- Advertisement -
HomeOpiniPeran Ibu Membentuk ''Keluarga Keren Kekinian''

Peran Ibu Membentuk ”Keluarga Keren Kekinian”

- Advertisement -

Covesia.com – Tangan lembut yang selalu memberikan pelukan hangat ditubuh mungil kami, si anak ibu. Sebenarnya, kasih sayang ibu sudah terasa ketika ibu mengandung kami, buah hati ibu.

Walaupun raut wajah ibu kini semakin dimakan usia, namun kasih ibu dengan ketulusannya merupakan kunci kehangatan dalam keluarga. Senyumnya mampu memberikan semangat bagi keluarga, khususnya kepada kami si anak untuk mengarungi  samudra kehidupan.

Memang, hakekatnya sebagai seorang anak bisa memberikan hal terbaik untuk ibu kapan saja dan dimana saja. Tidak harus menunggu suatu simbol atau momen perayaan tertentu dalam mengungkapkan kasih sayang kepada ibu. Untuk menghormati jasa dan nilai historis perjuangan para ibu, setiap tahunnya di Indonesia hari ibu diperingati tanggal 22 Desember. Hal ini bermula ketika Presiden Soekarno menetapkan Kepres RI nomor 316 tahun 1959 tentang “Hari Ibu” menjadi Hari Nasional yang bukan hari libur. Presiden beralasan, sosok ibu dan kaum perempuan dikancah nasional sudah berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Tepat tanggal 28 Oktober 1928, Kongres Wanita Indonesia telah berhasil menggalang persatuan untuk membantu merebut kemerdekaan.

Peran ibu pada era masyarakat millenial memang sedikit lebih kompleks. Sebenarnya, islam telah mencontohkan kisah Siti Khadijah seorang istri Nabi Muhammad SAW yang menjadi pengusaha sukses. Dizaman yang lebih kekinian, tidak bisa dipungkiri keterlibatan ibu dan kaum perempuan saat ini dalam membantu ekonomi keluarga, begitu dirasakan. Bekerja di sektor formil seperti dokter, guru, polwan, bekerja dikantor-kantor, banker, atau disektor non formil dengan menjalankan usaha mandiri, bisa dirasakan kontribusi tak terhingga ibu untuk keluarga saat ini.

Karena ibu-lah generasi yang berkualitas dilahirkan guna mengorbit menjadi pemimpin bangsa dan dunia. Waktu yang berlari begitu cepat, membuat sosok ibu tidak akan tergantikan, terlebih dalam menuju “keluarga keren” masa kini. Keluarga keren, merupakan istilah turunan yang dipakai oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional bagi keluarga-keluarga yang menerapkan kehidupannya dengan penuh perencanaan.  Untuk itu, peran penting ibu bagi keluarga dalam membangun kualitas bangsa kedepan bisa dilakukan dengan :

Pertama, Mempersiapkan Diri Menjadi Seorang Ibu

Sebenarnya, dalam menjadi seorang ibu, yang akan menghasilkan keluarga keren nantinya, bisa dimulai dari proses dan tahapan seperti 5 tahapan, : Kesatu, melanjutkan pendidikan. Bagi seorang remaja perempuan sebagai calon orang tua, pendidikan amatlah penting dalam menyiapkan orang tua dalam menuju keluarga keren sekaligus berkualitas. Minimal saat ini, sebelum menikah sudah menamatkan pendidikan di perguruan tinggi. Kedua, bekerja. Mengaktualisasikan ilmu pengetahuan yang didapatkan pada masa pendidikan sebelum memasuki jenjang pernikahan, dinilai sebagai fenomena yang positif dalam rangka persiapan sebelum menikah. Ketiga, menikah disaat yang tepat.

Dewasa ini, ajakan untuk merencanakan pernikahan diusia yang matang menjadi sebuah hal yang lumrah. Pernikahan perempuan diatas 21 tahun dan laki-laki diatas 25 tahun tentunya dianggap para ahli sudah mapan dari segi kesiapan fisik dari sistem reproduksi untuk persiapan kehamilan. Merencanakan kehamilan sekaligus mempersiapkannya dengan memahami betul proses pengasuhan di 1000 hari pertama awal kehidupan si buah hati, karena disana terdapat periode emas perkembangan sel otak anak guna mencegah stunting. Selanjutnya, kesiapan psikis tentang tanggung jawab menjadi orang tua maupun kesiapan materiil tentang biaya ketika berumah tangga.

Keempat, menjadi anggota masyarakat. Setelah menikah dan menjadi keluarga baru, kehidupan nyata bermasyarakat dimulai, diharapkan ikut aktif berpartisipasi pada acara sosial kemasyarakatan. Kelima, menerapkan pola hidup sehat. Ibu merupakan aktor penting dalam penentu kesehatan dalam keluarga. Ibu berperan sebagai sosok penentu gizi keluarga, begitu juga dalam hal kebersihan maupun lainnya.

Kedua, menjadi seorang ibu.

Ketika telah menjadi seorang ibu, berbagai tugas telah menanti. Mulai dari urusan anak, suami hingga semua urusan dalam rumah tangga. Untuk itu, perlu cara sekaligus strategi dalam menciptakan keluarga keren setelah menjadi seorang ibu, dengan :

Pertama, membudayakan nilai-nilai 8 fungsi keluarga.

8 fungsi keluarga merupakan nilai yang tidak bisa dihilangkan, agar keluarga tersebut menjadi keluarga keren dan harmonis.

Fungsi agama, seorang ibu berperan dalam menanamkan nilai keagamaan bagi buah hati mulai dalam kandungan. Fungsi kasih sayang. Kasih sayang ibu sepanjang jalan, itulah kalimat yang pas untuk ibu menurut pepatah. Mulai dari kandungan hingga sepanjang hidup ibu, sang ibu tetaplah mencintai anaknya. Begitupun kita sebagai anak, hendaknya mencintai dan menghormati orang tua kita, terlebih bila mereka sudah berusia lanjut.

Fungsi perlindungan. Walaupun sang ibu sibuk bekerja menambah penghasilan keluarga, namun jiwa untuk senantiasa melindungi keluarga tidaklah memudar. Sebelum atau sesudah pergi bekerja, ibu selalu memastikan ketersediaan makanan maupun kondisi rumah dalam keadaan bersih, agar anggota keluarga terhindar dari penyakit. Fungsi sosial budaya. Ibu mengajarkan sopan santun kepada sang anak, karena merupakan budaya lokal yang telah dianut turun temurun dalam masyarakat.

Fungsi reproduksi. Sang ibu memberikan pendidikan reproduksi kepada sang anak, bersikap dan bertingkah lakulah sesuai kodrat jenis kelamin yang dianugerahkan tuhan. Fungsi sosialisasi pendidikan. Apapun yang dilakukan ayah dan ibu sebagai orang tua dalam rumah tangga, adalah pendidikan yang pertama dan utama dalam membentuk karakter anak.

Fungsi ekonomi. Sang ibu sebagai orang tua bisa mendidik anak untuk hidup hemat dan tidak boros. Belajar menghargai suatu hal, dan tidak ada sesuatu yang didapatkan secara instan. Fungsi lingkungan. Manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungan alam dan lingkungan sosial. Ibu sebagai orang tua bisa mengajarkan nilai kasih sayang, dan tolong menolong, dan saling bertoleransi kepada lingkungan sekitar.

Kedua Bersama sang ayah, Ibu berandil menyukseskan Gerakan Kembali Kemeja Makan.

Sejak gerakan ini dilaunching oleh BKKBN di Padang pada 31 Maret 2019 lalu, tampaknya langkah gerakan kembali kemeja makan merupakan sebuah langkah tepat ditengah arus globalisasi dan modernisasi yang begitu cepat. Gerakan kembali kemeja makan merupakan upaya bersama, untuk mengingatkan kembali para anggota keluarga seluruh Indonesia guna meluangkan waktu untuk berkumpul bersama sehingga terjalin komunikasi langsung tatap muka diantara anggota keluarga. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk menjaga nilai emosional, dan nilai karakter sesama keluarga. Peran ibu bisa mengingatkan, dan mengajak anggota keluarga untuk bisa makan bersama.

Kata “meja makan”  bukan berarti harus adanya meja makan, tapi lebih mengandung makna menggunakan kesempatan atau momentum makan untuk berkumpul. Hal ini dibenarkan Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN, Dr. dr. M.Yani, M.Kes, PKK, bahwa Indonesia sudah di era Revolusi Industri 4.0, era ini sangat rawan mempengaruhi nilai luhur yang ada dalam keluarga, khususnya kita sebagai masyarakat timur. Bila keluarga tidak siap, maka nilai-nilai positif dalam keluarga terancam luntur. Lebih lanjut menurut Deputi KSPK BKKBN ini, berkumpul bersama keluarga, diawali dengan beribadah bersama dan dilanjutkan dengan  makan malam bersama, bisa mencegah hal-hal buruk yang mengancam perkembangan anak-anak bangsa. Mempererat komunikasi diantara anggota keluarga akan mencegah terjeratnya anak-anak dari bahaya narkoba dan pergaulan bebas.

Ketiga, Selalu Pedomani Perilaku Hindari 4 Terlalu, 3 Jangan Serta 3 Terlambat.

Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala BKKBN, Dr. (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) dalam Webinar “The New Normal for Midwives, Women and Families” awal Juli 2020 lalu. Pada kesempatan ini, Beliau tidak henti-hentinya menyampaikan Jangan terlalu muda melahirkan. Disarankan perempuan melahirkan pada usia diatas 21 tahun, karena kalau melahirkan dibawah usia 21 tahun dikhawatirkan tim medis organ tubuh si calon ibu tadi belum terlalu matang dan siap untuk melahirkan. Akibatnya bisa terjadi pendarahan, keguguran, berat badan bayi lahir rendah, dan stunting hingga kematian ibu dan bayi.

Jangan terlalu tua melahirkan. Disarankan si ibu melahirkan dibawah usia 35 tahun. Karena kalau diatas 35 tahun, sudah daya tahan tubuh untuk hamil dan melahirkan dianggap mulai  mengalami penurunan. Sehingga akan berbahaya bagi keselamatan ibu dan bayi.

Jangan terlalu banyak melahirkan. Pada bagian ini, pemerintah menyarankan si ibu memiliki jumlah anak maksimal 2 orang anak saja. Para tim medis mengatakan, dua anak lebih sehat, sehingga kalau sehat, bisa mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan dalam keluarga. Jangan terlalu dekat jarak kelahiran. Maksudnya, si ibu diharapkan tidak melahirkan dengan rentang waktu dibawah 3 tahun dari waktu melahirkan sebelumnya.

Hal ini bertujuan agar memberikan waktu yang cukup untuk organ tubuh melakukan penyembuhan, maupun memberikan waktu yang cukup bagi bayi yang dilahirkan sebelumnya mendapatkan ASI ekslusif selama dua tahun, dan pengasuhan yang sempurna di 1000 hari pertama kehidupannya (9 bulan dalam masa kandungan hingga anak berusia 2 tahun setelah dilahirkan). Selanjutnya, Kepala BKKBN berpesan kepada ibu-ibu masa kini, agar jangan hamil kalau tidak terencana. Jangan terlantarkan kehamilan jangan bikin anak kalau hanya sia-sia. Artinya, tidak serius, tidak dirawat dan tidak diperhatikan masa depannya. Terlebih saat ini bahaya pandemi covid 19 masih menghantui kita bersama.

Disarankan agar lebih merencanakan kehamilan, tidak asal hamil. Tetap patuhi protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Terakhir, Kepala BKKBN juga mengamanatkan, dalam mencegah kematian ibu dan bayi, terlebih dimasa pandemi ini maka pedomanilah perilaku 3 terlambat, seperti : Jangan terlambat mengambil keputusan, sehingga terlambat untuk mendapat penanganan. Jangan terlambat sampai ke tempat rujukan untuk berobat karena kendala transportasi.

Jangan terlambat mendapat penanganan medis karena terbatasnya sarana dan sumber daya manusia. Dengan banyaknya peran yang dijalankan oleh ibu dalam upaya mewujudkan keluarga keren kekinian, maka sudah selayaknya kita ambil bagian bersama, membantu ibu dalam mewujudkan keluarga keren kekinian. Semoga ibu sehat selalu, kami bangga kepada ibu. Kami sayang ibu, doakan kami selalu ya bu, agar menjadi generasi keren yang membanggakan ibu.

- Advertisement -
- Advertisement -
Pilihan Editor
- Advertisement -
Related News
- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

two − 1 =