Tetap Keren Meskipun Menyimpan Misteri, Ini 7 Mitos Tempat Wisata di Dieng

Tetap Keren Meskipun Menyimpan Misteri Ini 7 Mitos Tempat Wisata di Dieng Matahari terbenam dari kawasan tinggi Dieng. Sumber: pixabay/masfajar

Covesia.com - Nama Dieng konon berasal dari bahasa kawi yang berarti pegunungan tempat para dewa bersemayam. Sampai saat ini, beberapa tempat di Dataran Tinggi Dieng memang masih dikeramatkan karena dianggap sakral dan bertuah.

Tidak heran jika review lengkap Dieng biasanya juga terkait dengan seputar mitos yang berkembang di sana. Apa saja mitos yang menyelimuti tempat-tempat wisata di Dieng? Berikut informasinya:

1. Anak Berambut Gimbal Titipan Kyai Kala Dete

Mitos rambut gimbal ini konon berasal dari Kyai Kala Dete dan Nini Roro Rence, istrinya yang didaulat sebagai utusan Mataram untuk menaklukan wilayah Dieng. Atas kesaktian Kyai Kala Dete dan bantuan dari Kanjeng Ratu Kidul, wilayah Dieng takluk dengan ditandai munculnya anak berambut gimbal sebagai parameter kesejahteraan masyarakatnya. Semakin banyak anak-anak yang berambut gimbal, semakin sejahtera pula masyarakat Dieng.

Rambut gimbal yang muncul tidak bisa sembarangan dipotong, harus dilakukan ritual khusus terlebih dahulu yang dikenal dengan Ruwatan Rambut Gimbal. Setelah dipotong, rambut kemudian akan dilarung di Telaga Warna yang nantinya akan mengalir ke Pantai Selatan. 

2. Kisah Tragis di Kawah Sikidang

Objek wisata Kawah Sikidang termasuk salah satu tempat favorit para wisatawan. Pada saat ke tempat ini, jangan lupa untuk memakai masker karena udara di lokasi tersebut memiliki bau belerang yang cukup kuat.

Mitos yang ada di kawah ini memiliki cerita yang cukup tragis. Kisah ini bermula pada saat gadis cantik bernama Shinta Dewi meminta Pangeran Kidang Garungan untuk membuatkannya sumur. Kidang Garungan merupakan seorang pangeran, tetapi memiliki kepala layaknya kidang (kijang).

Pada saat sumur hampir selesai, Shinta Dewi bersama para penduduk desa menimbun sumur yang sedang dibuat, dengan pangeran yang masih berada di dalamnya. Terkubur hidup-hidup, sang pangeran kemudian murka dan amarahnya tersebut yang kemudian membentuk Danau Sikidang.

Baca Juga Suhu Minus 7 Derajat Celcius di Dieng

3. Carica Bisa Berubah Jadi Pepaya

Mitosnya, carica yang ditanam di luar kawasan Dataran Tinggi Dieng nantinya hanya akan tumbuh menjadi pepaya biasa. Oleh karena itu, carica tidak bisa ditanam di daerah lain.

Carica atau biasa juga disebut sebagai pepaya gunung memang masih berkerabat dekat dengan tanaman pepaya. Carica harus di tanam di ketinggian 1.500 hingga 3.000 meter di atas permukaan laut. Untuk hal ini, Dieng memang cocok dijadikan sebagai tempat budidaya buah carica.

4. Telaga Warna yang Punya Banyak Legenda

Menurut para ahli, letusan gunung purba yang terjadi beratus juta tahun silam yang membentuk Telaga Warna. Karena keindahannya, Telaga Warna telah menjadi salah satu destinasi wisata paling diminati masyarakat. Kamu bisa melihat review lengkap Dieng pada link ShopBack berikut ini.

Meskipun indah, ada mitos yang mengatakan bahwa Telaga Warna merupakan kolam untuk para bidadari yang akan mandi. Sedangkan mitos lainnya menceritakan jika dulu, ada sebuah cincin milik orang sakti yang jatuh ke telaga tersebut. Ajaibnya, air di telaga kemudian dapat berubah-ubah warna.

Baca JugaMelihat Keindahan Sunrise di Dataran Tinggi Dieng

5. Kawah Candradimuka, Tempat "Digodoknya" Gatotkaca

Tidak jauh dari Kawah Sikidang, terdapat Kawah Candradimuka yang merupakan kawah vulkanik dengan kandungan belerang tinggi serta memiliki suhu yang tinggi pula. Wisatawan yang berkunjung ke tempat ini diharapkan agar berhati-hati karena medannya cukup terjal dan memiliki tingkat kemiringan hingga 45 derajat.

Objek wisata ini diberi nama sesuai dengan nama kawah terkenal yang ada di dalam cerita pewayangan Jawa. Kawah Candradimuka konon merupakan tempat Jabang Tetuka digodok menjadi seorang kesatria. Keluar dari kawah, dia kemudian menjadi kesatria gagah berani, berotot kawat, bertulang besi, dan kemudian diberi nama Gatotkaca.

6. Gua Semar untuk Sang Penerima Wahyu

Dari berbagai tempat yang disakralkan di sekitar Dataran Tinggi Dieng, Pertapaan Mandalasari yang terletak di antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon merupakan salah satunya. Di lokasi ini, total ada 5 tempat yang biasa dikunjungi para peziarah, salah satunya adalah Gua Semar.

Menjadi gua yang paling banyak dikunjungi, para peziarah percaya jika bermeditasi di tempat ini maka akan mendapatkan wahyu kasampurnaning jati sebagai ilmu untuk membedakan yang baik dan buruk.

Legenda mengatakan, wahyu tersebut turun di Mandalasari atau tempat yang paling tinggi di kahyangan dan didapatkan oleh Batara Ismaya yang kemudian turun ke dunia menjadi Semar Badranaya.

7. Desa Sembungan, Tempat Matahari Pagi Mulai Menyapa

Di Dataran Tinggi Dieng, terdapat sebuah desa yang diklaim sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa. Desa Sembungan namanya dan memang berada di ketinggian sekitar 2.306 mdpl. 

Akses ke desa ini sudah cukup bagus dan hanya memakan waktu sekitar 15 menit saja dari Dieng. Atraksi utama yang ditawarkan di desa ini adalah pemandangan matahari terbit yang sangat indah.

Baca JugaMenikmati Pesona Wisata Romantis Gereja Ayam Bukit Rhema

Nama Sembungan sendiri, menurut kepercayaan masyarakat sekitar didapat dari nama Joko Sembung atau Kyai Adam Sari yang merupakan saudara dari Sunan Kalijaga. Sambil melakukan syiar agama, sang kyai juga ikut andil dalam membangun perkampungan dan kehidupan sosial masyarakat di dalamnya.

Sudah tidak sabar untuk segera berlibur ke Dataran Tinggi Dieng? Pesan tiket perjalanan segera dan cek juga promo cashback dari ShopBack untuk diskon spesial liburan Anda.

(rdk)

Berita Terkait

Baca Juga