Divonis 3 Tahun Penjara, Meris Menyatakan Pikir-Pikir

Jakarta – Presiden Direktur PT Kaltim Pama Industri, Artha Meris Simbolon, divonis 3 tahun penjara oleh Majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

Meris dianggap terbukti menyuap mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini.

“Menimbang dan mengadili kepada terdakwa Artha Meris Simbolon dengan pidana hukuman tiga tahun penjara.

Dikurangkan dari masa hukuman seluruhnya,” sebut Ketua Majelis Hakim, Saiful Anwar saat membaca amar putusan.

Majelis hakim itu juga mengganjar Meris dengan denda Rp 100 juta, bila uang tersebut tak dibayar bisa diganti dengan kurungan selama tiga bulan.

Hakim menilai Meris terbukti telah menyuap Rudi Rubiandini dengan 522.500 dolar AS melalui pelatih golf Rudi yang bernama Deviardi alias Ardi.

Uang tersebut dimaksudkan agar Rudi berkenan menerbitkan rekomendasi penurunan formulasi harga gas yang diteruskan kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral saat itu, Jero Wacik.

Pertimbangan yang memberatkan Meris karena yang bersangkutan tidak mendukung pemberantasan korupsi di Indonesia dan tidak mengakui perbuatannya.

Sedangkan hal yang meringankan penjatuhan hukuman itu adalah yang bersangkutan belum pernah dihukum dan sopan selama persidangan.

Hakim Syaiful menyatakan perbuatan Meris terbukti dalam dakwaan alternatif pertama. Yakni Pasal 5 ayat 1 huruf a Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat 1 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana.

Menanggapi vonis itu, kubu Meris menyatakan masih berpikir-pikir untuk mengajukan banding. Vonis tersebut lebih rendah dari tuntutan JPU yang mengusulkan agar Meris dipidana penjara selama 4,5 tahun.

“Kami masih pikir-pikir,” ujar Pengacara Artha Meris, Otto Hasibuan.

Menurutnya, pengajuan banding atau tidak akan disampaikan dalam rentang waktu 7 hari pembacaan vonis. Hal ini sesuai dengan ketentuan dalam KUHAP.

Otto mengaku kecewa karena putusan majelis hakim tidak mempertimbangkan fakta persidangan.

Apalagi, hakim hanya mengutip berdasarkan keterangan saksi Deviardi alias Ardi yang merupakan pelatih golf Rudi Rubiandini.

Sementara itu, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang juga tersangka kasus pemerasan di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jero Wacik, diperiksa penyidik KPK.

Keterangannya untuk melengkapi berkas perkara tersangka kasus itu Sutan Bhatoegana.

” Ia diperiksa sebagai saksi untuk tersangka SBG,” ujar Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK, Priharsa Nugraha pada covesia.

Selain Jero, KPK memanggil dua orang lainnya untuk dimintai keterangannya sebagai saksi juga untuk melengkapi berkas perkara Sutan. Mereka adalah dua mantan anggota Komisi VII DPR RI, Natasya Tarra dan Siti Romlah.(jmb)

0 Comments

Leave a Comment

2 × two =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password