Milenial, Peristiwa Situjuah dan Jasa Besar Chatib Soelaiman

Milenial Peristiwa Situjuah dan Jasa Besar Chatib Soelaiman Ist: Chatib Soelaiman

Covesia.com - Tak banyak yang melek dengan perjuangan Chatib Soelaiman (CS), apalagi milenial sekarang. Tak juga bisa disalahkan, mengingat orang tua kita juga tidak memberikan bekal sejarah kepada anak-anaknya menjelang tidur.

Di 15 Januari 1949, dikenang sebagai peristiwa peringatan Situjuah, sudah yang ke-72 tahun peringatan ini diadakan di Limapuluh Kota (15/01/2021), salah satunya dengan memberikan penghargaan kepada 16 tokoh sipil dan militer yang dianggap berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, khususnya pada peristiwa Situjuah. Penghargaan yang diberikan masyarakat Situjuahbatua kepada 16 tokoh tersebut merupakan bentuk penghormatan atas pengorbanan jiwa dan raga, perjuangan tanpa pamrih, dan keberhasilan mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Kejadian demi kejadian yang mencekam dalam mempertahankan kemerdekaan menjadi catatan sejarah yang terus kian dikenang dalam meraih kemerdekaan bangsa Indonesia. Jasa, darah, dan semangat kobar mereka harus menjadi teladan bagi generasi sekarang dengan meneladani sikap dan keberanian mereka dalam melawan para penjajah. Disamping itu, pemerintah selaku stakeholders mesti mendampingi generasi milenial dengan menguak fakta-fakta sejarah perjuangan tokoh-tokoh di Sumatera Barat.

Sebagai generasi yang peduli sejarah, CS adalah pionir dalam membangkitkan semangat kepemudaan milenial. Biasanya, milenial terhempas dalam film barat (Spiderman, Batman, Ironman dan sebagainya) yang hanya khalayan ilusi semata. Film yang tidak pernah terjadi sama sekali di dunia bumi saat sekarang. Dari film itu, generasi milenial dinina-bobokkan oleh film yang tidak memiliki edukasi sejarah sama sekali. Mereka (film barat) hanya ‘menjual’ film untuk merusak akal sehat generasi milenial sekarang. Tujuannya  demi materi semata tanpa mementingkan nyata tidaknya rekaan film tersebut.

Selain itu, pemerintah sudah seharusnya membuat film-film sejarah dari setiap tokoh yang berjasa dalam mempertahankan kemerdekaan. Sehingga, para milenial melek terhadap sejarah bangsa-tokohnya dalam mengambil intisari nilai-nilai yang bisa dipetik. Kasian sekali milenial kita, hari-hari dihabiskan oleh smartphones yang tidak produktif. Disamping, rebahan dikamar, milenial sekarang juga memiliki nol pengetahuan dalam mengenal sejarah daerahnya berdiri.

Untuk itu, perlu kepedulian dan kepekaan dari pemerintah agar dapat ‘menyelamatkan’ milenial kita dari pencucian otak akibat tontonan barat yang hanya semu belaka, menuju film-film pencerdasan tentang bagaimana mengenali sejarah bangsanya, sejarah tokohnya, dan sejarah berdirinya bangsa Indonesia dari penjajahan.

Disamping Chatib Soelaiman dijadikan panutan, ada banyak tokoh dan pahlawan Sumatera Barat yang bisa dijadikan rujukan dalam melihat sejarah perjuangan masa lalu. Semisal, Buya Hamka, Agus Salim, Achmad Mochtar, Imam Bonjol, Muhammad Yamin, Muhammad Hatta, Muhammad Nasir, Bagindo Aziz Chan, Sutan Syahrir, Kaharudin, Adinegoro, A.A Navis, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan sederet pahlawan nasional lainnya yang bisa dijadikan film documenter bagi generasi milenial mendatang.

Nama Jalan

Munculnya wacana beberapa tahun akhir ini soal perubahan nama jalan Khatib Sulaiman menjadi Chatib Soelaiman harus betul-betul diperhatikan. Mengingat substansinya terhadap system terpadu Kementerian Perhubungan. Baik terdata secara administrasi, maupun tercatat dalam lembaran dokumen resmi Negara, dalam hal ini Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

Yang mana suatu saat akan dipermanenkan sehingga pemerintah (Pemprov Sumbar), pihak keluarga dan masyarakat benar-benar mengkaji kembali perubahan nama Khatib Sulaiman menjadi Chatib Soelaiman. Saya rasa sah-sah saja pergantian nama menjadi Chatib Soelaiman, selain menghargai bentuk kekayaan ejaan bahasa orang-orang tua kita dulu.

Selain itu, menjadi marwah tersendiri bagi keluarga CS dalam menetapkan nama orang tuanya yang telah berjasa besar bagi kemerdekaan bangsa Indonesia. Disisi lain, agar meng-edukasi milenial kita tidak terjangkit virus ‘alay’ yang pernah terjadi beberapa tahun terakhir.

Pahlawankan ke Pusat

Sebagai nama jalan sentral di pusat kota Padang, Ibukota Sumatera Barat. Nama Chatib Soelaiman telah berhasil memenuhi ruas-bahu jalan. Sekarang, tinggal bagaimana lagi Dinas Sosial, Pemprov Sumbar, masyarakat dan keluarga CS menggoalkan tujuan akhir dijadikannya Chatib Soelaiman sebagai pahlawan nasional. Pemprov saja bekerja tidak akan bisa, selain dukungan dan partisipasi dari seluruh elemen warga Sumatera Barat.

Sekarang, tugas Dinas Kebudayan adalah membikin seminar, peringatan atau apalah namanya, dalam konteks ‘kreatifitas’ agar pusat mulai melirik ke Sumbar bahwa Chatib Soelaiman memang pantas dan sudah seharusnya diusulkan menjadi pahlawan nasional. Yang terpenting, bagaimana sekarang, kerja bersama seluruh elemen masyarakat Sumbar untuk mendukung setiap program-program yang diadakan Dinas Kebudayaan, Dinas Sosial dan Pemprov Sumbar.

Partisipasi, dukungan, dan kepeduliaan menjadi kunci keberhasilan Pusat melirik Sumbar kedepan. Sehingga Pemerintah Pusat dan Jajaran, dalam hal ini, Presiden Jokowi betul-betul serius untuk memperhatikan keputusan dari Kementerian Sosial Republik Indonesia agar Presiden mau menanda-tangani Surat Keputusan (SK) pemberian pahlawan nasional kepada Chatib Soelaiman.

 

Berita Terkait

Baca Juga