Perjuangan Nelayan Kabupaten Agam Mencari Ikan Di Cuaca Buruk

Perjuangan Nelayan Kabupaten Agam Mencari Ikan Di Cuaca Buruk Nelayan di Kabupaten Agam. (Foto: Johan/ Covesia)

Covesia.com – Walau badai menghadang, demi tanggung jawab terhadap keluarga, apapun akan dilakukan, agaknya ungkapan inilah yang tepat disematkan kepada para nelayan di Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, (Sumbar). Curah hujan tinggi disertai angin kencang yang melanda Sumatera Barat beberapa pekan terakhir tidak menyurutkan niat para pencari ikan di pesisir Agam itu untuk melaut.

Hal itu juga dirasakan Arman, (50), Salah seorang nelayan di Pasia Tiku, Kecamatan Tanjung Mutiara, risiko melaut sangat tinggi beberapa pekan terakhir namun bersama para pencari ikan lainnya ia tetap memutuskan untuk mencari rezeki yang diletakkan Tuhan di tengah lautan.

Sesuai iklim di daerah tropis Indonesia, pada bulan-bulan tertentu curah hujan akan tinggi, namun apa daya meski marabahaya menunggu di perairan samudera, asap di dapur harus tetap mengepul. Berbekal kapal berukuran sedang dan sejumlah pancing Arman siap mengadu nasib di perairan. 

Setiap akan melaut bapak 4 anak itu selalu memeriksa kondisi mesin dan kapal yang akan digunakan. Tidak lupa pula ia melihat keadaan alam sekitar, apakah akan tetap cerah atau berpotensi terjadi hujan badai.

Meski demikian tak jarang pula, saat akan berangkat cuaca terlihat cerah hembusan angin laut yang stabil dan gelombang yang mulanya tidak terlalu besar namun saat ketika kapal sudah berlayar kondisi alam berubah.

“Semuanya kita serahkan kepada Allah, manusia cuma bisa memperkirakan," ujarnya kepada Covesia.com, Selasa (16/10/2018).

Menjadi nelayan tidaklah mudah, banyak yang harus diketahui sedikit banyaknya manusia pencari ikan harus mengetahui ilmu perbintangan, membaca kondisi angin, perjalanan bulan serta gerakan awan.

Sebelum berangkat biasanya para nelayan akan ke tepi pantai untuk melihat arah angin ketinggian gelombang dan agresif gerakan awan. Jika akan terjadi badai, biasanya awan akan bergerak agresif atau jika cerah hembusan angin tidak stabil dan gunung Pasaman akan diselimuti awan tebal jika dilihat dari bibir pantai.

Nelayan kecil di kecamatan Tanjung Mutiara biasanya mulai menuju laut saat sore, selesai shalat Asar mereka mulai mempersiapkan bahan bakar dan bekal serta bergotong royong menggeser perahu dari bibir pantai ke perairan. Mereka mencari ikan tidak terlalu jauh ke tengah, lebih kurang sejarak 5 hingga 15 mil dari daratan.

Saat memancing pun, para nelayan harus tetap waspada melihat kondisi sekitar, jika angin berhembus kencang dan gelombang mulai tinggi, mesin kapal pun akan dihidupkan dan memutar kemudi untuk ke Pulau Tangah dan Pulau Ujuang, (dua pulau yang berada tidak jauh pantai Tiku Tanjung Mutiara,) untuk berlindung.

“Menangkap ikan pun bisa memakan waku berhari-hari tergantung cuaca, saat kondisi baik, 3 hari melaut sudah bisa membawa ikan pulang. Namun jika kondisi buruk seperti saat ini, kami bisa menghabiskan waktu satu minggu di perairan bahkan tak jarang  pulang dengan tangan hampa," lanjut Arman.

Kondisi cuaca juga sangat berpengaruh pada harga jual di pasaran. Jika cuaca buruk hasil tangkapan akan sedikit.

Para tengkulak akan meningkatkan harga jual ikan. Sedikitnya ikan yang di dapat membuat para pedagang harus membeli mencari tambahan ikan ke nelayan di luar daerah seperti Padang, Sumatera Utara dan Aceh.

"Rezki sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Kita hanya menjalaninya," tutupnya.

(han/utr)

( )

Berita Terkait

Baca Juga