Penampilan Tari Anak Balam Bakal Meriahkan Finish TDS Etape VIII di Pessel

Penampilan Tari Anak Balam Bakal Meriahkan Finish TDS Etape VIII di Pessel TdS 2019

Covesia.com - Salah satu tari ritual  tradisional anak balam yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar) bakal ditampilkan untuk memeriahkan balapan Tour de Singkarak (TdS) 2019 etape VIII pada November 2019 mendatang.

Diketahui TDS etape VIII dilaksanakan pada 9 November 2019 dari Kota Sungai Penuh, Jambi dan finish di Painan.

Selain menjadi lokasi finish pada TdS 2019, Kabupaten Pesisir Selatan juga menjadi lokasi star etape IX dari daerah setempat ke Kota Padang yang akan dilaksanakan pada 10 November 2019.

"Tari anak balam akan ditampilkan pada finish balapan untuk memberi hiburan,"ungkap Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Pesisir Selatan, Hadi Susilo pada Covesia.com Selasa (15/10/2019)

Ia menambahkan, tari anak balam nantinya, akan ditampilkan oleh salah satu sanggar yang ada di daerah tersebut.

"Selain tari anak balam, saat finish juga akan diperagaakan beberapa musik tradisional dan alat-alat tradisional khas dari Kabupaten Pesisir Selatan,"sebut Hadi

Hadi menerangkan, tari anak balam adalah sebuah seni tradisional yang digunakan untuk ritual pengobatan.

Dimana, ritual pengobatan dengan cara menari itu, digunakan untuk menyembuhkan orang yang sedang kesurupan.

"Tari anak balam sangat mistis, dimana tari akan diiringi dengan syaiir (mantra) dan musik dilakukan secara bersamaan,"terangnya

Diterangkannya lagi, nama Anak Balam berasal dari nama burung Perkutut yang familiar disebut dengan nama burung Balam oleh warga setempat, karena anak burung tersebut selalu dua, maka pada ritual yang sebenarnya jumlah penari juga berjumlah genap.

Mereka akan menari mengikuti irama yang dihasilkan rabab atau biola yang merupakan alat musik gesek tradisional yang dimainkan pada kesempatan itu, sambil melafaskan syair secara berirama.

Pada waktu tertentu disaat para penari asik memainkan perannya, tiga orang diantara mereka akan pingsan atau tidak sadarkan diri, sementara satunya lagi kesurupan dan bertindak sebagai dukun yang akan mengobati teman-temannya.

"Saat ini, ritual tari anak balam, sangat sulit dietemukan di Pessel. Sekarang hanya ada di dua Kecamatan saja. Seperti, di Kecamatan Sutera dan Lengayang,"ujarnya Hadi

Lanjutnya, diketahui ritual atau tari anak balam ini terdaftar pada Direktorat Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2019 nomor registrasi 201900834.

"Ternyata ritual ini terdaftar pada Direktorat Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2019. Artinya, ritual ini memang ada dan menjadi salah satu ciri khas miliknya Pessel,"tutupnya.

Kontributor Pessel: Indra Yen

(utr)

Berita Terkait

Baca Juga