Damurti, Rendang Jamur Tiram Alternatif Kuliner Khas Sumbar

Damurti Rendang Jamur Tiram Alternatif Kuliner Khas Sumbar (Ist)

Covesia.com - Damurti, itu lah nama dari rendang jamur tiram yang bakal menjadi kuliner khas alternatif asal Sumatera Barat.

Diketahui, rendang kuliner asli Indonesia asal Sumbar ini mulai dikenal dunia sejak CNN Go's menobatkan masakan Minangkabau ini sebagai makanan terenak nomor 1 dunia pada September 2011, sejak saat itu rendang mulai di kagumi.

Merujuk dari situ, masyarakat dan pemerintah terus berinovasi bagaimana rendang terus mendunia, salah satunya dengan mengolah jamur tiram sebagai pengganti daging bahan dari rendang.

Melalui PT.PNM Cabang Padang dengan melibatkan kelompok bisnis UlaMM syariah STBA, LBBY, BDBT & PDPR berupaya bagaimana rendang jamur tiram ini memiliki pangsa pasar tersendiri.

"Saat ini sudah ada sekitar 360 UMKM naik kelas bersama PNM melalui skema pinjaman syariah yang dijalankan UlaMM di berbagai kecamatan di kota Padang dalam memasarkan produk. Besar harapan dengan rendang jamur tiram ini proses naik kelas bisa terwujud," ujar Kepala PNM Padang, Mery dalam membuka seminar Program Pengembangan Kapasitas Usaha di Padang, Jumat (16/8/2019).

Sementara, seminar yang turut dihadiri Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian kota Padang mengingatkan bagaimana UMKM terus berupaya meningkatkan mutu dari produk mereka.

"Mutu produk priorita utama agar mampu bersaing di pasaran, terus segmen pasarnya gimana, agar setiap produk yang diluncurkan menempatkan pasar bagi pembeli," kata Nurmansyah Hidayat perwakilan Disnaker dan Perindutrian kota Padang.

Hal serupa juga disampiakan, Erwin dari Kepala bagian kerjasama Pemko Padang.

"Era kekinian mesti ada di ranah produk unggulan, dalam hal kemasan yang menarik mata calon pembeli. Banyak produk kita yang bagus cita rasanya, namun kita kalah dalam pengemasan produk dari pesaing kita, sehingga tidak dilirik capon pembeli, bisa jadi saat ini era cashing. Selain itu services mesti selalu ditingkatkan, mesti berubah sistem old dengan yang tidak services apa adanya hingga tidak menjadikan konsumen setia pada produk kita," kata Erwin.

Sedangkan Rustam Efendi seorang busines coach dan owner Lapau Pak Tani pencetus randang jamur tiram (Damurti) mengatakan, "Dalam berusaha mesti di awali dengan value filosofis kenapa kita bergerak pada komoditi tersebut hinga kita olah jadi produk, seperti jamur tiram ini, ada value lingkungan, pangan, teknologi sederhana dan kesehatan."

"Pada tahapan marketing kita mesti jelas dulu segmentasi pasarnya siapa?, dan seberapa banyak pasar yang akan kita rebut serta ke-khas-an yang dimiliki. Karena kita hadir guna mempermudah urusan konsumen mendapatkan solusi atas masalahnya, jadi pada prinsipnya kita memproduksi produk guna menyelesaikan masalah konsumen karena ini memiliki norma spritual dengan istilah, 'mudahkanlah urusan orang lain, urusan mu Allah yang memudahkannya," teran Rustam.

Rustam menjelaskan, tantangan saat ini adalah konsistensi UMKM dalam hal menjaga kualitas, kuantitas dan ke-khas-an karena banyak pengalaman kontrak putus di tengah jalan, hal ini juga disebabkan pelaku UMKM lupa menghitung detail HPP dan menetapkan harga jual hinga bukan untung yang di dapat namun modal lenyap.

Oleh sebab itu pintu gerbang penguatan UMKM dimulai dari peningkatan pemahaman UMKM atas manajemen keuangan dan kelembagaan UMKM, hal ini disebabkan setiap usaha ingin maju dan bukan hanya sekali produksi saja.

"Sebaiknya UMKM ini berujung pada satu koperasi produsen agar adanya satu harga dan kualitas dan menjadi satu kekuatan roh kebersamaan, bukan dibiarkan berkompetisi secara individual. Apabila ekonomi rakyat mandiri, maka ekonomi negara menjadi kuat," pungkasnya.

(dnq)

Berita Terkait

Baca Juga