Tak Melulu Mandi di Sungai, Masyarakat Kampung Pinang Agam Sambut Ramadan dengan ”Balimau” di Masjid

Covesia.com – Datangnya bulan Ramadan, tentunya menjadi kebahagiaan tersendiri, bagi masyarakat muslim. Di berbagai daerah, Ramadan disambut dengan sejumlah kegiatan. Kegiatan-kegiatan ini menjadi tradisi turun temurun yang masih dilakukan hingga saat ini.

Walaupun berbeda-beda tradisi menyambut bulan Ramadan di Indonesia ini memiliki semangat yang sama yaitunya mensucikan diri, saling bermaafan dan menjalin silaturahim.

Salah satu tradisi yang masih dilakukan sejumlah masyarakat muslim di Sumatera Barat, khususnya di Kabupaten Agam adalah tradisi “Balimau.” Terlepas dari ketentuan yang tidak diajarkan secara hukum Islam, nyatanya tradisi ini masih terus dilakukan oleh sebagian umat muslim di Sumbar.

Namun, balimau ternyata tidak melulu identik dengan mandi-mandi bersama di sungai atau lokasi pemandian.

Masyarakat di Kampung Pinang, Kecamatan Lubuk Basung, Agam misalnya, menggelar tradisi balimau dengan kegiatan yang cukup meriah dan dipusatkan di salah satu Masjid utama di daerah itu.

Hidangan dengan jamba (nampan) dalam kegiaran “balimau” di Kampung Pinang

Masyarakat setempat melaksanakan kegiatan balimau dengan menjalin silaturahim di Masjid Raya Kampung Pinang, dilanjutkan dengan doa dan makan bersama.

Ketua pelaksana Kegiatan Balimau Nagari Kampuang Pinang, Z Dt Nan Labiah mengatakan, tradisi unik menjelang puasa ini sudah lama hilang di Nagari setempat, namun atas kesepakatan bersama, kegiatan ini kembali dimunculkan.

“Dahulunya Nenek moyang di Kampung Pinang ini, menjelang Ramadhan selalu melakukan kegiatan balimau yaitunya bersilaturahmi, berdoa makan bersama di mesjid, namun seiring berjalannya waktu tradisi tersebut mulai hilang, maka dari itu, tanggung jawab kita bersama agar kebiasaan baik ini kembali terlaksana hingga masa yang akan datang,” ujarnya kepada Covesia.com Minggu (11/4/2021).

Dalam prosesnya, seluruh masyarakat baik dari niniak mamak, pemerintah nagari, alim ulama dan tokoh masyarakat berkumpul bersama di Masjid, tidak lupa kaum ibu membawa hidangan dengan jamba (nampan), dan berjalan bersama-sama menuju lokasi kegiatan.

Sesampainya di masjid, seluruh hidangan disajikan. Kemudian, acara dimulai dengan ceramah agama, berdoa, saling bermaaf-maafan dan barulah makan bersama.

“Biasanya kegiatan ini dilaksanakan 2 atau 3 hari sebelum Ramadan, ceramah agama, berdoa, saling bermaaf-maafan dan barulah makan bersama,” katanya.

Kegiatan makan bersama dalam kegiaran “balimau” di Kampung Pinang

Dijelaskan Z Dt Nan Labiah, banyak nilai luhur yang terkandung dalam kegiatan tersebut. Dalam ajaran agama, sebelum memasuki bulan Ramadan, sesama muslim diwajibkan untuk mensucikan diri dan hati yaitunya dengan saling bermaaf-maafan, baik sesama keluarga atau tetangga.

Selain itu, jika disandingkan dengan filosofi “Adat Basandi Sarak-Sarak Basandi Kitabullah,” tentunya kewajiban tersebut sudah sesuai tradisi adat yang dilaksanakan.

“Kedepannya, acara ini akan kita agendakan ini sebagai kegiatan rutin tahunan di Nagari Kampuang Pinang,” terangnya.

Selain itu, mengingat masa pandemi Covid-19, kegiatan balimau tahun ini dilaksanakan sesuai protokol kesehatan seperti, pemeriksaan suhu tubuh, menjaga jarak, serta menggunkan masker dan mencuci tangan.

“Mencegah penularan Covid-19 tentunya sangat penting untuk saat ini, kita mengimbu masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan,” tutupnya.

(jhn/rdk)

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password