Sekilas Tentang Jam Gadang dan Perawatannya yang Ekstra Hati-hati

Sekilas Tentang Jam Gadang dan Perawatannya yang Ekstra Hatihati Foto: Debi Kurni/covesia

Covesia.com - Jam Gadang yang terletak di jantung kota Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar) menjadi salah satu peninggalan sejarah yang kini menjadi objek wisata dan selalu ramai dikunjungi wisatawan.

Arsitektur Jam Gadang dibangun oleh dua orang putra Minangkabau dan mengalami tiga kali perubahan atap di mana bentuk atap pertama pada masa Belanda berbentuk Ayam, zaman Jepang dirubah menjadi kelenteng dan pada saat Indonesia merdeka dirubah lambang gonjong rumah gadang. 

Seluruh bangunan Jam Gadang terbuat dari putih telur tanpa adanya unsur semen dan kerangka besi dan dibangun pada tahun 1925 dengan tiga tingkat.

Pada tahun 1926 bangunan dilanjutkan kembali dengan 6 tingkat dan pada ujung bangunan baru di letakan jam dengan ketinggian 26 meter. 

Semua mesin penghidup Jam Gadang berasal dari Jerman termasuk lemari pelindung mesin yang terbuat dari kayu jati pada zaman Belanda, serta kaca Jam dilapisi kaca dengan ketebalan 5 centi meter dan semuanya itu hingga kini dirawat apik oleh petugas.


"Jam Gadang merupakan jam terbesar  kedua di dunia selain jam Bigben yang memiliki mesin yang sama dan yang membedakan hanya ketinggiannya saja," ungkap salah seorang petugas Jam Gadang Fauzi Azim, Rabu (11/7/2018).

Adapun keunikan pada Jam Gadang yakni angka pada jarum jam empat yang tertulis tidak dengan angka romawi.

"Angka itu berkaitan dengan sejarah romawi pada saat itu dan hingga kini tidak pernah dirubah," ucapnya.  

Meski demikian, ujarnya, Jam Gadang tetap menjadi bangunan tua dengan sejarah serta memiliki larangan. 

"Bagi perempuan yang sedang datang bulan (haid) dilarang naik ke puncak Jam, begitu juga dengan laki-laki, jika laki-laki itu minum minuman yang beralkohol juga di larang keras naik,  karena jika dipaksakan akan berakibat buruk bagi mereka," jelasnya.

Sementara itu, untuk perawatan mesin Jam Gadang, Fauzi setiap sekali 10 hari mesin diberi minyak oli wede dengan cara diteteskan agar mesin tetap berjalan dan sekali 4 bulan dilakukan servis ekstra ke tiap bagian mesin. 

"Dan membersihkannya pun harus hati-hati agar tidak tersenggol bagian mesin yang sangat sensitif, apalagi mesin sudah lama jadi harus ekstra hati-hati," tuturnya.

Menurutnya, pada tahun 2016 lalu, Jam Gadang pernah mati karena mesinnya tersenggol petugas saat membersihkan dan kejadian itu sempat menimbulkan kehebohan di tengah masyarakat.

"Jadi benda yang satu ini harus dijaga dan dilestarikan karena memiliki sejarah dan nilai yang tinggi, " tutupnya.

(deb/lif) 


Berita Terkait

Baca Juga