Tabloid Puailiggoubat Pamit Setelah Naik Cetak Selama 18 Tahun

Tabloid Puailiggoubat Pamit Setelah Naik Cetak Selama 18 Tahun Pemimpin Redaksi Tabloid Puailiggoubat, Ocha Mariadi/ Foto: Istimewa

Covesia.com – Manajemen Tabloid Puailiggoubat, media terdepan yang menyajikan ragam informasi dan ulasan tentang Mentawai, akhirnya memutuskan menerbitkan edisi terakhirnya malam ini, Senin (16/12/2019). Terbit pertamakali pada Desember 2001, malam ini Tabloid Puailiggoubat menerbitkan edisi 422 sebagai terbitan pamungkas dan menyampaikan selamat tinggal untuk pembaca setianya.

Pemimpin Redaksi Tabloid Puailiggoubat, Ocha Mariadi, mengatakan selama 18 tahun eksis menjadi bagian dari masyarakat mentawai, banyak momen-momen berharga yang dilalui untuk tetap menjaga visi agar akses informasi di Kepulauan Mentawai terbuka dan suara masyarakat dapat disalurkan kepada publik terutama para pengambil kebijakan.

Selama 18 tahun itu, jelas Ocha, Puailiggoubat hadir sebagai media gerakan yang banyak memberi advokasi dan edukasi terkait lingkungan, demokrasi dan budaya Mentawai. Sebagai media yang lahir di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Puailiggoubat juga memiliki misi membangun gerakan bersama semua pihak tanpa memandang etnis dan agama untuk memajukan Mentawai, daerah yang sudah lama tertindas dan tertinggal.

“Edisi pertengahan Desember ini adalah edisi terakhir Tabloid Puailiggoubat. Keputusan menghentikan edisi cetak diambil selain karena pertimbangan efisiensi juga mengoptimalkan media online Mentawaikita.com yang merupakan versi online Tabloid Puailiggoubat,” jelas Ocha.

Menurut Ocha, meski memutuskan menghentikan cetak, Tabloid Puailiggoubat, sejatinya tidak mati. Keputusan untuk sepenuhnya hijrah ke platform online tetap membawa semangat untuk membangun dan meningkatkan literasi masyarakat Mentawai.

Menurut Ocha, tak mudah membangun media di Mentawai terutama untuk mewujudkan misi meningkatkan literasi masyarakat. Kepulauan Mentawai yang sangat luas memiliki kondisi geografis yang sangat menantang dan sulit. Selama bertahun-tahun, distribusi dan meningkatkan minat baca masyarakat adalah hal yang menantang.

“Kehadiran Internet membuka peluang bagi Puailiggoubat membuat versi online agar informasi-informasi terkait Mentawai dapat disebarkan lebih luas kepada khalayak. Puailiggoubat versi online yang kini bernama Mentawaikita.com ini  berkembang seiring semakin majunya fasilitas Internet di Mentawai. Hampir semua daerah terutama di ibu kecamatan tersedia jaringan Internet gratis. Kehadiran media online ini dapat menjawab tantangan soal pendistribusian media cetak ke daerah-daerah yang aksesnya sangat sulit,” kata Ocha.

Tabloid Puailiggoubat berawal dari sebuah buletin fotokopian yang berisi klipingan pemberitaan media mainstream di Sumatera Barat tentang Mentawai. Puailiggoubat kemudian diterbitkan dengan semangat untuk meningkatkan literasi masyarakat Mentawai. Karena tidak bercorak bisnis, penerbitan Puailiggoubat disokong dana hibah dari donor. 

Sepanjang usia terbitnya, Tabloid Puailiggoubat pernah dipimpin Jurnalis senior Sumatera Barat Syofiardi Bachyul JB sebagai pemimpin redaksi pertama, Jurnalis aktivis Imran Rusli, dan terakhir oleh Jurnalis aktivis perempuan Ocha Mariadi.

(ynd)


Berita Terkait

Baca Juga