BerandaOpiniSekarang Era Industry 4.0, Jangan Kebalik jadi Perilaku 0.4

Sekarang Era Industry 4.0, Jangan Kebalik jadi Perilaku 0.4

- Advertisement -

Oleh: Geovanne Farell , M.Pd.T (CEO Akatrust)

Covesia.com – Revolusi Industri ke Empat yang beberapa tahun belakang dikenal dengan istilah Industri 4.0 menjadi bahan persentasi oleh banyak orang, baik itu trainer, akademisi, praktisi, pejabat publik di berbagai instansi.

Pembahasanya melalui berbagai saluran komunikasi, baik online atau pun offline, baik di televisi, media cetak bahkan sampai ke sosial media.

Satu hal yang harus kita ingat adalah saat ini teknologi digital memegang peranan penting karena menjadi identitas bagi era industri 4.0. karena digitalisasi adalah kunci.

Pada Era ini, semua orang berusaha mendigitalisasi di berbagai lini proses, mulai dari digitalisasi dokumen sampai digitalisasi proses kerja mesin Industri, dan dengan menghadapi segala macam tantangan tentunya.

Tahun lalu, pandemi covid-19 datang menghampiri negeri ini, dan sekaligus menjadi agen perubahan, karena terbukti menjadi pelopor transformasi digital di Indonesia.

Covid-19 berhasil merubah kebiasaan ngantor tidak harus di kantor, merubah kebiasaan belajar tidak harus didalam kelas, memunculkan berbagai macam istilah, ada Work From Home, ada Learn From Home, dan lain sebagainya.

Pandemi menuntut pedagang konvensial untuk memanfaatkan layanan digital. Banyak gerai-gerai offline berskala nasional harus mengalah, bahkan media cetak semakin banyak beralih ke digital, namun tetap dengan konsep berlangganan.


Secara tidak langsung pandemi mengajak kita untuk “GoGreen”, dimana penggunaan kertas jauh lebih berkurang, karena terjadi perubahan yang biasanya semua dicetak baik itu buku, company profile, brosur, majalah, undangan telah beralih ke versi digital.

Orang – orang berpola fikir modern dan menghemat pemakaian kertas, sudah mulai meninggalkan kebiasaan penyebaran informasi melalui hard copy, mungkin saja mereka bukan pejabat publik, bukan akademisi atau lain sebagainya yang membawakan materi presentasi industri 4.0, tapi mereka adalah praktisi nyata di era 4.0 karena perilaku tidak kebalik menjadi 0.4.

Sebagaimana yang terjadi saat ini, jangankan gigitalisasi pola marketing untuk penyebaran informasi produk, budaya, potensi dan lain sebagainya yang diberikan secara gratis kepada penerima. Bisa melalui file PDF, video, animasi , website, atau pun melalui sosial media.

Bahkan gerai toko buku berskala nasional juga menjual buku dalam versi digital, dengan biaya produksi lebih murah tentunya. mereka tetap bisa mendistribusikan hasil karya dari penulisnya. Digitalisasi konten menjadikan lebih hemat secara biaya ( tidak perlu lagi biaya cetak ) , lebih cepat secara distribusi, lebih dinamis secara konten serta tetap reliable.

Dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat, kita juga mulai merasakan terjadinya percepatan transformasi digital. Semakin banyak anak muda yang menjadi konten kreator ,dalam hitungan menit setelah diposting pesan yang ingin disampaikan terdistribusi ke banyak orang se antero dunia. Informasi tersebar dengan cepat dan murah.

Semakin bertumbuhnya pedagang online baik melalui sosial media, market place atau pun website mereka sendiri, sehingga konsumen tidak lagi hanya berasal dari masyarakat sekitar.

Dalam hal pemerintahan dan pelayanan Publik, di kota padang sudah ada ETLE (Electronic Traffic Law Enforcement) atau yang kita kenal dengan Tilang Eletronik, sudah ada terpasang Peralatan Parkir Elektronik, di berbagai kota ada CCTV yang terkoneksi ke Command Center.

Dalam administrasi pemerintahan ada berbagai aplikasi yang sudah dimanfaatkan untuk memudahkan dan mempercepat pekerjaan yang merupakan bagian dari Program E-Government.

Tapi dilain sisi , disaat kondisi euphoria Digitalisasi Revolusi Industry 4.0 , ditengah kondisi bisnis dan ekonomi yang mengalami turbulensi luar biasa akibat pandemi, tiba-tiba pelaku usaha dikejutkan dengan adanya surat permintaan partisipasi dan kontribusi sponsor penerbitan buku profil dan potensi Sumatera Barat yang ditanda tangani kepala daerah.

Seolah menjadi sesuatu yang bertolak belakang , sebuah pilihan yang berat untuk ikut berkontribusi atau menghemat pengeluaran agar usaha bertahan dan karyawan tetap bisa makan.


Alangkah eloknya, transformasi digital yang sudah terlaksana melakukan E-Gov ini juga mereformasi tata cara teknis penyampaian informasi kepada Publik serta stakeholder baik informasi wisata, informasi bisnis atau pun informasi investasi.

Semua data terhimpun dalam wadah digital yang terintegrasi, sangat mudah untuk disebarkan, dinamis untuk perubahan, cepat dalam proses pembuatan serta murah dari sisi biaya produksi, karena tidak lagi memikirkan biaya cetak dan biaya distribusi.

Sehingga mempercepat terwujudnya Sumatera Barat Provinsi Madani, Unggul dan Berkelanjutan.

(*)

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
Pilihan Editor
- Advertisement -
- Advertisement -
Berita Terkait
Lainnya
- Advertisement -