Bahasa Cinta Versus Bahasa Kebencian Beserta Dampaknya Terhadap Tumbuh Kembang Anak

Bahasa Cinta Versus Bahasa Kebencian Beserta Dampaknya Terhadap Tumbuh Kembang Anak Shilva Lioni

Oleh : Shilva Lioni (Dosen Jurusan Sastra Inggris Universitas Andalas)

Covesia.com - Belakangan ini, kita sering kali mendengar istilah "bahasa atau ujaran kebencian" setelah banyak kasus dan peristiwa hadir menyoroti hal tersebut. Bahasa atau ujaran kebencian ialah sebuah ujaran yang dihasilkan seseorang di mana dalam ujaran tersebut terdapat sebuah daya yang dapat memengaruhi seorang pendengar. Melalui ujaran tersebut seorang pendengar dapat membenci dan melalui ujaran tersebut juga dapat timbul seseorang yang kemudian menjadi korban kebencian dibalik ujaran yang dihasilkan. 

Kasus ujaran kebencian pada umumnya kerap kali melibatkan hubungan antar manusia dewasa, lantas bagaimana jika kemudian hal ini hadir dalam komunikasi antar orang tua dan anaknya? Apa efek yang dihasilkannya? Hal inilah yang akan kita soroti lebih lanjut.

Bahasa cinta pada anak

Anak merupakan anugerah langsung dari Tuhan yang Maha Esa yang diberikan kepada orang tua. Tumbuh kembang seorang anak salah satunya, yakni perkembangan bahasanya sangatlah bergantung pada didikan yang diterimanya dari lingkungan sekitarnya terutama dari kedua orang tuanya. Dalam kajian linguistik kognitif disebutkan bahwasanya setiap anak memiliki fakultas bahasa di dalam dirinya dan untuk mengaktifkan fakultas bahasa tersebut diperlukan input yang diterima oleh seorang anak. Semakin banyak input yang diterima, maka akan semakin cepat fakultas bahasa tersebut aktif dan bekerja. Lalu pertanyaannya input seperti apa yang dibutuhkan? Apakah sebuah teriakan, makian, cacian atau hinaan sebagai luapan emosi kemarahan? Tentu jawabannya tidak.

Dalam sebuah teori pengajaran bahasa yang diungkap oleh seorang psikiatris dari Bulgaria bernama Georgi Lozanov disebutkan bahwasanya sangat penting untuk menciptakan sebuah kenyamanan dalam sebuah proses pengajaran dan penyerapan bahasa. Hal ini diungkap lebih lanjut dalam metode pembelajaran yang dikenalkannya sebagai “desuggestopedia”. Beliau lebih lanjut menyebutkan bahwasanya dengan menciptakan lingkungan dan atmosfer yang nyaman, maka segala kecemasan, stres, dan penolakan dari psikologis akan tereduksi sehingga setiap orang dapat menikmati setiap proses pengajaran yang ada dengan kemampuan penyerapan yang lebih optimal dibandingkan ketika dia stres atau merasa tertekan. 

Lantas apa arti sebuah kenyamanan? Setiap orang tentu memiliki definisi yang berbeda untuk sebuah kata “nyaman” termasuk anak-anak. Dalam penelitian yang saya lakukan (Lioni, 2022) terhadap tumbuh kembang bahasa anak, dapat saya simpulkan bahwa “nyaman” bagi seorang anak yaitu ketika dia merasa dicintai dan mencintai. Oleh karenanya sangat penting bagi orang tua untuk dapat mengekspresikan dan mengeluarkan seluruh cinta yang dimilikinya kepada sang anak baik itu melalui bahasa maupun sikapnya. Bahasa yang penuh kelembutan dan penuh cinta tidak hanya akan membuat seorang anak merasa nyaman berada didekat orang tuanya namun juga aman dan percaya diri. Ketika seorang anak merasa dirinya dicintai, maka dia akan belajar untuk mencintai karena ini adalah dua hal yang saling terkait erat antar satu sama lainnya. Dengan mencintai kita, dia secara tidak langsung akan belajar menuruti dan belajar mengikuti kita. Menatap kedua mata kita dan berinteraksi dengan kita. Seorang anak akan berusaha menyerap setiap informasi yang kita sampaikan sehinnga input bahasanya pun akan bertambah dengan sendirinya. 

Sementara itu, bertolak belakang dengan hal ini, bahasa dengan penuh kebencian seperti teriakan, cacian, dan sebagainya, hanya akan menciptakan tekanan dan ketakutan bagi seorang anak. Dengan banyaknya tekanan dan ketakutan, kemampuannya dan daya serapnya akan terhambat dan tidak keluar optimal. Bagaimana bisa lantas kemudian kita mengharapkan anak mengerti apa yang kita katakan, mau berbicara dengan kita, dan bahkan lebih lanjut mau berinteraksi dengan kita sementara kita sendiri membuatnya membenci kita, tidak mau menatap mata kita, merasa tertekan, dan tidak bisa mengeksplorasi kemampuannya dengan baik?

Kehadiran bahasa cinta pada dasarnya sangatlah penting dalam membangun proses tumbuh kembang anak terutama bahasanya. Tidak hanya sebagai fondasi dasar baginya untuk belajar mencintai dan mengeluarkan seluruh potensi kemampuan yang dimilikinya namun kehadirannya juga dapat menjadi contoh kelak baginya untuk mengekspresikan cintanya. 

(*)

Baca Juga