- Advertisement -
HomeOpiniKetersediaan Air Baku dan Pengelolaan Lingkungan Menuju Padang 'Smart Green Water'

Ketersediaan Air Baku dan Pengelolaan Lingkungan Menuju Padang ‘Smart Green Water’

Covesia.com – Fakta minimnya ketersediaan air baku adalah persoalan yang dihadapi hampir semua daerah di Indonesia. Tidak terkecuali di Sumatera Barat (Sumbar). Kapasitas produksi air yang belum maksimal dan diperparah lagi dengan perilaku masyarakat yang jauh dari budaya ramah air, masih menjadi persoalan klasik di Ranah Minang. 

Keterbatasan air tergambar dari data yang dihimpun oleh BPS Sumbar. Volume air bersih yang disalurkan kepada pelanggan pada tahun 2018 sebesar 69.568.566 m3. Jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun 2016 yaitu sebanyak 2,72 persen. Padahal, populasi penduduk terus bertambah dan jumlah permintaan air bersih juga naik signifikan. BPS mencatat pada tahun 2016 total pelanggan air bersih di Sumbar mencapai 274.384 pelanggan. Sedangkan tahun 2018 naik menjadi 329.510 pelanggan. 

Menjaga ketersediaan air baku merupakan hal yang urgen, tidak hanya bagi pemerintah tapi juga masyarakat. Ironisnya, kebijakan tata kelola kota sering tidak menghargai kesinambungan hidup air. Kondisi tersebut membuktikan bahwa pemahaman pengelolaan air tidak banyak berubah. Isu tata air masih diselesaikan dengan konsep kuno. Air hujan dibuang secepat-cepatnya ke saluran air, sungai dan laut. Proyek pembangunan hanya berupa tanggul pengaman laut, pengembangan sistem polder, pengembangan rencana sodetan kanal dan sungai, pelurusan badan sungai, bendungan tanggul laut dan terowongan air bawah tanah. Puncaknya, ketika musim hujan air di dataran tinggi melongsorkan tanah membuat erosi. Sungai meluap, saluran air melimpah menggenangi jalan. Sedangkan di musim kemarau, keadaan menjadi terbalik. Kekeringan dan krisis air bersih. 

Menuju Padang Smart Green Water

Kelestarian air menjadi keharusan dalam sebuah kota. Sebab air adalah sumber kehidupan kita dan kota. Oleh karena itu, ketahanan air di Kota Padang menjadi hal yang penting diwujudkan. Untuk mewujudkan kota ketahanan air (smart green water), menurut Nirwono Joga dkk (2017) prinsip dasarnya adalah zero runoff, ekodrainase, 3R+ dengan program reduce, reuse, recycle, recovery, recharge dan lain-lain. Indikator keberhasilan dari langkah ini adalah warga mendapatkan akses air bersih yang mudah, murah dan di musim kemarau air bersih selalu terjamin. Pemerintah tidak bisa melakukannya sendiri. Harus ada partispasi masyarakat Kota Padang. Masyarakat harus membangun budaya ramah air. Masyarakat harus bahu membahu merawat lingkungan dan menjaga kesinambungan air. Berikut sinergi yang dapat dilakukan semua elemen baik pemerintah, instansi swasta maupun masyarakat, dalam rangka menuju “kota ketahanan air” (smart green water).

Program 30-in-30

Kota perlu menjalankan 30-in-30, yakni pengurangan konsumsi air sebesar 30 persen dalam 30 tahun ke depan. Program ini dapat dilakukan melalui pemasangan jaringan pipa air bersih yang dilengkapi dengan meteran air canggih sehingga kota bisa menghemat air. Sebagai masyarakat, menggunakan air secara hemat dapat memberikan manfaat ganda. Menghemat air berarti irit pengeluaran.

Menjaga Aliran Sungai

Kepedulian para penghuni bantaran kali dan sungai atas pentingnya air bersih dan cara menjaganya harus dibangkitkan kembali. Pengolahan terpadu akan meningkatkan kualitas air di sumber air bersih sekaligus meningkatkan keanekaragaman ikan. Melalui langkah-langkah seperti itu dan keseriusan pemerintah, kota ketahanan air menjadi sebuah keniscayaan.   

Membangun masyarakat ramah sungai

Lagi-lagi populasi atau jumlah penduduk menjadi pemicu utama. Semakin tinggi jumlah penduduk, barang yang digunakan juga semakin banyak dan sampah yang dihasilkan juga relatif banyak. Diperparah lagi dengan perilaku dan budaya masyarakat yang kurang sadar dengan kebersihan. Contohnya, membuang sampah di aliran sungai, tanpa memikirkan akibat apa yang akan terjadi setelah itu. Di pusat kota tidak kalah parah. Warga dengan sadar menimbun drainase dengan tumpukan sampah. Akibatnya aliran drainase tersumbat, ketika hujan dengan intensitas tinggi, menimbulkan genangan air di mana-mana. 

Mengatasi permasalahan ini, tentu saja dibutuhkan kerja sama antara pihak pemerintah, masyarakat, serta dunia industri. Pihak pemerintah wajib untuk memberlakukan aturan terhadap semua bentuk penyimpangan sosial baik bagi industri atau masyarakat agar jangan sampai membuang limbah di sungai. Masyarakat pun harus sadar tentang pentingnya air sungai untuk kehidupan. Selain itu, pihak pemerintah juga perlu mengatur pembuangan yang baik agar limbah-limbah industri tidak mengalir ke sungai-sungai setempat. 

Mewujudkan RTH 30 Persen

Luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada kota di Indonesia masih minim. Padahal Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang telah mengamanatkan bahwa setiap kota harus memiliki luasan RTH minimal 30 persen dari kawasan perkotaan. Sedangkan luas rata-rata RTH kota di seluruh Indonesia pada tahun 2014 berkisar di angka 11,5 persen. 

RTH mutlak dibutuhkan dalam sebuah kota. Nirwono Joga dkk (2017) menguraikan bahwa prinsip dari kota yang smart green open space, adalah RTH sebesar 30 persen dari seluruh area kota. Rinciannya, 20 persen merupakan area publik dan 10 persen lagi merupakan area privat. Ada delapan langkah yang dapat dilakukan pemerintah kota untuk mencapai angka RTH agar 30 persen.

Pertama, pemerintah harus menetapkan daerah yang tidak boleh dibangun. Kedua, pemerintah harus membangun lahan hijau baru. Ketiga, pemerintah wajib mengembangkan koridor ruang hijau (links). Keempat, pemerintah mengakuisisi RTH privat untuk mengejar target RTH privat sebesar 10 persen lahan perkotaan yang selama ini dibayang-bayangi kecenderungan penurunan wilayah karena dipakai untuk berbagai keperluan bangunan. Kelima, pemerintah harus merefungsi RTH eksisting, merebalitiasi atau merestorasi RTH dan melakukan penghijauan kembali kawasan hutan sebagai upaya meningkatkan kualitas RTH. Keenam, pemerintah harus berupaya untuk menghijaukan langit kota. Ketujuh, kebijakan hijau perlu disusun untuk meningkatkan keyakinan jajaran pimpinan pemerintah daerah dan anggota dewan legislatif akan pentingnya pengembangan RTH. Kedelapan, komunitas hijau harus diberdayakan. 

Bijak mengelola Sampah

Sampah dapat memberikan dampak buruk terhadap kualitas air sungai. Perilaku masyarakat terutama kegiatan membuang limbah rumah tangga, MCK dapat membuat air sungai tercemar. Diperparah lagi dengan adanya Tempat Pembuangan Sampah (TPS) ilegal yang berada di pinggiran sungai menyebabkan sungai terus tercemar. Belum lagi air limbah domestik dan industri. Faktanya, perilaku membuang sampah tidak pada tempatnya masih banyak ditemukan di seantero Kota Padang.  

Sinergitas dunia industri menyelamatkan lingkungan

Tidak membuang limbah pabrik ke dalam sungai. Pemerintah perlu membuat aturan yang ketat agar pabrik tidak membuang limbahnya secara langsung ke dalam aliran sungai. Pabrik-pabrik wajib menyediakan lahan khusus untuk memproses limbahnya sebelum dibuang ke aliran sungai. Limbah pabrik yang biasanya adalah bahan kimia sangat berbahaya dapat merusak ekosistem air sungai dan tidak bisa dimanfaatkan lagi oleh manusia. Mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya kehidupan sehari-hari merupakan salah satu cara yang sangat tepat untuk melindungi perairan dari cemaran bahan berbahaya. 

Menyusun Master Plan Padang Menuju Smart Green Water

Master Plan atau rencana induk adalah perencanaan yang menitik beratkan uraian kebijakan. Secara umum, master plan berisikan profil kota dan kawasan percontohan, identifikasi eksisting, analisis kawasan, rekomendasi, dan peta rencana. Fokus dari rencana induk Padang menuju smart green water adalah kawasan perkotaan strategis sebagai kawasan percontohan dengan periode perencanaan lima tahun (Nirwono Joga dkk, 2017). Agar dapat dijadikan kawasan percontohan, kawasan itu harus menjadi lokasi target perencanaan dan pelaksanaan beberapa program di daerah sehingga mendapatkan preferensi intervensi penyelarasan.  

Penulis: Nenengsih, S.Pd, M.Si (Dosen STEI Ar Risalah Sumatera Barat)

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
Pilihan Editor
- Advertisement -
Berita Terkait
Lainnya