Ini Penyebab Warga 50 Kota Tolak Pembangunan Jalan Tol

Ini Penyebab Warga 50 Kota Tolak Pembangunan Jalan Tol Ilustrasi

Covesia.com - Penolakan proyek jalan Tol Sumbar – Riau oleh masyarakat Nagari Tae Baruah dan Koto Baru Simalanggang, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten Limapuluh Kota disebut-sebut konsultan yang mengurus proyek itu tidak paham etika sosial budaya masyarakat Minang. Hal ini memicu kemarahan masyarakat dan berujung kepada penolakan pembangunan jalan tol Sumbar-Riau.

Ketua Tim Penolakan Jalan Tol Koto Baru Simalanggang, Jas Irman mengatakan masyarakat sudah marah kepada konsultan yang dikirim oleh Pemerintah Pusat untuk proyek pembangunan jalan tol Sumbar-Riau. Ini dikarenakan sebelum diberi pemberitahuan pembangunan jalan tol, konsultan sudah terlebih dahulu masuk ke tanah masyarakat dan melakukan pememetaan dengan memancang di beberapa titik di tanah masyarakat.

“Mereka masuk ke Rumah, sawah, ladang dan kebun kami untuk memancang dan memberi batas. Saat ditanya, mereka bilang untuk penelitian atau keperluan umum. Tidak ada pernah bilang untuk pembangunan jalan tol. Setelah selesai dipetakan, baru mereka dan mengumpulkan kami. Barulah disebut akan ada pembangunan jalan tol. Ini namanya tidak ada etika,” sebut Jas Irman kepada Covesia.com melalui seluler, Rabu (19/2/2020).

Diceritakan Jas Irman, pemberitahuan dilakukan oleh Konsultan tersebut akhir Januari 2020 silam dengan menghadirkan pihak Pemerintahan Nagari. Masyarakat yang rumah, tanah, sawah dan ladangnya yang terkena dampak pembangunan jalan tol dikumpulkan. Kemudian diberitahu ada rencana pembangunan jalan tol di Koto Baru Simalanggang dan peta maupun perencanaannya sudah siap. Disini yang membuat masyarakat kaget dan merasa tersinggung.

“Jadi istilahnya, mereka masuk dan mengobrak abrik rumah kami tanpa assalammualaikum dulu,” ungkap Jas Irman.

Diungkapkan oleh Jas Irman, masyarakat nagari Koto Baru Simalanggang dan Taeh Baruah sebenarnya tidak anti dengan pembangunan. Hanya saja, perlu komunikasi dan kejelasan sebelum adanya pekerjaan. Jika sudah berada diposisi saat ini, masyarakat menolak untuk kompromi dan melakukan pertemuan lagi soal proyek pembangunan jalan tol Sumbar – Riau.

“Jadi kesimpulan dari masyarakat, lebih baik cari rute lain. Jangan di Koto Baru Simalanggang. Masyarakat sudah bulat tekad mereka untuk tidak mau berkompromi lagi. Masuk tanpa salam dan memetakan tanah kami tanpa izin sudah bikin shock,” sebut Jas Irman lagi. 

(agg)

Berita Terkait

Baca Juga