Nyala Mimpi dan Hidayah di Balik Jeruji Besi

Nyala Mimpi dan Hidayah di Balik Jeruji Besi Zainal (41), warga Sicincin, Payakumbuh Timur yang saat ini mendekam di bilik Lapas Payakumbuh (Foto: Covesia/ Angga)

Covesia.com - Tiada yang tidak mungkin. Jika Allah SWT berkehendak, hidup seseorang bisa berubah total. Kun Fayakun, maka terjadilah apa yang dikehendaki. Miliaran manusia di Bumi ini, tatanan kehidupannya bisa dirubah sekejap mata. 

Tak tertampik seperti yang dialami oleh Zainal (41), warga Sicincin, Payakumbuh Timur yang saat ini mendekam di bilik Lapas Payakumbuh.

Pertengahan tahun 2017 silam, Zainal harus menjadi salah satu penghuni lapas Payakumbuh selama dua tahun akibat sebuah kejadian di Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Limapuluh Kota. Namun, siapa sangka selama di Lapas ia mendapatkan Hidayah dan merubah total hidupnya dari kegelapan dunia ke arah terangnya iman.

Kala itu, Zainal mengacuhkan adzan Subuh yang menggelegar dibalik kabut dingin di sepanjang jalan raya Pekanbaru – Pangkalan. Mobil L-300 yang dikendarainya dipacu sampai 120 km/jam. Misinya, bisa 2,5 jam tiba di Kota Payakumbuh dari Kota Pekanbaru. Naas, dijalan antara Pasar Pangkalan dengan Manggilang yang notabene beraspal mulus dan lurus meningkatkan adrenaline Zainal memacu mobil kesayangannya. Ditambah lagi tidak ada kendaraan lain dijalan ini.

Namun siapa sangka dalam kecepatan penuh ini muncul sepeda motor dari gang. Zainal pun kaget dan mencoba untuk memindahkan kakinya dari pedal gas ke pedal rem. Malang tak bisa ditolak, mujur tak bisa diraih. Usaha Zainal sia-sia dan tabrakan pun terjadi. Mobil L-300 miliknya menjadi saksi bisu bahwa Zainal telah menghilangkan nyawa seseorang. Lansia yang baru saja keluar dari mesjid dan hendak pulang itu meninggal dunia ditempat setelah terpental sejak 15 meter.

Zainal panik melihat apa yang terjadi. Sedangkan warga mulai berdatangan karena dentuman keras tabrakan ini. Tak ada yang bisa dilakukan Zainal selain menyerahkan diri ke Polsek Pangkalan yang tak jauh dari lokasi. Di hari itulah pengalaman pertamanya mendekam dibalik jeruji besi sebelum divonis 2 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Tanjung Pati.

“Saya masuk (dipenjara-red) ini karena kecelakaan. Orang yang saya tabrak itu meninggal dunia. Dan akhirnya saya mendapatkan label Narapidana. Kejadian itu pertengahan tahun 2017 di dekat Polsek Pangkalan,” kata Zainal ketika diwawancarai Covesia.com, Rabu (27/03/2019).

Divonis selama 2 tahun awalnya dirasa cukup berat dan lama karena ia menghilangkan nyawa seseorang karena tidak sengaja. Tapi sekarang ia malah bersyukur karena setahun belakangan ini Allah SWT menyentuh hatinya untuk berbenah dan mensucikan dirinya dari dosa.

“Keluarga bapak itu (korban-red) tidak mau damai dan akhirnya saya dapat 2 tahun. Beda dengan kasus Laka Lantas lain yang dapat surat damai dari pihak keluarga. Bisa lebih ringan. Seperti kejadian mobil sayur yang menabrak orang di Pangkalan tahun 2018 kemarin, itu hanya 5 bulan dan sekarang sudah bebas. Sopirnya satu kamar dengan saya. Tapi sekarang itulah hikmahnya dan membuat saya bersyukur. Dari bilik lapas Payakumbuh ini saya bisa hijrah dan jadi orang baik. Jika hanya divonis 5 bulan, belum tentu saya bisa seperti ini,” katanya.

Diakuinya bapak dua anak ini, saat itu hidupnya jauh dari perbuatan yang dikehendaki Allah SWT. Niat untuk berubah ada. Namun terkendala dengan lingkungan dan kehidupan. Hidup keras sebagai pedagang beras antar kota dan lingkungan para sopir membuat hatinya keras.

“Saya kerjanya ngampas bawa beras ke Pekanbaru, Dumai dan Pangkalan Kerinci. Jadi tahu sendiri bagaimana kerasnya jalanan lintas sumatera itu khan. Padahal niat untuk berubah ada dan ingin jadi orang sholeh. Tapi terkendala lingkungan. Sekarang Alhamdulillah diberi kemudahan oleh Allah SWT didalam lapas ini,” ungkapnya.

Awal hati itu tersentuh saat ada program pengentasan buta huruf hijaiyah bagi seluruh Napi di Lapas Payakumbuh. Seluruh napi diajarkan menghafal dan membaca Al-Qur’an. Termasuk penyempurnaan cara dan bacaan shalat. Zainal yang awalnya malas mengikuti program ini mau tak mau harus ikut. Jika tidak, ia tidak bisa keluar dari bilik selama sebulan. Paksaan inilah yang menjadi awal mendapat hidayah.

Perlahan Zainal menikmati program ini dan mulai menghayati pengajian dan pelajaran yang diberikan. Dirinya semakin betah berada di dalam mushalla Lapas. Al-Qur’an yang dulu tabu baginya sekarang begitu dekat dan akrab. Bahkan tiga juzz ayat-ayat suci Al-Qur’an sudah didalam kepala.

“Sekarang yang ngajarin ngaji kawan-kawan di Lapas itu saya. Padahal awalnya saya malas betul ikut program rohani. Alhamdulillah ada paksaan waktu itu dan jadinya bisa jadi pendakwah kayak gini,” ucapnya sembari tertawa.

Dua bulan lagi Zainal akan bebas. Dengan modal pengajian yang didapat didalam lapas, ia merasa siap untuk memulai hidup baru di tengah keluarga dan masyarakat. Hati dulu yang keras dan kini telah lunak itu akan dijadikan pondasi sebagai seorang muslim yang taat. Rencananya, ia akan menjadi pendakwah dimesjid-mesjid.

“Keluar nanti saya mau dakwah. Nanti hidup dari mesjid ke mesjid saja lagi. Hablum minallah, Hablum minannas. Nanti soal rejeki, Allah SWT yang ngatur. Perkuat iman, jadi orang sholeh, Allah SWT akan bantu kita di dunia dan Akhirat,” jelas Zainal.

Sementara itu Kepala Lapas Kelas II Payakumbuh, Era Wiharto mengatakan sejak tahun 2018, ada program pembelajaran dan pengajian yang rutin dilakukan oleh pegawai dan staff Lapas kelas II Payakumbuh. Tenaga pengajarnya dari internal pegawai lapas maupun mendatangkan ulama dari luar. Program ini difokuskan untuk merubah mental dan akhlak para napi yang dulu berinteraksi dengan kegelapan dunia ke arah yang lebih baik.

“Jadi setiap hari ada program mengaji dan ada juga kelas untuk belajar disini. Jadi para napi selain dibina secara keterampilan, dibina juga secara rohani. Agar selama didalam Lapas bisa menjadi orang yang lebih baik. Dosa dan kesalahan masa lalu bisa ditinggalkan saat kelar nanti,” ucap Era.

Bagi Era, sosok Zainal cukup dikenal sebagai orang yang taat beribadah setelah adanya program pengentasan buta huruf hijaiyah. Ia perubah total dari orang yang malas beribadah, sekarang menjadi penceramah dan guru bagi rekan-rekan napi yang lain.

“Dia orangnya baik, taat beribadah dan pintar. Bahkan mushalla didalam ini dia yang dipercaya menjadi penanggung jawab. Jauh kali dia berubah sejak ikut program mengaji,” ujarnya.


Hajrafiv Satya Nugraha

Hajrafiv Satya Nugraha ( Jurnalis )

Berita Terkait

Baca Juga