Peran dan Tantangan Lembaga Keuangan Sosial Syariah sebagai Alternatif Pendanaan UMKM saat Pandemi

Peran dan Tantangan Lembaga Keuangan Sosial Syariah sebagai Alternatif Pendanaan UMKM saat Pandemi Ilustrasi, Kampus Universitas Al Azhar Indonesia

Covesai.com - Pandemi Covid-19 jelas memberikan dampak terhadap aktifitas perekonomian, tidak hanya di Indonesia namun juga di seluruh dunia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pertumbuhan eknomi Indonesia mengalami kontraksi yakni tumbuh negatif sebesar 3,8 persen di triwulan II tahun 2020, dengan perkiraan akan tetap mengalami kontraksi negatif sebesar 0,4 - 1 persen pada akhir tahun 2020.

Kondisi perekonomian yang dialami oleh Indonesia ini berdampak tidak hanya kepada sektor korporasi namun juga pada pelaku usaha UMKM. 

Pemerintah menyadari keadaan yang dialami oleh pelaku UMKM yang jumlahnya saat ini ada sebanyak 6.4 juta unit usaha, dengan menyediakan dana untuk Pemulihan Ekonomi Nasional sebesar Rp123,46 triliun.

Namun Sekretairs Kementrian Koperasi dan UMKM Rully Idnrawan menyatakan bahwa dana yang sudah tersalurkan untuk kepentingan pemulihan ekonomi sektor UMKM itu per 6 Juli 2020 baru mencapai Rp250,16 miliar atau baru setara dengan 0,20 persen dari pagu yang sudah disediakan.

Terkait kondisi tersebut, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Al Azhar Indonesia dan Bank Infak menggelar Zoominar Nasional untuk membahas mengenai bagaimana peran dan tantangan lembaga keuangan sosial syariah yang bisa dijadikan sebagai terobosan untuk menjadi alternative lembaga penyediaan dana yang bisa diakses dengan segera oleh pelaku UMKM. 

Ketua Bank Infak Pusat, Doni Chridono dalam Zoominar Nasional itu mengatakan bahwa bank Infak didirikan dengan tujuan untuk menjadi alternative pendaaan bagi pelaku UMKM yang sulit sekali terjangkau oleh lembaga keuangan syariah konvensional.

Sejalan dengan itu, Rektor Universitas Al Azhar Indonesia, Prof Dr. Ir. Asep Saefuddin, MSc juga menambahkan agar kiranya hasil diskusi zoominar ini bisa ditindaklanjuti dengan langkah yang lebih konkrit antara Universitas Al Azhar Indonesia dengan lembaga amil zakat seperti BAZNAS dan Bank Infak sebagai salah satu model Lembaga keuangan sosial syariah yang berbasis komunitas. 

Sementara Direktur  Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS  Dr Irfan Syauki Beik, MEc mengatakan bahwa BAZNAS sudah mendayagunakan zakat dan infak untuk keperluan pengembangan usaha yang dikelola mustahik.

Irfan mengatakan bahwa setidaknya 30 persen dari mustahik yang menerima dana zakat untuk pengembangan usaha tersebut, berhasil menjadi muzaki.

Sejalan dengan itu, Dr Kuncoro Hadi selaku Dekan FEB Universitas Al Azhar Indonesia memberikan motivasi bahwa sesuai dengan ajaran Islam, agar kiranya setiap kaum Muslimin termotivasi untuk  mengalokasikan harta yang dimilikinya untuk kepentingan kaum muslimin lainnya melalui mekanisme yang genuine dimiliki oleh Islam yaitu melalui Zakat, Infaq dan Wakaf. 

"Universitas Al Azhar Indonesia juga menyediakan suatu market place digital Syariah, yaitu Tajeer Store yang bisa digunakan oleh pelaku UMKM dalam melakukan penjualan produk yang dihasilkan kepada masyarakat," kata Kuncoro dalam keterangan tertulisnya yang diterima Covesia.com, Rabu (8/7/2020) di Jakarta.

Adapun Hendratmoko, MSI selaku Dewan Pengawas Bank Infaq mengatakan, bahwa Bank Infak adalah model lembaga keuangan sosial berbasis syariah, yang sumber pendanaanya berasal dari infak.

Untuk itu dalam pendanaan kepada UMKM, Bank Infak tidak mengenakan adanya tambahan bagi hasil apapun.

Bank Infak memiliki semangat agar kiranya pelaku UMKM yang memperoleh pendanaan juga mampu mengelola usahanya dan kemudian memberikan infak. 

Zoominar ini diikuti oleh hamper 100 orang peserta secara virtual yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, di antaranya selain dari DKI Jakarta juga ada dari Aceh, Sumatera Selatan dan Jawa Tengah dan dengan beragam latar belakang pekerjaan, mulai dari mahasiswa, akademisi, praktisi UMKM dan Keuangan serta masyarakat umum.

(ril/dnq)

Berita Terkait

Baca Juga