Last Sunday Ride 2019, Kampanye Bersepeda yang Nyaman di Kota Padang

Last Sunday Ride 2019 Kampanye Bersepeda yang Nyaman di Kota Padang Kampanye bersepeda yang nyaman di kota Padang bersama sejumlah komunitas pesepeda di Sumbar, Minggu (29/12/2019)(Foto: covesia/ Fakhruddin)

Covesia.com - Dalam rangka mengampanyekan budaya bersepeda yang aman, berbagai komunitas pesepeda di Sumbar menggelar kegiatan Last Sunday Ride di Kota Padang, Minggu (29/12/2019). Acara tersebut diikuti oleh 230-an pesepeda dari berbagai komunitas pesepeda dari berbagai macam lintas profesi di daerah itu.

"Pokoknya, banyaklah. Pesertanya ada yang dari anak SMP, anak SMA, pegawai kantoran, dan ibu rumah tangga. Selain dari Padang, pesertanya juga ada yang berasal dari Bukittinggi dan Payakumbuh," ujar Miya Maharani (39) selaku Ketua Pelaksana saat diwawancarai Covesia.com.

Dia menjelaskan bahwa acara ini rutin diadakan setiap tahun di berbagai daerah di Indonesia sejak tahun 2010. "Tapi, di Padang, ini baru yang pertama kali," ujarnya. 

Dia mengatakan bahwa, selain di Padang, pada tahun ini, kegiatan Last Sunday Rider juga diadakan di Jakarta, Bogor, Bandung, Magelang, Demak, Medan, Palembang, Makasar, Banjarmasin, dan sebagainya. Total, acara ini diadakan serentak di sekitar 20 kota di Indonesia. 

"Ini sebenarnya gerakan nasional tentang bersepeda yang aman dan berbagi jalan dengan pengguna jalan yang lain," ujar Miya.

Di Padang sendiri, kegiatan Last Sunday Ride mengambil lokasi start dan finish di depan Kafe Batigo Kopi di Jalan Ahmad Dahlan. Para peserta akan menempuh jalan sejauh 29 kilometer berkeliling Kota Padang. Para pesepeda dilepas oleh Kepala Dinas Perdagangan Kota Padang Endrizal. 

Miya menjelaskan bahwa acara ini juga mengampanyekan agar menggunakan plastik seminimal mungkin. Para peserta diminta agar membawa botol minuman dari rumah. Tujuannya agar peserta tidak membeli air kemasan mineral di luar. "Jadi gowes asyik tanpa plastik," ujarnya. 

Selain bersepeda, pada acara ini, juga dilakukan ramah tamah antar komunitas pesepeda yang ada di Sumbar. "Kita ingin teman-teman berkenalan antara satu dengan yang lainnya," ujar Miya. 

Dia juga menjelaskan bahwa saat ini kegemaran masyarakat dalam bersepeda semakin meningkat. Sayangnya, di Kota Padang, Pemerintah Kota Padang belum memenuhi hak-hak bagi para pesepeda. Di kota ini belum ada jalur khusus bagi para pesepeda. 

Dia mengatakan, di jalan sekitar GOR Agus Salim Padang, memang ada jalur khusus buat para pesepeda. Namun sayangnya jalur tersebut malah digunakan sebagai tempat parkir dan tempat pedagang berjualan. 

"Insyaallah, ke depannya, kita ingin beraudiensi dengan Pemerintah Kota Padang supaya mulai mengadakan jalur sepeda. Mudah-mudahan di tahun 2020 jalur tersebut sudah ada," kata Miya.

Dia juga berharap agar pemerintah daerah agar menyediakan gerbong khusus di kereta api bagi pesepeda untuk mengangkut sepeda di kereta api. Hal ini bertujuan untuk memudahkan para pekerja antar kota yang berangkat kerja dengan sepeda. Di Sumbar, hal tersebut belum ada. "Tapi, di daerah-daerah lain itu sudah ada, seperti di Jakarta," ujar Korwil Komunitas Bike to Work Kota Padang tersebut. 

"Harapannya budaya bersepeda ini bisa menjadi budaya yang kita terapkan di Padang khususnya dan Sumbar umumnya" katanya pula. 

Miya mengatakan bahwa kegiatan bersepeda mampu mengurangi kemacetan di jalan-jalan kota. 

Agung, salah seorang peserta pada acara ini, mengatakan bahwa dia ingin mengikuti acara ini agar bisa berkenalan dan bersilaturahmi dengan para pesepeda dari berbagai komunitas di Sumbar. Dia juga ingin mengampanyekan kegiatan bersepeda melalui acara ini. Katanya, bersepeda mampu menyehatkan badan dan membantu mengurangi polusi udara. 

Endrizal selaku Kepala Dinas Perdagangan Kota Padang yang juga melepas para peserta di lokasi start sangat mengapresiasi acara ini. "Iven ini mensosialisasikan aspek lingkungan, mengatasi polusi dan menjaga kesehatan. Tentunya kegiatan ini bermanfaat untuk jangka panjang," jelasnya. 

Mengenai jalur untuk pesepeda, Endrizal menyebut sangat mendukung hal tersebut. "Saya setuju, tapi perlu kajian mendalam dan lokasi yang tepat," tutupnya.

Kontributor: Fakhruddin Arrazzi

Berita Terkait

Baca Juga

`