Kasus KDRT dan Pentingnya Kemampuan Komunikasi Interpersonal

Kasus KDRT dan Pentingnya Kemampuan Komunikasi Interpersonal Ilustrasi (Foto: Pixabay)

Covesia.com - Semakin kompleksnya permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat membuat tingkat kekerasan juga mengalami peningkatan. Berdasarkan Catatan Tahunan Komnas Perempuan setidaknya ada 338.496 kasus kekerasan berbasis gender terjadi di tahun 2021.

Ranah kekerasan tertinggi yang diadukan ke Komnas Perempuan terjadi di ranah personal yakni 2.527 kasus, yang mana kekerasan terhadap istri sebanyak paling banyak dengan 771 kasus, terhadap anak dan perempuan 212 kasus.

Dari sekian banyak jenis kasus kekerasan, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) selalu menjadi perhatian banyak pihak. KDRT tak hanya memberikan luka fisik pada korbannya tapi juga psikis dan mental. 

KDRT biasanya terjadi disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari kecemburuan, perselingkuhan, faktor ekonomi, juga campur tangan pihak ketiga.

Kemudian, berdasarkan catatan Tahunan Nurani Perempuan yang disampaikan oleh Direktur WCC Nurani Perempuan, Rahmi Meri Yenti, tindak kekerasan yang terjadi di Sumbar cukup tinggi.

Bahkan untuk KDRT dari tahun 2017 hingga 2021 terjadi sebanyak 252 kasus. Dengan rincian 2017 sebanyak 48 kasus, 2018 78 kasus, 2019 sebanyak 47 kasus tahun 2020 32 kasus dan di 2021 47 kasus.

252 kasus itu adalah data dari mereka yang berani melapor, tentunya ada yang tidak berani lapor jika mendapat kekerasan dalam rumah tangga. Maka tak ayal aknga KDRT cukup tinggi.

Korban KDRT yang tidak melapor didasari berbagai alasan, seperti takut merusak kehidupan berumah tangga, takut diceraikan suami, takut anak-anak terlantar, pilihan pribadi menyembunyikan, takut dengan ancaman pelaku KDRT, tidak percaya kepada pihak berwenang, dan masih banyak alasan lainnya. 

Sebenarnya, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan peraturan bahwa pelaku KDRT bisa ditahan sebagaimana diatur pada pasal 44 ayat (1) UU No.23 tahun 2004 yang menjelaskan bahwa setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam ruang lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud pasal 5 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak RP 15.000.000 (lima belas juta rupiah).

Salah satu cara untuk meminimalisir Kasus KDRT adalah dengan menjaga komunikasi yang baik di dalam rumah tangga. Baik antara suami istri, juga antara orangtua dan anak. Di dalam ilmu komunikasi kemampuan berkomunikasi yang baik di dalam keluarga dinamakan dengan komunikasi interpersonal atau komunikasi antarpribadi.

Benar jika komunikasi bukan solusi dari setiap permasalahan, namun komunikasi dapat mengantisipasi terjadinya kesalahpahaman juga miskomunikasi.

Untuk diketahui, ada tiga alasan kenapa manusia berkomunikasi, pertama untuk mengontrol lingkungan, kedua untuk dapat beradaptasi dengan lingkungannya, dan yang ketiga adalah untuk melakukan transformasi warisan sosialisasi. 

Kemudian, Alo Liliweri dalam bukunya mengatakan ada tujuan dan fungi dari komunikasi. Devito, 2011 dalam (liliweri, 2017) menyebutkan lima tujuan berkomunikasi yakni, mempengaruhi orang lain, membangun atau mempertahankan hubungan antarpersonal, memperoleh berbagai pengetahuan, membantu orang lain dan bermain bersama orang lain.

Kemudian dari komunikasi orang mengharapkan dapat berkenalan, mengekspresikan emosi kepada orang lain, mendapatkan berbagi informasi, membujuk orang lain untuk memahami pandangan pribadi, serta membangun hubungan.

Dalam komunikasi juga penting adanya sopan santun antarpersonal hal itu bertujuan untuk menghindari konflik, memastikan interaksi yang kooperatif, mengelola kesan, membangun kekuatan, memastikan kepatuhan, menunjukkan rasa hormat, dan bersikap baik.

Kemudian, komunikasi anterpersonal mengisyaratkan empat tujuan komunikasi. Pertama saya ingin dimengerti orang lain, kedua saya dapat mengerti orang lain, ketiga, saya ingin diterima orang lain, dan keempat kita bersama dapat melakukan sesuatu. 

Adapun tujuan komunikasi anterpersonal sebagai kebutuhan dijelaskan dalam teori hierarki kebutuhan dari abraham maslow. Maslow membagi kebutuhan manusia pada lima tahapan yakni, pemenuhan kebutuhan biologis dan fisiologis, perasaan aman dan perlindungan, kasih sayang dan perasaan memiliki, kebutuhan dihormati dan aktualisasi diri.

Dengan memahami komunikasi interpersonal, mereka yang berumah tangga akan saling mengerti dan memahami satu sa lain, sehingga kasus KDRT bisa diminimalisir. Dewasa ini kita lihat komunikasi egektif antarpersonal semakin berkurang, karena tidak memahami berujung pada salah faham dan pihak yang tidak sabar malah melakukan kekerasan.

Pencegahan KDRT dengan komunikasi antarpersonal bisa dilakukan sedini mungkin. Hal itu dimulai dari dalam keluarga selain mengamalkan ajaran agama juga penting dilakukan pengembangan komunikasi timbal balik baik antar suami istri, orang tua dan anak. 

Orangtua hendaknya mendidik anak sedari kecil bahwa jangan berlaku kasar, jika marah, jangan memukul atau menyakiti orang lain, dididik agar tidak menggunakan kata yang kasar, beri contoh yang baik, dan tanamkan sedini mungkin jika ada permasalahan hendaknya dikomunikasikan. 

Penulis: Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Unand

Baca Juga