Teologi Bencana Menurut al-Quran

Teologi Bencana Menurut alQuran Shofwan Karim, Dosen PPs UM Sumbar, Ketua PWM dan Ketua Umum YPKM.

Covesia.com - Abdul Mustaqim  (AM) menulis, “Teologi Bencana Perspektif Al-Qur’an”,  Nun, Vol 1, No. 1, 2015. Sangat penting dan sangat menarik kajian telisik al-Quran tetang teologi bencana ini.

Pertama, bencana banjir yang menimpa kaum Nabi Nuh (Q.S. al-Mukminun [23]: 27).  Kedua, bencana hujan batu seperti yang menimpa umat Nabi Luth. (Q.S. Al-A’râf [7]: 84). 

Ketiga, Bencana gempa bumi atau (al-zalzalah) ini pernah terjadi pada umat Nabi Musa (Q.S. (Q.S. al-A’râf [7]:155). Keempat, bencana angin topan yang menimpa orang kafir pada waktu perang Khandaq (Q.S. al- Ahzâb [33]:9).

Pendekatan tafsir maudhu’i atau tematik dalam penelitian AM difokuskan kepada Teologi.  Pada sebagian kalangan  bahkan ada juga kaum ulama masih merasa asing  dengn kata teologi (Theology) ilmu Ke-Tuhanan.

Oleh karena itu harus ditarik ke kata atau diksi awal. Terma yang sudah ada sejak kajian klasik, pertengahan dan era pra-modern pemikir Muslim menurut bidangnya. Kajian ini secara klasik disebut Ilmu Tauhid, Ilmu Kalam, Ilmu Akidah atau Ilmu Ushuluddin. Yakni, ilmu yang berbicara tentang sistem keyakinan Islam. Sayangnya, istilah teologi selama ini dipahami sangat teosentris.  

Artinya hanya mengkaji dan mendiskusikan sejumlah konsep-konsep untuk “mengurusi” Tuhan. Misalnya apakah kalâmullâh itu qadîm atau hadîts? Bagaimana sifat-sifat Tuhan, bagaimana keadilan Tuhan, bagaimana menilai orang lain kafir atau mukmin dan sebagainya. 

Sementara itu persoalan manusia dan lingkungan kurang dikaitkan. Bahkan kalau pun ada terasa agak kurang. 

Padahal al-Quran banyak menayangkan hal-hal itu. Baik simbolik, konseptual, tekstual, kontektual, filosofis dan historis.

Kembali ke teologi bencana. AM mengikhtisarkan 4 paradigma atau gugus pikir.

Pertama, teologi bencana adalah suatu konsep tentang bencana dengan berbagai kompleksitasnya yang didasarkan pada pandangan al-Qur’an. 

Menurut al-Qur’an terma bencana dapat terwakili dengan beberapa istilah, yaitu bala’ yang secara bahasa dapat berarti jelas, ujian, rusak. 

Bencana yang diungkapkan dengan terma bala’ mempunyai aksentuasi makna bahwa bencana itu merupakan bentuk ujian Tuhan yang sengaja diberikan Tuhan untuk menguji manusia, agar tampak jelas keimanan. 

Sebagai sering dikutip muballigh dalam potongan hadist, keimanan itu yazid wa yanqush (adakalanya bertambah, adakalanya berkurang).

Bencana yang disebut bala’ dapat berupa hal-hal yang menyenangkan, dapat pula hal-hal yang tidak menyenangkan. 

Kedua, bencana dengan terma mushîbah lebih merupakan segala sesuatu yang menimpa manusia yang umumnya berupa hal-hal yang tidak menyenangkan. 

Ketika terkait dangan hal-hal yang baik, maka al-Qur’an menisbatkannya kepada Allah. Sementara ketika musibah itu terkait dengan hal-hal yang menyengsarakan, al- Qur’an menyatakannya, bahwa hal itu akibat hal-hal lain, dan boleh jadi karena kesalahan manusia itu sendiri. 

Maka musibah itu sesungguhya bisa sebagai ujian, bisa pula sebagai teguran, bahkan juga bisa sebagai siksaan. 

Ketiga, bencana juga disebut dengan fitnah, maka kecenderungan maknanya adalah untuk menguji manusia. Bencana yang diungkapkan dengan terma fitnah lebih merupakan ujian untuk mengetahui kualitas seseorang. 

Maka menurut AM setelah meneliti ayat-ayat al-Quran yang relevan, secara ontologis (hakiki-wujudiah) al-Qur’an memandang bahwa bencana itu merupakan bagian dari sunnah kehidupan, yang memang telah menjadi “desain” Tuhan di al-Lauh Mahfudz. 

Bencana tidak mungkin terjadi kecuali atas izin Tuhan dan atas sepengetahuan-Nya. 

Akan tetapi hal ini tidak berarti lalu manusia hendak menyalahkan Tuhan, sebab terdapat berbagai penyebab terjadinya bencana alam antara lain, 

(1) sikap takdzîb (mendustakan) terhadap ayat-ayat Tuhan dan ajaran para rasul, 

(2) zhalim berbuat aniaya terhadap diri, tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya 

(3) israf (berlebihan-lebihan) dalam bermaksiat dan mengeksplotasi alam, 

(4) jahl (berlaku bodoh), yakni tahu kebenaran dan kebaikan tetapi dilanggar, dan 

(5) takabbur (sombong) dan kufur nikmat. 

Untuk itu, diperlukan kearifan dan berfikir menyauk lebih dalam ke lubuk hikmah setiap menghadapi bencana. Antara lain senantiasa, bersabar, optimis, tidak berputus asa dari rahmat Tuhan dan senantiasa bermuhasabah (introspeksi diri).  

Berbagai bencana yang menimpa manusia mengandung pesan moral antara lain sebagai tanda peringatan Tuhan. Tentu pula sebagai bahan evaluasi diri.

Lebih dari itu tanda kekuasaan-Nya dan teguran Tuhan buat manusia supaya kembali ke jalan yang benar. 

Selanjutnya, harus selalu waspada. Apalagi kalau menurut penelitian dan teori  bahwa semua bencana sudah dapat  diasumsikan dan diprediksi. Meski mungkin oleh sebagian pihak dianggap bersifat spekulatif tetapi tetap bukan khayalan kosong.  

Dan yang faktual akan diuji terus menerus sesuai gejala alam. Hal itu dalam tinjauan teologis, sebenarnya juga merupakan takdir dan mungkin sunnatullah. 

Wa Allahu a’lam. 

(*)

Berita Terkait

Baca Juga