Masjid Raya Gantiang, Masjid dengan Sejarah Panjang yang Tak Sekadar ‘’Tempat Sujud’’

Masjid Raya Gantiang Masjid dengan Sejarah Panjang yang Tak Sekadar ‘’Tempat Sujud’’ Masjid Raya Gantiang. Foto: Dok Covesia/Lisa Septri Melina

Covesia.com - Masjid Raya Gantiang, masjid tertua di Kota Padang Sumatera Barat yang berlokasi di Jalan Gantiang nomor 10, Kelurahan Gantiang Parak Gadang, Kecamatan Padang Timur Kota Padang. Letaknya yang strategis di pinggir jalan, tak jauh dari pusat kota membuat masjid ini tidak sulit untuk ditemukan.

Masjid ini menjadi saksi bisu emberkasi haji pertama di Sumatera Tenggah. Pada suatu waktu yang tidak disebutkan tahunnya, masjid ini berfungsi sebagai emberkasi haji pertama. Dari masjid inilah diberangkatkan jemaah haji menuju  pelabuhan Emma Haven (Teluk Bayur) yang seterusnya naik kapal menuju Makkah.

Sekilas Histori Awal Mula Berdirinya Masjid Raya Gantiang

Sebelum menempati lokasi sekarang, masjid ini dibangun pada tahun 1790 di tepi Batang Arau, tepatnya di kaki Gunung Padang saat ini yang dikenal dengan sebutan “Surau”,  terbuat dari kayu dengan atap dari rumbia. Namun, pemerintah Hindia Belanda mengambil langkah cepat untuk pembuatan jalan ke pelabuhan Emma Haven (Teluk Bayur), akhirnya masjid ini dipindahkan ke lokasi yang sekarang. Mulai dibangun pada tahun 1805 dan rampung pada tahun 1810 silam.


Masjid Raya Gantiang sekitar seabad silam (wikipedia)

Masjid Raya Gantiang terdiri dari satu kubah utama dengan dua buah manara serta delapan buah pintu. Bangunan masjid ini berbentuk persergi panjang dengan ukuran 42 X 39 meter yang terdiri atas serambi muka 12 X 39 meter, serambi kanan 30 X 4,5 meter, serambi kiri 30 X 4,5 meter dan ruang utama 30 X 30 meter. 

"Masjid ini didirikan oleh Angku Gapuak yang merupakan seorang saudagar dari Pasar Gadang, angku Syech H. Umar seorang pimpinnan kampuang, Angku Syech Kapalo Koto seorang ulama yang berpengaruh pada masa itu," ujar pengurus masjid Gantiang, Haji Munandar Maska saat ditemui Covesia.com. 

Lanjut dia, masjid Raya Gantiang bergaya neo klasik Eropa memiliki 25  tiang penyangga sebagai lambang 25 jumlah nabi dan rasul. "Tiang ini menandakan jumlah nabi dan rasul di dalam Islam," tutur dia.


Suasana di dalam Masjid Raya Gantiang saat ini yang ditopang dengan 25 tiang. Foto: Covesia/Lisa Septri Melina 

Tambah dia, sekarang masjid ini tidak hanya digunakan sebagai tempat beribadah semata, namun juga dimanfaatkan sebagai tempat pengajaran agama Islam. "Masjid ini tidak hanya sebagai tempat salat namun juga tempat mengaji anak-anak," sebutnya. 

"Masjid ini sudah beberapa kali direnovasi, tetapi tidak menghilangkan makna aslinya dan juga sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah," sebutnya.


Kondisi Masjid Raya Gantiang setelah dibuatkan eksterior. (wikipedia/koleksi Tropenmuseum) 

Banyak sejarah unik yang mengiringi berdirinya masjid tertua di Kota Padang ini. Berdasarkan dokumen dari pengurus masjid, Covesia.com merangkum beberapa catatan sejarah, diantaranya: 

Selamat dari Gempa dan Tsunami di Padang tahun 1833

Pada saat gempa dan stunami tahun 1833 masjid ini adalah satu bangunan yang selamat dari hantaman gelombang tsunami, hanya saja terdapat kerusakan pada lantai masjid, yang pada saat itu lantainya baru berbentuk batu sehingga diganti dengan lantai coran kapur dari kulit kerang dan batu kapur.

Gerakan Pembaharuan Islam di Minangkabau Tahun 1803

Pada saat itu berkumpulah seluruh ulama di Minangkabau untuk membahas langkah-langkah yang akan ditempuh menuju pemurnian ajaran Islam yang pada saat itu diwarnai oleh pemahaman mistik dan kufarat sebuah peninggalan agama Budha dan Hindu yang berkembang pada masa itu. 

Sekolah Tawalib Pertama di Padang Tahun 1921

Ayah Prof. Dr. Hamka, Syech H. Karim Amarullah mendirikan sekolah Thawalib di Padang Panjang, namun beliau juga mendirikan sekolah yang sama di pekarangan Masjid Raya Gantiang. Sekolah ini akhirnya mendirikan Persatuan Indonesia (PERMI) yang merupakan cikal bakal Partai Masyumi. Seiring berjalannya waktu, karena kekurangan siswa akhirnya tahun 1929 sekolah yang dibagun di pekarangan masjid ini akirnya tutup. 

Perjuangan Kemerdekaan 

Disebut sebagai tempat perjuangan kemerdekaan tak alih dari tahun 1942 ketika Jepang mulai menduduki Indonesia. Pada saat itu Seokarno yang ditahan Belanda di Bengkulu diungsikan oleh Belanda ke Kutance. Namun sesampainya di Painan, tentara Jepang sudah terlebih dahulu menduduki Bukittinggi, sehingga Belanda meninggalkan Seokarno di Painan. 

Hal tersebut dijadikan sebagai kesempatan emas oleh masyarakat di Sumatera Barat untuk membawa Seokarno ke Padang yang dijemput mengunakan pedati oleh Hizbul Wathan yang bermarkas di Masjid Raya Gantiang dan menginap di salah satu rumah pengurus Masjid Raya Gantiang serta memberikan pidato di Masjid tersebut.

Pasca Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka tahun 1945, Masjid Raya Gantiang banyak dikunjungi oleh pejabat negara. Sejumlah pejabat yang pernah berkunjung berdasarkan data yang dihimpun Covesia.com, diantaranya Wakil Presiden Mohammad Hatta, Menteri Pertahan Sultan Hamengkubuwono IX, Wakil Ketua DPR-GR Achmad Syaichu serta ketua MPRS Abdul Haris. 

Reporter: Lisa Septri Melina

Editor: Rudrik Syaputra

Berita Terkait

Baca Juga