Sekjen DPD RI: Di Mana Ada Orang Minang, di Sana Pasti Terjadi Akselerasi Perekonomian

Sekjen DPD RI Di Mana Ada Orang Minang di Sana Pasti Terjadi Akselerasi Perekonomian Reydonnyzar Moenek (istimewa)

Covesia.com - Di mana ada orang Minangkabau, maka di sana pasti terjadi akselerasi perekonomian. Hal tersebut diungkapkan oleh Sekjen DPD RI Reydonnyzar Moenek saat menghadiri acara Festival Sumarak Minangkabau 2019 di Blok M Square, Jumat (13/12/2019).

Berdasarkan siaran pers yang diterima Covesia.com, Sabtu (14/12/2019), Moenek menjelaskan bahwa tidak ada dalam sejarahnya orang Minang yang dibenci dan dimusuhi. Bahkan, keberadaan orang Minang di sebuah tempat sangat dirindukan karena membantu terbukanya kesempatan kerja dan mempercepat perputaran roda ekonomi daerah di mana ia berada.

“Di manapun orang Minang itu merantau, maka dapat dipastikan ia akan mampu segera beradaptasi dan turut serta berkontribusi membangun daerah di perantauan tersebut," jelasnya. 

Moenek mengetahui secara persis bagaimana potensi daerah serta bagaimana struktur dan implementasi pengelolaan keuangan di tiap daerah se-Indonesia.

Ada hal yang menarik dalam pengamatan tersebut, yakni pada lokasi-lokasi di setiap daerah, yang diasumsikan sebagai titik-titik di mana terjadinya percepatan roda ekonomi, ditemukan adanya konsentrasi pedagang Minangkabau.

“Di Jakarta, kita mengenal lokasi penyumbang devisa terbesar adalah Tanah Abang, tahu sama tahu, di sana didominasi oleh pedagang Minang. Di Blok M, juga demikian, nyaris dikatakan pedagang Minang menguasai segala lini. Di Bandung, kita kenal pusat perbelanjaan Pasar Baru ada Pasar Baru Trade Center, di Surabaya kita kenal ada Pasar Blauran Baru, Pasar Baru Keputih, bahkan kawasan perbelanjaan di jalan Malioboro Yogyakarta  yang didominasi para pedagang Minang,” urainya.

Lebih lanjut, kata Moenek, itu belum termasuk rumah makan Padang yang tersebar di seantero Tanah Air bahkan mancanegara. 

Suksesnya orang Minang di perantauan, kata Donny, karena berkait dengan filosofis yang telah diajarkan turun menurun dari nenek moyang orang Minangkabau. 

Yang pertama adalah, “dima bumi dipijak di sinan langik dijunjuang.” Ini norma inti perantau Minang yang telah diadopsi menjadi kultur dan bahasa Indonesia. Maksudnya, agar setiap orang yang merantau dan bepergian ke sebuah tempat yang baru  segera menyesuaikan diri dengan adat istiadat di tempat barunya itu.

Filosofi kedua yakni “baraja ka nan manang, mancontoh ka nan sudah” mengharuskan agar kita mengambil pelajaran dan menuntut ilmu pada mereka yang telah sukses, dan pandai-pandai mengambil hikmah dari kegagalan orang lain. Artinya, jangan malu dan ragu untuk bertanya dan mempelajari pengalaman orang lain, mengapa ia sukses atau mengapa pula ia gagal, untuk diambil pelajaran kehidupannya.

Norma ketiga adalah, “indak ado rotan aka pun jadi”. Ini prinsip panjang akal. Orang Minang selalu punya cara untuk mencari solusi dengan mempergunakan potensi yang ada dengan tetap mendapatkan hasil yang maksimal.

Prinsip keempat adalah “Takuruang nak di lua, taimpik nak di ateh.” Inilah kehebatannya orang Minang, kalau terkurung ia maunya di luar, kalau terhimpit ia maunya di atas.

“Ini bukan berarti sebuah kelicikan, ini lebih diartikan sebagai optimisme yang besar dalam diri orang Minangkabau. Meskipun gagal, dia akan menjadikan kegagalannya itu sebagai pemicu agar dirinya makin giat berusaha, gigih mencari jalan ke luar, dan sebagainya. Meskipun terjepit, orang Minang itu akan optimis akan menemukan opsi-opsi lain, thinking outside the box, sehingga akhirnya menempati posisi di atas,” terangnya.

Kontributor: Fakhruddin Arrazzi

Berita Terkait

Baca Juga