situs sejarah warisan masa lampau di Dharmasraya, yakni Candi Padang Roco.

Pepohonan rimbun khas Bukit Barisan menemani sepanjang perjalanan menuju ke lokasi Candi Padang Roco. Kesejukan udara terhirup dalam. Angin yang berembus menerpa wajah lewat sela-sela kaca mobil. Beberapa menit perjalanan, bus berhenti tepat di depan papan nama bertulis “Cagar Budaya Candi Padang Roco.” Di seberang candi berdiri pondokan yang ternyata merupakan warung kecil milik masyarakat setempat. 

Selain papan nama, di depan pintu masuk juga terdapat informasi mengenai Arca Amoghapasa yang dikirim oleh Raja Kartanegara ke Tanah Melayu. Di daerah ini jugalah Arca Amoghapasa ditemukan.

Candi Padang Roco berlokasi di Jorong Sungai Lansek, Kenagarian Siguntur, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya. Keberadaan candi ini membuktikan adanya pemerintahan kerajaan, sehingga dibuatlah candi sebagai sarana ibadah raja, keluarga dan rakyatnya yang bernapaskan agama Budha.

Sebelum melihat candi, pendatang dan wisatawan diarahkan untuk mengisi buku kunjungan. Dari buku kunjungan tersebut, wartawan Covesia mengamati, Candi Padang Roco telah dikunjungi oleh berbagai wisatawan baik wisatawan lokal maupun domestik dan mancanegara. Pengunjung yang datang mendominasi saat hari libur.

Dalam cataran sejarah, Candi Padang Roco ditemukan kembali oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Batusangkar (sekarang BPCB)  pada 1992 atas informasi dari salah seorang penduduk Sei Lansek. Pada 1993 dilakukan ekskavasi oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Batusangkar bekerja sama dengan pusat penelitian arkeologi nasional.

Situs Candi Padang Roco memiliki 4 candi yang kemudian disebut Candi Padang Roco I, II,III,IV.

Candi Padang Roco I adalah candi induk dengan ukuran 21X21 meter dengan ketinggian sekitar 90 sentimeter sedang pada bagian tengah sekitar 3 meter. Sementara, Candi Padangroco II berdenah bujur sangkar, dengan ukuran 4,40X4,40 meter. 

Candi Padang Roco III, terdiri atas dua bangunan. Bangunan pertama merupakan candi dengan denah bujur sangkar dan berukuran sekitar 8,50X8,50 meter. Bangunan kedua adalah Maṇḍapa dengan ukuran 13,50X8,50 meter dan berdenah empat persegi panjang. Kedua bagian dari Candi Padangroco III tampak seolah menyatu berukuran 22X8,50 meter. 

Sedangkan, Candi ke IV belum dipugar dengan alasan tertentu.

Ketiga candi tersebut berdiri secara berdampingan di cagar budaya tersebut. Sementara, untuk menjaga kebersihan dan kenyamaman pengunjung, pada lingkungan situs juga terdapat musala dan toilet umum. Tak hanya itu, juga terdapat tempat duduk dan taman sekitar candi yang ditumbuhi oleh berbagai tanaman.

Bicara pelestarian candi, peneliti sejarah dari Perkumpulan Wangsamudra, Wenri Wanhar mengatakan, Candi Padang Roco tidak cukup hanya dilestarikan, bahkan lebih dari itu.

“Candi Padang Roco perlu tindakan lebih dari sekadar pelestarian, guna menjaganya tetap ada sebagai tapak-tapak tua jejak keberadaan nenek moyang kita,” ungkap Lulusan Universitas Bung Karno, kepada Covesia, Rabu (11/12/2019).

Ia menyarankan candi-candi di sekitar Padang Roco perlu disilau lagi baik-baik. “Saya dapat informasi dari masyarakat sekitar bahwa setiap kali warga menggali sumur ditemukan batu bata. Saat membangun rumah, ditemukan lagi batu bata. Kemungkinan besar, memang banyak candi di Dharmasraya ini,” terangnya.

Wenri berpendapat bahwa sebenarnya luas candi lebih dari yang sekarang yang ditemukan oleh arkeolog. Jika tertimbun tanah, seharusnya dilakukan pengupasan tanah secara baik-baik dan dipelajari lagi baik-baik.

“Hari ini tumbuh dari masa lalu, tidak ada pohon yang besar tanpa akar yang kuat. Jejak sejarah memang harus dikemukakan untuk kita menjadi bangsa yang besar dan belajar pada masa lalu,” paparnya lagi.

Menurutnya, dilakukannya penyilauan dan pengupasan sejarah candi bukan semata sehubungan dengan sejarah agama nenek moyang, tetapi untum pemahaman sejarah lebih jauh lagi. 

“Kita tak akan pernah ada tanpa nenek moyang kita,” imbuhnya.

Salah seorang juru pelihara candi, Alif Yardi (30) mengatakan pemugaran candi dimulai tahun 1990-an dan selesai 2004 lalu. 

Rata-rata pengunjung adalah pelajar, mulai dari siswa TK, SD, SMP, SMA, bahkan mahasiswa.  Alif mengatakan bahwa berkunjung ke candi tidak dipungut biaya apapun alias gratis. Baik biaya masuk ataupun biaya parkir kendaraan.

Pemuda asli Dharmasraya ini mengimbau untuk pengunjung mematuhi peraturan yang telah ada seperti tidak membawa kendaraan ke area candi, tidak menginjak atau duduk di bata candi, dan membuang sampah pada tempatnya. Alif berharap pengunjung tidak hanya datang untuk berswafoto namun juga belajar sejarah dari candi ini.

Festival Pamalayu dan Kerja Keras "Mambangkik Batang Tarandam*

Kabupaten Dharmasraya secara administrastif akan memperingati ulang tahun kabupaten yang ke-16 pada 7 Januari 2020. Sesungguhnya, ratusan tahun sebelumnya, nama Dharmasraya sudah ada dalam berbagai catatan sejarah. 

Salah satu catatan sejarah yang mematri nama Dharmasraya adalah Arca Amogaphasa yang saat ini disimpan di Museum Nasional bersama Arca Bhairawa. Keduanya ditemukan di  Dharmasaya sebagai bukti sejarah besar di masa lalu. Selain berbagai termuan artefak kuno serta bekas candi di beberapa tempat, antara lain di situs Padang Roco dan Pulau Sawah.

Arca amogaphasa yang menjadi titik penting dalam sejarah  tersebut merupakan hadiah Raja Singosari Kertanegara kepada Raja dan masyarakat Dharmasraya, dan dibawa dalam ‘Ekspedisi Pamalayu’ yang pada 22 Agustus 1286.

Sebagian sejarawan berpendapat bahwa Ekspedisi Pamalayu merupakan penaklukan Singosari atas Sumatra. Sementara, sebagian yang lain berpendapat bahwa hal tersebut merupakan ekspedisi persahabatan untuk menjalin persatuan. Silang pendapat tersebut kita serahkan kepada sejarawan dan ahli untuk membahasnya dalam forum ilmu pengetahuan.

Hal yang pasti, Dharmasaya punya peradaban masa lalu, yang bisa dilihat dari sejumlah peninggalan sejarah dan budaya seperti candi di Pulau Sawah dan Padang Roco. Selain itu, juga masih terdapat beberapa kerajaan yang masih eksis hingga kini juga dengan berbagai peninggalannya, antara lain Kerajaan Pulau Punjung, Siguntur, Padang Laweh dan Koto Besar.

Berbagai peninggalan sejarah tersebut menginspirasi Pemerintah Kabupaten Dharmasraya untuk menggelar sebuah festival yang digelar maraton selama hampir lima bulan, sejak 22 Agustus 2019 sampai dengan 7 Januari 2020. 

Bupati Dharmasraya Sutan Riska Tuanku Kerajaan mengatakan, festival ini ingin mengembangkan nilai-nilai persatuan dan persahabatan antar dua kerajaan besar di masa lalu tersebut. “Nilai-nilai kebaikan terus berlanjut hingga ke Masa Islam dengan eksistensi beberapa kerajaan di Dharmasraya yang masih hidup hingga kini,” ujar salah satu inisiator Festival Pamalayu ini.

Festival Pamalayu, adalah agenda perdana yang diselenggarakan Pemkab Dharmasraya secara besar-besaran dalam waktu panjang, dengan menu diskusi, melibatkan masyarakat serta atraksi di alam Dharmasraya, yang muaranya adalah destinasi.

Festival Pamalayu mengusung tema "Merayakan Dharmasraya." Tema ini, kata Sutan Riska, mengajak semua orang, baik pemerhati Dharmasraya hingga khalayak, ikut larut dalam denyut agenda Festival Pamalayu dengan riang gembira.

“Dharmasraya bukan saja punya potensi sejarah dan budaya, tapi juga beragam objek wisata yang pantas untuk dikunjungi. Apalagi posisi Dharmasraya sangat strategis yakni di jalan lintas tengah Sumatra,” ujar Sutan Riska.

Festival Pamalayu diluncurkan di Ruang Sanken, Museum Nasional, Jakarta, pada Kamis, 22 Agustus 2019, tempat disimpannya Arca Amogaphasa dan Bhairawa dari Dharmasraya. Pada tempat yang sama juga digelar Seminar Nasional bertajuk ‘Menyingkap Tirai Dharmasraya’. 

Festival Pamalayu menampilkan beragam diorama sejarah dan budaya, serta atraksi yang menarik.  Menurut Sutan Riska, kegiatan yang menghiasi Festival Pamalayu, merupakan siar Dharmasraya yang dihuni oleh penduduk yang beragam, aneka budaya, rupa pesona, wujud kesatuan nusantara.

Dengan menggelar Festival Pamalayu, Pemkab Dharmasraya juga mengharapkan bertambahnya kunjungan dan berdampak bagi kesejahteraan masyarakat.  “Ini cara kita, (mengajak semua) merayakan Dharmasraya. Harapan kita investasi semakin mengalir, perekonomian berkembang dan muaranya adalah kesejahteraan masyarakat,” tukasnya.

Sementara itu, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, gagasan Pemerintah Kabupaten menggelar Festival Pamalayu bekontribusi kepada Indonesia sebagai sebuah bangsa. 

"Kita perlu melihat kembali peristiwa bersejarah dalam sejarah kita dengan cara pandang yang mungkin berbeda dari apa yang selama ini kita kenal," katanya

Menurutnya, Ditjen Kebudayaan memikirkan, untuk menulis kembali sejarah nasional. Hal tersebut agar tidak dilupakan generasi saat ini.

"Ada kebutuhan yang cukup mendesak untuk memperbarui penulisan sejarah nasional kita. Melihat kembali hal-hal yang terjadi di masa lalu. Melihat istilah-istilah yang digunakan di masa lalu," tuturnya.

Wenri Wanhar, peneliti sejarah dari Perkumpulan Wangsamudra mengatakan, berbagai bukti tersebut menunjukkan bahwa ekspedisi tersebut memang digelar untuk persahabatan, bukannya penaklukkan.

"Yang memulai narasi 'penahlukan' tersebut adalah Krom. Kantornya di Museum Nasional yang dulunya bernama Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen."

Krom yang dimaksud Wenri adalah Nicholas Johannes Krom. Ia adalah seorang arkeolog dan juga peneliti sejarah dan budaya Indonesia berkebangsaan Belanda. 

Pendapat Krom kemudian diikuti beberapa ilmuwan lainnya. Namun, beberapa literatur juga menyebut ahli lain yang membantahnya, seperti CC Berg dan Carparis.

Memugar Kejayaan Dharmasraya ala Bupati Muda

Siapa orang penting di balik Dharmasraya hari ini? Salah satunya ialah Sutan Riska Tuanku Kerajaan, seorang putra daerah yang pernah dinobatkan sebagai bupati termuda di Indonesia. Saat ia berusia 26 tahun, ia sah dilantik sebagai Bupati Dharmasraya pada 17 Februari 2016.

Pria yang lahir pada 27 Mei 1989 ini pernah mengatakan bahwa ia pernah diremehkan oleh oknum. “Saat satu bulan ia memimpin, Dharmasraya akan hancur, sebab dinilai tidak mengerti soal pemerintahan.” Namun, hal tersebut tidak mematahkan niatnya. Bahkan, ia termotivasi untuk membalikkan prediksi tersebut.

Dengan peran dan doa ibunya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan terus mengemban amanah secara maksimal. Sempat ibunya ragu akan niatnya untuk menjadi Bupati. Tetapi, ia meyakinkan diri lewat  doa ibu, Tuhan akan meridai.

Kini ia dinilai berhasil membuktikan, lewat berbagai prestasi yang diraihnya dan mengharumkan nama Dharmasraya di tingkat nasional. Saat pertama kali memasuki dunia pemerintahan, Dharmasraya menduduki ranking 236 dari 500 lebih kabupaten/kota se Indonesia. Setelah itu, naik ke posisi 130. Pada September 2019, Kabupaten Dharmasraya sudah berada di ranking 37 Nasional.

Tak hanya itu, Dharmasraya yang hampir genap berusia 16 tahun sudah semakin maju. Dalam tiga tahun pemerintahan, Pemkab Dharmasraya telah berhasil menarik Rp1,4 triliun dana pusat ke daerah yang dijuluki Ranah Cati Nan Tigo. 

Bahkan jumlah tersebut sangat signifikan dibanding jumlah APBD setiap tahunnya. Hal itu tidak lain karena kelihaian membangun kepercayaan pusat dengan prestasi dan jaringan.

Sutan Riska yang merupakan anak seorang wali nagari ini memiliki cukup banyak prestasi. Ia meraih Satya lencana pembangunan yang langsung diberikan oleh Presiden Joko Widodo. Selain itu, dua kali terima penghargaan dari Kemenkum HAM, ABG award dari BKKBN Sumbar, Bakti Koperasi, termasuk salah satu dari 72 pemimpin berprestasi versi majalah ibukota Men,s Obsession, bahkan yang terbaru, ia merupakan salah satu kepala daerah yang mendapatkan anugerah Achievement Motivation Person.

Banyak hal besar yang dilakukan Sutan Riska di antaranya, mengubah Dharmasraya jauh lebih baik, pembangunan infrastruktur, bahkan pertumbuhan perekonomian di daerah ini bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi provinsi, bahkan nasional. 

Tak hanya itu hal besar lainnya ialah menggelar Festival Pamalayu. Bertajuk "Menyingkap Tirai Sejarah Dharmasraya: Dari Dharmasraya ada sejarah Indonesia yang patut diluruskan yakni ekspedisi Pamalayu." Festival ini diperkirakan akan menjadi festival terbesar di Sumbar.

Bupati muda ini mengharapkan, Festival Pamalayu dapat mempererat persatuan dan kesatuan serta persahabatan yang telah lama dijalin dengan berbagai daerah. Selain itu, juga sebagai ajang promosi Kabupaten Dharmasraya dan mengenalkan kebudayaan, serta memperdalam nilai sejarah bagi masyarakat, kaum milenial.

Festival Pamalayu diluncurkan pada 22 Agustus 2019 di Museum Nasional Indonesia dan akan berakhir pada 7 Januari 2020 mendatang, tepat di puncak perayaan HUT kabupaten itu. 

Pada puncak Festival Pamalayu selama 7 hari berturut-turut, 1-7 Januari 2020 juga digelar beragam kegiatan, karnaval, jalan sehat, pawai hari jadi Dharmasraya, pameran artefak dan juga pesta rakyat.

(ila/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga