BerandaOpiniPerang Siber di Indonesia

Perang Siber di Indonesia

- Advertisement -

Oleh : Sirajul Fuad Zis, M.I.Kom

Covesia.com – Siber merupakan ruang komunikasi dunia maya yang terhubung secara online. Sedangkan perang siber merupakan pertarungan non fisik antara netizen dalam suatu isu atau permasalahan di ruang online.

Perkembangan dunia digital yang pesat di Indonesia pada tahun 2021, tercatat Pengguna internet di Indonesia Ada 202,6 juta pengguna internet di Indonesia pada Januari 2021. Satu indvidu, bisa lebih dari satu perangkat untuk mengakses Internet.
Secara sadar, perang siber sudah berlangsung di Indonesia. Ditandai adanya serangan-serangan informasi dalam bentuk berita palsu yang menggiring opini untuk membuat masyarakat ketakutan atau cemas. Hal tersebut dilakukan oleh oknum, yang menginginkan suatu isu dapat tersebar luas di ranah publik digital. Ini yang kita maksud dengan perang siber di Indonesia, dengan melibatkan antara netizen.

Perang ini dapat saja terjadi, meskipun tidak saling mengenal. Isu-isu yang diangkat dalam perang siber di Indonesia yaitu terkait kebijakan pemerintah, kehidupan para artis, fenomena viral, permasalahan kesenjangan sosial dan saat ini yang sedang tren adalah perang isu kesehatan yang bisa menyeret netizen ke ranah hukum. Hati-hati jangan bercanda di ruang siber.

Sehingga terjadinya perubahan mendasar pada pola komunikasi, interaksi juga transaksi antara masyarakat digital, yang biasa kita kenal dengan netizen. Netizen merupakan sebuah istilah bagi pengguna internet yang aktif dan pasif bekomunikasi lewat dunia siber.

Perang siber biasanya terjadi di dalam kolom komentar sebuah berita, podcast, tayangan youtube, konten instagram, konten facebook, konten twitter dan semua hal yang bisa dibaca dan komen pada ruang siber. Biasanya perang siber akan merugikan salah satu pihak, di mana ada kebijakan tertentu dari aksi perang tersebut.

Sebagai salah satu contoh kecil, perang siber tentang konten Satpol PP Gowa yang diberhentikan dari jabatan karena memukul pasutri karena menertibkan protokol kesehatan. Perang siber mulai terjadi, disebabkan beredar video oknum tersebut terlihat jelas memukul pasutri. Karena peristiwa tersebut ramai dibincangkan publik siber, banyak komentar pendukung satpol PP dan juga banyak pendukung pasutri. Kasus tersebut, berujung pemberhentian satpol PP Gowa tersebut. Kebijikan tersebut ditindak oleh pihak yang berwenang.

Kasus tersebut adalah salah satu kasus di Indonesia, yang berpotensial dari perang siber dapat menghilangkan jabatan, reputasi personal dan jabatanya ditentukan oleh komentar penduduk siber. Pengambil kebijakan, tentu saja mempertimbangkan suara publik digital, jika tidak yang berwenang juga bisa di serang secara digital dalam kolom komentar. Dan dianggap tidak tegas dalam mengambil keputusan.

Perang siber juga terjadi disebabkan infromasi Hoax, berita yang mengandung informasi salah atau dalam bentuk berita palsu (fake news). Karena itu, dalam beberapa konteks, hoax dapat dipahami sebagai berita palsu (fake news) (Syahputra, 2019).
Dalam tulisan yang disampaikan pada saat pengukuhan Guru Besar Ilmu Komunikasi, Iswandi Syahputra menyampaikan bahwa di era kuasa media sosial saat ini, kebenaran informasi tidak lagi tergantung pada siapa yang mengatakannya, kebenaran informasi tidak tergantung pada apa isi pesannya, kebenaran informasi tidak ditentukan oleh khalayak penerimanya, tetapi kebenaran informasi ditentukan oleh jenis channel, media atau saluran penyebarannya.

Sehingga kebenaran bukan diterima karena benar, tetapi diproduksi oleh media sebagai channel
komunikasi. Siapa yang menguasai media, maka dia dapat menguasai kebenaran. Itu pula sebabnya Joseph Goebbels, ahli propaganda NAZI lebih memilih diberi satu media daripada satu
batalion pasukan untuk memenangkan peperangan (Shirer, 2010).

Sebab, dengan satu media dia dapat menciptakan kebenaran melalui pola, kebohongan yang disampaikan berulang-ulang melalui media dapat diterima menjadi kebenaran.

Maka dari itu, bagi masyarakat luas perlu adanya pemahaman dan etika tentang penggunaan perangkat digital. Agar tidak menimbulkan kekacauan di ranah siber, yang berdampak kepada konflik sesama secara nyata.

Pola komunikasi perjalanan hoax dalam konteks Indonesia, ini menunjukkan bahwa hoaks telah muncul menjadi wabah informasi pada era interaksi berbasis media sosial. Pola yang terjadi adalah munculnya hoax dari kalangan yang tidak dikenal, kemudian isu tersebut bertransformasi menjadi keresahan yang membuat masyarakat panik, dan dampak terakhir adalah konflik.

Agar perang siber tidak menyebarluas di Indonesia, Perlu dan pentingnya literasi digital secara terus menerus dan berjenjang, di dalam keluarga dan sekolah mengantisipasi hoax. Salah satu caranya adalah melakukan filter terhadap berita, memverivikasi kebenaran berita dari berbagai sumber dan tidak membagikan berita yang diduga bermuatan hoax.

Termasuk lewat Gerakan Literasi Digital #MakinCakapDigital yang kita lakukan saat ini.

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -
Pilihan Editor
- Advertisement -
- Advertisement -
Berita Terkait
Lainnya
- Advertisement -