Bagi Pecinta Batu Akik, Jangan Ketinggalan Cempaka Madu Asal Nias

Nias – Sungai Mida, Desa Laihua Alasa Talumuzoi, Nias Utara, atau disebut denganMida Islandmenyimpan kekayaan batu keras yang kini diburu orang untuk dibuat batu akik.

Dahulu hanya satu dua orang yang menekuni profesi pengrajin batu, namun kini mulai bermunculan pengrajin di Nias, salah satunya Daliatule, di Jalan Supomo, Kecamatan Gunung Sitoli, Desa Mudik, Kota Nias, Sumatera Utara.

Kekayaan Sungai Mida itu kini bisa dilihat dari koleksi pria yang akrab dipanggil Laoli ini dengan berbagai jenis batu dan motif, dengan harga mulai dari dua ratus ribu rupiah hingga puluhan juta yang jika dirupiahkan mencapai ratusan juta rupiah.

Jenis batunya antara lain cempaka madu seharga Rp3 juta, biduri bulan Rp1 juta, limau manis bermotif naga Rp2 juta, panca warna Rp750 ribu, biduri bulan bermotif Yesus Rp50 juta.

Untuk mengumpulkan koleksi tersebut memerlukan ketekunan dan waktu yang lama. Laoli sendiri menekuni batu sejak kelas 4 SD, hingga pada tahun 1982 ia benar-benar serius untuk berbisnis batu akik.

Peralatan yang dipakai pun saat ini lebih modern, yakni dengan gerinda listrik, hanya dengan satu tangan, karena tangan kirinya tidak berfungsi akibat tertimpa tembok saat gempa Nias tahun 2005, Laoli dapat menghasilkan lima batu dalam sehari.

Laoli menceritakan tahapan-tahapan pembuatan batu akik mulai dari pemilihan batu, kemudian diasah dengan batu gerinda duduk, hingga terbentuklah pola dan motif.

Setelah itu batu diasah kembali dengan batu asah dan diamplas dengan amplas khusus batu. Tahapan terakhir untuk membuat batu tersebut mengkilat batu kemudian digosok menggunakan bambu lemang. Jadilah batu akik yang siap diikat menjadi cincin. (ant/lif)

0 Comments

Leave a Comment

fifteen − 6 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password