''Keluhan'' Dirut Garuda: Biaya Tes PCR Lebih Mahal Daripada Harga Tiket Pesawat

Keluhan Dirut Garuda Biaya Tes PCR Lebih Mahal Daripada Harga Tiket Pesawat Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra

Covesia.com - Surat keterangan bebas Covid-19 yang dibuktikan lewat tes PCR menjadi syarat wajib bagi calon penumpang untuk bisa melakukan penerbangan. Sementara, biaya PCR ternyata relatif lebih mahal daripada harga tiket pesawat pulang pergi.

Hal itu jadi keluhan Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra. 

“PCR test yang Rp2,5 juta dan beberapa sudah menurunkan harganya, itu lebih mahal daripada biaya bepergian khususnya lokasi yang berdekatan, seperti Jakarta-Surabaya. Jadi, apalagi kalau bepergian tujuh hari yang berarti harus PCR dua kali dan bianya harus Rp5 juta sementara perjalanan bolak balik hanya Rp1,5 juta,” kata Irfan dalam webinar yang bertajuk “Kolaborasi Merespon Dampak Pandemi COVID-19 dan Strategi Recovery pada Tatanan Kehidupan Normal Baru di Sektor Transportasi” yang dikutip Covesia.com dari Antara, Rabu (3/6/2020).

Menyikapi kondisi itu, Irfan mengatakan pihaknya harus mengkaji kembali harga tiket pesawat agar masyarakat masih mau membeli dan tidak terbebani dengan mahalnya biaya tes PCR.

Garuda Indonesia juga menerapkan protokol kesehatan dengan menjaga jarak antara penumpang. Physical distancing jelas mengurangi jumlah tempat duduk di pesawat, yang otomatis menurunkan pendapatan.

“Kalau ‘physical distancing’ ini dipastikan dilakukan tentu kita harus ‘review’ harga dari penerbangan tersebut,” katanya.

Proses pra-penerbangan juga dinilainya semakin rumit karena mengharuskan pemeriksaan dokumen dan kesehatan.

“Artinya, ke depan industri ini akan menghadapi penurunan drastis penumpang. Adalah kepentingan bersama, bersama regulator untuk memastikan ini butuh waktu. Kami mendapatkan konsesus, industri ini bisa recovery sebelum Covid-19 dalam masa dua sampai tiga tahun,” katanya.

(ant/rdk)

Berita Terkait

Baca Juga