Kemenpar: Tour de Singkarak Harus Berdampak Kepada Masyarakat Luas

Kemenpar Tour de Singkarak Harus Berdampak Kepada Masyarakat Luas (tourdesingkarak.com)

Covesia.com - Staf Ahli Kementrian Pariwisata RI Bidang  Multikultural sekaligus Ketua pelaksana CEO Calender Of Event 2018, Esthy Reko Astuti menegaskan, kalau iven sport tourism Tour de Singkarak yang tahun ini masuk penyelenggaraan yang ke-11, harus berdampak secara ekonomi terhadap masyarakat luas.

Sejak tahun pertama penyelenggaraan kata Esthy, mulai dari proses persiapan hingga tahapan penyelenggaraan terus berkembang dan semakin matang. Maka dari itu, apa yang sudah dicapai patut didukung dan dipertahankan.

“TdS ini cukup lama. Dulu diadakan pasca bencana (gempa 2009) untuk memulihkan kondisi. Tahun ini berbeda, berkembang menjadi Sembilan etape. Ada Dua Provinsi yang ikut (Sumbar dan Jambi). Etapenya lebih panjang dan juga hadiahnya cukup besar. Dampaknya tidak saja untuk promosi wisata, namun juga berdampak kepada masyarakat,” kata Esthy Reko Astuti dalam pidato sambutannya saat Grand Opening TdS di Kawasan Pantai Gondoriah, Kota Pariaman, Jumat malam (1/11/2019).

Menurut Esthy Reko Astuti, penyelenggaraan iven sport tourism Tour de Singkarak, tidak hanya terus berkembang dan berdampak terhadap kemajuan pariwisata Sumbar. Namun juga sudah menjadi pionirnya Tour de yang ada di Indonesia. Salah satunya yakni Tour de Ijen di Banyuwangi.

“TdS sudah berkembang. Banyuwangi itu belajar dari TdS. TdS pionirnya Tour de. Tour de Ijen tingkatnya sudah exelent. TdS sejak awal sudah masuk kalender of event. Perlu dipertahankan mulai dari teknis maupun penyelenggaraan. Harus kita dukung kegiatan ini supaa bisa berdampak ke masyarakat. Bukan hanya saja infrastruktur,” ujar Esthy Reko Astuti.

Terpisah, Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit menyebutka kalau, iven Tour de Singkarak, telah membuat Ranah Minang tidak saja dikenal ditingkat Nasional, namun juga mancanegara karena sudah masuk pada agenda tahunan UCI.

Model penyelenggaraan seperti Tour de Singkarak ini, memberikan estafet pemahaman bagaimana sebuah iven tersebut dikelola dengan berorientasi kepada kenyamanan pengunjung sebagai upaya pencitraan sebuah destinasi wisata. 

“TdS taun ini akan dilaksanakan dengan Sembilan etape dengan melewati berbagai macam daya tarik wisata. Jambi tahun ini masuk (ikut serta). Dan ini yang pertama, etape Delapan ada di Kerinci. Ada tawaran dari provinsi lain. Mungkin tahun mendatang bisa saja kita melintasi wilayah Sumatera. Tapi ikonnya tetap TdS,” kata Nasrul Abit.

Menurut Nasrul Abit, selain hadiahnya tahun ini cukup besar yakni Rp 2.3 miliar, jarak tempuh lintasan juga cukup lanjang. Jarak yag terpanjang yakni dari Sungai Penuh ke Kota Painan. Lebih dari 200 kilometer. Jalan di Kawasan Mandeh juga merupakan rute baru dan baru akan di lewati oleh pembalap.

“Saya ucapkan semua pihak yang telah membantun iven ini. Ada beberapa yang tidak ikut (kabupaten). Tapi, mudah-mudahan tahun mendatang ikut. Selain itu, harapan kami, setiap lokasi star dan finish, harus ada manfaat untuk masyarakat sekitar. Ada bazar dan pameran. Sehingga, pengunjung tidak hanya menonton saja, tapi ada transaksi jual beli,” tutup Nasrul Abit.

Diketahui, Sebanyak 108 Pembalap dari 25 Negara yang tergabung di 20 tim, siap beradu strategi, ketangkasan dan kecepatan di iven Sport Tourism Tour de Singkarak 2019 yang akan dihelat pada 2 hingga 10 November 2019 mendatang. Seluruh pembalap bakal menjajal rute yang memiliki panjang 1362 kilometer yang dibagi dalam Sembilan etape.

(ril)

Berita Terkait

Baca Juga