Gambelu, Olahan yang Dipakai Saat Tradisi Balimau Sambut Ramadhan di Sumbar

Gambelu Olahan yang Dipakai Saat Tradisi Balimau Sambut Ramadhan di Sumbar Pedagang Gambelu di Pasar Raya Padang, Rabu (30/3/2022)(Foto: Covesia/Lisa)

Covesia.com - Masyarakat Sumatera Barat atau juga dikenal dengan masyarakat minang memiliki beragam tradisi dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, salah satunya adalah tradisi Balimau.

Dan uniknya, tradisi yang satu ini tidak hanya sekedar menyiramkan air ke seluruh tubuh, akan tetapi masyarakat minang mencampuri air tersebut dengan gambelu. 

Gambelu sendiri adalah sebuah olahan yang terbuat dari gambelu (sejenis tumbuhan berbentuk lengkuas), asam serta daun pandan. Kesemua bahannya dipotong dengan halus. 

Jelang Ramadhan, masyarakat dapat menemukan gambelu di Pasar Raya Kota Padang Sumatera Barat, puluhan pedagang akan siap menanti pembeli. Daun pisang adalah ciri khas pembungkus gambelu yang digunakan para pedagang.  

Salah satu pedagang, Nurhayati (70) yang sudah mulai berjualan gambelu setiap tahunnya dan untuk tahun sekarang dimulai sejak minggu kemarin. "Dari minggu kemarin Ibuk sudah berjualan di sini," ujar dia ditemui covesi.com di Pasar Raya Padang, Rabu (30/3/2022).

Lanjutnya, untuk satu bungkus gambelu ataupun bungga rampai ia mematok harga senilai 5 ribu. "Harganya lima ribu, kadang kalau ada yang menawar 3 bungkus 10 ribu," ujar dia yang juga berjualan bunga rampai selain gambelu. 

Tambahnya, untuk pendapatan perhari dari penjualan gambelu dan bungga rampai dapat mencapai 1 juta hingga 1,5 juta dan semua bahanya di ambil dari ladang milikinya sendiri. "Semua bahan Ibuk yang punya, banyak pedagang dari Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang datang membelinya bahannya ke sini," ujar dia. 

Lanjut dia, untuk bahan yang digunakan membuat gambelu adalah gambelu, asam serta daun pandan. Semuanya dipotong secara halus dan dicampurkan. "Harumnya itu berasal dari gambelu," ujar dia. 

Nurhayati memprediksi, masyarakat yang banyak membeli gambelu nantinya pada Kamis dan Jumaat menjelang bulan Ramadhan ditetapkan.

"Biasanya satu hari jelang Ramadhan itu ramai pembeli, tapi sekarang juga sudah banyak juga yang membeli gambelu," sebutnya. 

"Ibuk mulai berjualan dari jam 6 pagi hingga sore menjelang maghrib," sebut wanita 70 tahun itu. 

Lanjut dia, alasan dibungkus dengan daun pisang bukan dengan plastik agar bunga rampai dan gambelunya tetap segar. "Jika dengan daun dapat menunda layunya bunga dan gambelu," sebut dia. 

Pedagang lainnya, Yuliar (74) yang juga mengatakan hal yang sama, bahan yang digunakan untuk membuat gambelu yang terbuat dari gambelu, jeruk, dan daun pandan. "Wanginya berasal dari gambelu yang dipotong-potong," sebutnya. 

Lanjut dia, ia sudah mulai berjualan sejak minggu kemaren. Namun tidak hanya gembelu yang di jual wanita 74 tahun itu. Ia juga menjual bunga rampai, kain kafan, bunga mawar dan kapas. "Satu gambelu yang dibungkus dengan daun pisang ini harganya 5 ribu, kadang jika pembeli menawarnya 10 ribu tiga bungkus juga bisa," lanjut dia. 

Katanya, zaman dahulu dari penjualan gambelu dan bunga rampai ini penghasilan dapat untuk membeli emas, namun sekarang tidak lagi. "Sekarang pendapat bisa 500 ribu hingga 1 juta perhari," terang dia. 

"Semua pendapatan belum dikeluarkan modal, semua bahan yang digunakan juga Ibuk beli," ujar dia yang telah berjualan setiap tahun selama 34 tahun setiap jelang Ramadhan. 

Kata dia, semua pedagang di sini membungkusnya dengan daun pisang, bungkusan yang dijumpai dengan plastik di TPU itu adalah para pedagang yang baru. "Dahulu penjual bunga rampai dan gambelu ini hanya dijumpai di pasar, bukan di TPU, yang TPU itu adalah orang yang baru berjualan," ujar dia.

Kontributor: Lisa Septri Melina

Berita Terkait

Baca Juga