Kasus Pertama di Indonesia, Korban Gigitan Ular Daboia Russelii di Lembata Selamat dari Maut

Kasus Pertama di Indonesia Korban Gigitan Ular Daboia Russelii di Lembata Selamat dari Maut Ular Bandotan puspa (daboia russelli siamensis). Sumber: wikipedia

Covesia.com - Remaja 12 tahun, Martinus berhasil selamat dari maut setelah mendapat perawatan dari gigitan ular langka di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kasus ini merupakan kasus hidup pertama di Indonesia setelah digigit ular berbisa mematikan bandotan puspa (daboia siamensis).

"Saya terharu, akhirnya kasus berat daboia russelii siamensis ini berhasil selamat dan sebagai kasus pertama di Indonesia," kata Tri Maharani, Kepala IGD RS Daha Husada Kediri Jawa Timur dalam di Kupang, Rabu (22/1/2020).

Dokter Tri Maharani adalah ahli toxinologi satu satunya di Indonesia yang menangani korban gigitan ular sangat berbisa di Lembata itu.

Martinus (12) dilaporkan digigit ular sangat berbisa pada kakinya saat sedang mengembalakan ternak sapi di Lembata pada 14 Januari 2020.

Akibat gigitan itu, Martinus mengalami kesadaran yang sangat jelek, pendarahan terus keluar dari mulut, hidung, dan mengalami gagal napas.

"Sebagai ahli toxinologi satu satunya di Indonesia, saya tahu jenis ular sangat berbisa yang diidentifikasi sebagai daboia russelii siamensis. Jenis ular ini memang langka karena di Indonesia hanya ada di beberapa tempat," katanya menjelaskan.


  • Dokter Tri Maharani (kiri) bersama pasien gigitan ular sangat berbisa di RS Lembata. Sumber: Istimewa

Ular ini hanya di pulau Jawa, itupun di Jawa Timur Gresik, Surabaya, dan tahun 2019 sempat ada satu pasien di Tulungagung, dan dua tahun lalu di Semarang, tetapi tidak terkonfirmasi karena dua-duanya meninggal dunia.

Daboia russelii siamensis adalah ular golongan viperia russelli. Sifat toksinnya hematotoxin myotoxin renal toxicity, dan ada yang neurotoxin, menurut riset dari dr Tan Malaysia, katanya menjelaskan.

Obatnya adalah antivenom monovalen daboia russeli siamensis. Jenis obat ini hanya diproduksi di Thailand oleh QSMI Taiwan dan Myanmar, katanya.

Dia mengatakan setelah mendapat telepon dari dokter PTT di Lembata, dirinya memutuskan untuk terbang ke Bangkok untuk membeli antivenom monovalen daboia russeli siamensis.

"Saya di Bangkok hanya beberapa jam. Setelah membeli obat, saya kembali ke Jakarta dan keesokan harinya terbang ke Kupang dan selanjutnya ke Lembata," katanya.

Setelah tiba di Lembata, dr Tri Maharani segera memberikan antivenom itu dua buah.

"Saat itu kondisi pasien jelek. Pendarahan banyak, kesadarannya menurun dan creatinin 7,4, uerum 408 sebagai tanda gagal ginjal akut dan lekosit sangat tinggi 16.000-an, tanda neurotoxin masih kuat," katanya.

"Tetapi saya sangat terharu sekali, karena kasus berat daboia russelii siamensis ini berhasil diselamatkan sebagai kasus pertama hidup di Indonesia," kata Tri Maharani.

(ant/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga