Pabrik Semen Pertama di Indonesia Bakal Diaktifasi Jadi Cagar Budaya

Pabrik Semen Pertama di Indonesia Bakal Diaktifasi Jadi Cagar Budaya Pabrik Semen Indarung 1 yang juga merupakan pabrik semen tertua di Indonesia (Foto: Covesia-Laila)

Covesia.com - Sumatera Barat memanglah kaya, tidak hanya alam yang indah, kuliner yang menggugah, juga banyak bangunan bersejarah. Salah satunya Pabrik Semen Indarung 1 yang juga merupakan pabrik semen tertua di Indonesia. 

Pabrik ini mulai beroperasi semenjak 1910, tak sedikit bangunan bersejarah di Indonesia semennya berasal dari Indarung. Selain Jam Gadang Bukittinggi juga ada Tugu Monas dan gedung lainnya. 

Namun semenjak 1999 pabrik itu tidak diaktifkan lagi karena beragam alasan, salah satunya teknik pengolahan semen mulai diperbaharui, dan juga alat sudah tidak baik lagi untuk digunakan. 

Setelah pabrik Indarung 1 tidak beroperasi gedung bersejarah ini mulai ditumbuhi rerumputan, dan berlumut. Bahkan terlihat terbengkalai dengan banyaknya besi tua berkarat yang menumpuk. 

Hal tersebut menggugah hati pada penguat seni yang merupakan putra Indarung asli. Dahulu pabrik Indarung 1 menghasilkan banyak pemasukan, namun kini hanya menjadi bangunan tertinggal dan tidak terawat. 

Merawat Warisan Menjaga Kebudayaan

Pabrik Semen Padang Indarung 1 memiliki sejarah yang besar. Tidak hanya untuk warga Sumatera Barat tapi juga bagi negara Indonesia. Maka tak ayal jika pegiat seni asli Indarung bercita-cita untuk menjadikan pabrik tersebut diaktifasi kembali sebagai ruang kebudayaan, Seni dan kreatifitas. 

"Kita berupaya menciptakan pabrik ini bisa diaktifasi sebagai ruang kebudayaan, ruang seni. Pabrik ini memiliki sejarah yang panjang tidak, jangan hanya menjadi artefak yang beku," ungkap Ketua Indarung Heritage Society, M Aidil Usman saat ditemui Covesia.com di lokasi Pabrik, Sabtu (11/12/2021). 

Menurut Aidil jika pabrik ini diaktifasi akan menjadi terawat ke depannya. Di samping itu  juga bisa mengenal sejarah pabrik kepada masyarakat umum. 

Di masa akan datang Aidil bersama seniman asal Indarung lainnya yang juga didukung oleh Asosiasi Seniman Tari Indonesia (Aseti), Cikini Art Stage (CAS) terus berupaya mewujudkan pabrik indarung 1 menjadi museum atau cagar budaya. 

Seperti halnya bangunan Candi di pulau Jawa, bekas pabrik ini juga memiliki nilai yang patut diperhitungkan. 

"Publik harus menjadi member kita untuk mewujudkan ini. Untuk sekarang belum bisa dibuka ke publik secara luas karena tempat ini terhubung dengan pabrik semen Padang yang aktif lainnya," tambah Aidil. 

Semuanya tidak bisa instan dan harus mengikuti prosesnya. Ada security sistem yang harus diperbaiki dulu, akses di lokasi agar tidak berdampak negatif, dan urusan lainnya. 

Saat ini pihaknya melakukan workshop Seni dan Pabrik untuk ke tiga kalinya. Ini salah satu wujud memperjuangkan pabrik dapat difungsikan sebagai cagar budaya. 

"Kita berharap ini lebih cepat. Di tahun mendatang kita akan membuat festival seni untuk kancah nasional di lokasi ini, dan 2023 kita akan undang seniman internasional ke sini," ujarnya. 

Mimpi besar penggiat seni ini Pabrik Indarung 1 adalah pabrik ini jadi tempat ruang tumbuh kebudayaan. Karena itu akan berefek juga pada perekonomian masyarakat. 

"Kita lakukan Padang literary festival, pemutaran film, fotografi, pameran galery di pabrik ini. Tentunya akan ada kolektor yang beli hasil karya mereka, bagi hasil bagi perupa dan biaya operasional. 

"Ini juga bisa memancing kreatifitas lain. Ini kan menjadi ruang seni tersendiri nantinya," jelasnya. 

Sementara itu, mentor seni di workshop Seni dan Pabrik bidang Teater, S Metron Madison mengatakan penampilan peserta teater akan menyampaikan gagasan lewat atraksi dan  mengkobinasikan dalam.

"Bentuk yang mereka (pemain teater) inginkan, tidak dibatasi cuma abstraksi tentang sejarah Indarung. Apa yang mereka respon, apa yang mereka ingat mereka tentang pabrik ini setelah mengelilinginya," terang Metron. 

Bahkan ia memberi kesempatan pemain untuk mencari tempat pementasan sendiri, ada yang bergabung kolaborasi teater ada juga yang tampil sendiri. 

Untuk tema yang dimainkan bermacam, termasuk emosi, melihat dengan cara yang tragis, ada yang melihat pabrik ini dari berbagai sisi, memberi kebahagiaan dan luka. Ada yang melihat dari mandornya karat dan lumut yang memenuhi pabrik ini, dan sebagainya. 

Metron mengatakan sengaja memecah sikuen yang berbeda untuk menyatukan. 

Penampilan teater yang dilakukan pemain adalah bentuk protes, sebab dewasa ini kegiatan verbal yang dilakukan sudah tidak mempan di masyarakat seperti demo.

"Satu-satunya harapan di kesenian, kita coba tes ini. Apakah yang gagal penampilan pemain atau masyarakat yang tidak mau melihat penting fungsi dari pabrik ini," ujarnya. 

(ila)


Berita Terkait

Baca Juga