Satu Pasien PDP Covid-19 Asal Payakumbuh Diinformasikan Meninggal di RSAM Bukittinggi

Satu Pasien PDP Covid19 Asal Payakumbuh Diinformasikan Meninggal di RSAM Bukittinggi Rumah Sakit Achmad Moechtar (RSAM) Bukittinggi

Covesia.com - Masyarakat Kota Payakumbuh dihebohkan dengan pernyataan salah seorang di grup whatsapp FP Karang Taruna Payakumbuh, Sabtu (4/4/2020) siang. Dalam pernyataan tersebut diinformasikan kepada Walikota Payakumbuh, Riza Falepi bahwa ada salah seorang warga kota itu berstatus PDP baru saja meninggal dunia di Rumah Sakit Achmad Moechtar (RSAM) Bukittinggi.

Mengenai informasi ini, Kepala Dinas Kesehatan Payakumbuh, Bakhrizal belum bisa memberikan keterangan. Saat dihubungi via seluler, ia mengaku tengah sibuk mengurus pemakaman jenazah. 

"Nanti telepon lagi. Saya sedang mengurus pemakaman jenazah," sebut Bakhrizal, kepada Covesia, Sabtu.

Ditanya soal jenazah PDP dari Bukittinggi, Bakhrizal mengatakan nanti akan diinformasikan lebih lengkap.

"Nanti diberikan info yang lengkap. Sekarang saya sedang mengurus pemakaman jenazah," ucapnya.

Di grup whatsapp tersebut, pasien meninggal dunia yang berstatus PDP masuk ke Rumah Sakit Yarsi Ibnu Sina salam keadaan stroke pada subuh hari. 

Kemudian tim medis melakukan rontgen dan melakukan pemeriksaan laboratorium Conaul dengan SP Paru. Hasilnya tidak mengarah pada Covid-19.

Setelah itu tim medis, melakukan wawancara kepada keluarga pasien. Dalam wawancara ini tidak ada yang mengaku dari daerah terjangkit. 

Kemudian pasien dirujuk ke RS Achmad Moechtar dengan diagnosa stroke Hemoragig. Sesampai di UGD RSAM pasien diperiksa ulang dan kelihatan paru-paru penuh cairan. 

Pihak medis RSAM pun melakukan wawancara kembali kepada keluarga pasien. Di sini barulah mengaku bahwa ada yang baru saja pulang dari daerah terjangkit yakni Jakarta.

Tidak lama dilakukan tindakan medis di RSAM, pasien meninggal dunia dan akan dimakamkan sesuai SOP penangaman pasien Covid-19. 

Pihak RSAM meminta untuk pengiriman jenazah almarhum diiringi oleh pihak Satpol PP dan kepolisian. 

Sedangkan untuk RS Yarsi Ibnu Sina, diminta untuk mendata semua petugas yang melakukan penanganan medis sebelumnya agar diisolasi, termasuk untuk mensterilkan tempat penerimaan pasien dan di non-aktifkan terlebih dahulu.

(agg/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga