Mengenal Mak Muih, Pengolah Kopi Legendaris di Agam

Mengenal Mak Muih Pengolah Kopi Legendaris di Agam Mak Muih ditemani sang Istri saat berpose di dekat Sepeda tuanya yang sering ia pakai untuk menjajakan Kopi olahannya kepada pelanggan di daerah Lubuk Basung, Kabupaten Agam (Foto: Johan Utoyo)

Covesia.com - Sruuuut. Aah.. kok beda,? ini bukan kopi Mak Muih ya,? ungkapan itu acapkali terlontar saat lidah para penikmat kopi yang biasa mencicipi bubuk hitam nikmat buatan Abdul Muis St Pamenan.

Bagi masyarakat Agam khususnya di kecamatan Lubuk Basung sekitarnya, kopi Mak Muih sebutan akrab kopi olahan Abdul Muis, St Pamenan yang sudah puluhan tahun memanjakan lidah masyarakat, jadi jika pemilik warung tidak menyajikan seduan kopi hitam olahannya, akan cepat dikenalinya para pelanggan.

Beralamat di Batu Ponjong, nagari Persiapan Sangkir, kecamatan Lubuk Basung, Mak Muih sudah puluhan tahun berprofesi sebagai produsen kopi, meskipun usianya sudah 78 tahun, Mak Muih tetap cekatan mengolah biji kopi menjadi serbuk hitam.

Saat ditemui dirumahnya, Jum'at (28/12/2018) kemarin, terlihat Mak Muih baru selesai membungkus kopi pesanan para pemilik warung di daerah sekitar, semenjak tahun 2002 ia memang  sudah berhenti menjajakan dagangannya, meski demikian para penikmat yang tidak hentinya memesan, membuatnya tetap semangat merendang dan memproduksi bubuk kopi.

"Dulu bersama sepeda ini saya masuk kampung keluar kampung menjajakan dagangan, sekarang sudah tua jadi tidak sanggup lagi," ujarnya sambil menunjuk sepeda ontel tua yang tersandar di salah satu sisi rumah.

Didampingi sang istri, Farida Syarif Ibrahim (64), Mak Muih memulai cerita, ilmu mengolah kopi itu didapatnya dari almarhum sang ayah, saat itu mereka masih tinggal di Sungai Penuh, jambi. Semasa mudanya ditahun 1969 ia sudah cekatan membantu ayahnya mengolah biji kopi sehingga sudah terampil membedakan mana biji kopi berkwalitas dan cara menyangrai dan mengolahnya hingga siap jual.

" Waktu muda dulu saya  selalu membantu bapak membuat kopi, ia mengajarkan cara mengolah kopi yang benar, baik memilih biji kopi yang bagus, menyangrai serta menggilingnya hingga berbentuk serbuk," terang Mak Muih.

Namun setelah meninggalnya sang ayah Hasan Basri pada tahun 1978, bersama keluarga besar ia memutuskan untuk pulang ke kampung halaman.

Sesampainya dirumah, Mak Muih tidak langsung melanjutkan usaha keluarga tersebut, 4 tahun pertama di kampung halaman ia bekerja sebagai tukang iriak padi ( sebutan untuk petani upah untuk merontokkan gabah), " waktu itu pekerjaan mairiak masih menggunakan kaki, jadi setelah mesin perontok gabah datang para tukang iriak sudah tidak laku lagi," terangnya.

Sulitnya ekonomi dimasa itu membuatnya berfikir untuk memulai kembali  usaha yang sudah digelutinya saat muda, ia mulai membeli biji kopi ke petani daerah sekitar bahkan sampai ke daerah siguhung  dan Maninjau di kecamatan Tanjung Raya. Berlangganan dengan salah seorang tengkulak buah kopi pada saat itu membuatnya tidak terlalu sulit untuk memperoleh biji hasil panen para petani setempat. 

"Dulu saya beli biji kopi ke haji anas di Diguhung, kemudian mengolahnya dirumah hingga siap untuk dijual, "lanjutnya.

Bermodalkan 1 buah kaleng berukuran cukup besar, diikatkan di tempat duduk di bagian belakang sepeda bapak 4 anak itu mengayuh menjajakan dagangannya ke masyarakat setempat.

Saat ini harga kopi ukuran besar dengan berat 1,5 ons dijual dengan harga Rp9 ribu, sedangkan ukuran kecil dijual Mak muih Rp1.700, pada ukuran ini kopi dikemas dalam bentuk rentengan dengan jumlah 10 bungkus, dan biasanya dijual eceran kembali oleh para pemilik warung.  

"Dulunya anak saya pernah memberi merk pada bungkus kopi, merknya BP Jaya, katanya agar bisa lebih dikenali pelanggan," tuturnya.

Ia mengaku tidak ada resep khusus untuk produk buatannya, hanya biji kopi murni yang di olah secara tradisional, semenjak memulai usaha hingga sekarang, ia tidak pernah berfikir mencampurkan produk olahanya dengan bahan lain. 

"Sekarang kan banyak yang di campur, ada pakai jagung, ada pakai coklat, tapi saya tetap konsisten dengan bubuk kopi murni, takut mengecewakan pelanggan," tutur Mak Muih lagi.

Ia mengaku tidak terlalu berkeinginan untuk mengembangkan usaha tersebut, baginya bisa mencukupi ke utuhan keluarga dan menyekolahkan semua anak itu sudah lebih dari cukup. 

"Sekarang anak-anak sudah besar dan berkeluarga, mereka juga  sudah memiliki usaha sendiri, jadi kami hanya memproduksi sesuai pesanan pelanggan saja, dan mereka akan menjemputnya kerumah," ulas Mak Muih.

Dari 4 orang anaknya belum ada yang berkeinginan untuk melanjutkan usaha tersebut, mereka memilih jalur usaha baru yang jauh berbeda dari keterampilan yang didapat dari sang ayah. Semua anaknya memilih untuk membuka usaha Loteng Gypsum.

"Dulunya Zulisman Salah satu anak saya sempat membantu untuk melanjutkan usaha keluarga tersebut namun tidak lagi, ia lebih tertarik membuka toko menjual dan menerima jasa pemasangan loteng gypsum," ungkapnya.

Meski demikian, seluruh anak Mak Muih sudah memiliki keterampilan dalam mengolah kopi, dan mereka tidak akan canggung jika ingin meneruskan usah keluarga tersebut.

"Ini ilmu warisan keluarga, meski tidak menjadi pembuat kopi mereka harus memahami cara mengolahnya, dan nantinya bisa juga diajarkan ke anak cucu," tutup Mak Muih.

(han/don)



( )

Berita Terkait

Baca Juga