Lukisan Petir, Sisa Kayu jadi Karya Seni Bernilai Rupiah

Lukisan Petir Sisa Kayu jadi Karya Seni Bernilai Rupiah OM Jarot saat memamerkan hasil karya Lukisan Petirnya di Ransam Craft Galery, Jumat (2/9/2022)(Foto: Covesia/Primadoni)

Covesia.com - Azwirman (60) pelaku seni dan ekonomi kreatif (Ekraf) di kawasan Parak Laweh, Kota Padang, ini mengubah dengan sentuhan tangannya sisa-sisa kayu menjadi karya seni yang bernilai rupiah. 

Azwirman yang akrab dipanggil Om Jarot ini, baru menggeluti usaha karya seni yang dinamai Lukisan Petir itu baru lebih kurang satu bulan terakhir. 

Jarot mengakui, untuk mendalami dan mempelajari terkait Lukisan Petir ini, ia hanya belajar pada salah satu akun di platform Youtube. 

"Lukisan Petir merupakan bentukan aliran petir pada tekstur kayu yang akan dibentuk, dengan menggunakan aliran listrik. Ini merupakan daya tarik sendiri bagi peminat seni yang ada di Kota Padang," ungkap Jarot, yang  ditemui covesia.com, di galerynya, Jumat kemarin (2/9/2022). 

Untuk melakukan produksi Lukisan Petir tersebut, Jarot mengolahnya di sebuah lokasi di Gang Pusara, Kelurahan Parak Laweh, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), yang diberi nama "Ransam Craft Galery".

Untuk membuat suatu karya Lukisan tersebut, Jarot hanya memanfaatkan sisa-sisa potongan kayu bekas potongan dari sebuah somel yang berada di daerahnya. 

"Sisa-sisa kayu ini kita beli dengan harga cukup murah, selanjutnya dipotong sesuai bidang yang akan kita bentuk nantinya," sebutnya. 

Untuk jenis kayu yang digunakan, Jarot mengungkapkan hasil yang terbaik melalui teksture yang akan dijadikan Lukisan Petir tersebut yakni kayu jenis Mahoni. 

"Sudah kita coba sejumlah jenis kayu, namun yang cocok dan bagus untuk menentukan motif Lukisan tersebut yakni dari pohon Mahoni," ungkap Jarot. 

Lebih lanjut Jarot menjelaskan, untuk membuat sebuah Lukisan Petir ini tidak hanya berbahan kayu saja, ada sejumlah alat dan bahan lain untuk menjadikannya sebuah Lukisan Petir. 

"Selain kayu, untuk membuat lukisan tersebut kita membutuhkan aliran listrik tegangan tinggi yakni dengan kekuatan 2200 Voltase dengan merakit sebuah Trafo. Kemudian kita juga menggunakan bahan air yang dicampur dengan baking soda dan sprite untuk sebagai konduktor pembakaran kayu melalui aliran listrik tersebut," jelasnya. 

"Ini lukisan perpaduan antara ilmu fisika dengan seni lukis," imbuh Jarot. 

Lebih lanjut Jarot menyebutkan, tidak butuh lama untuk membuat sebuah Lukisan tersebut di atas bahan kayu itu, paling lama sekitar 15 menit. 

Habis itu kita bersihkan dengan cara dicuci pakai air untuk membuangkan arangnya. Lalu dihaluskan memakai amplas dan finishing pakai pernis kayu. 

Untuk harga Jarot hanya mematok hasil karyanya tersebut dengan harga dimulai dari Rp200 ribu rupiah hingga Rp3 juta rupiah.

Untuk saat ini sudah ada beberapa pecinta karya seni yang menghubunginya untuk memesan Lukisan Petir tersebut. 

"Sudah ada beberapa orang dan kawan juga yang memesan, setelah kita promosikan juga di sejumlah Medsos," ujarnya. 

Jarot berharap, karyanya ini bisa Go Internasional, dan bisa dinikmati orang dari mancanegara. Dan juga berharap ada juga perhatian dari Pemerintah Kota Padang terhadap karyanya ini, untuk bisa dipasarkan lebih luas lagi. 

"Kendala saya satu saja, kurang memiliki ilmu terkait pemasaran produk yang dihasilkan, ya kita haraplah dari pihak Pemerintah dapat melirik karya saya ini, dan bisa dibantu juga untuk memasarkannya," harap Jarot. 

Kemudian di sisa umurnya ini, Jarot juga berharap apa yang dibuatnya atau karyanya ini juga bisa diajarkan kepada anak-anak, remaja yang putus sekolah di lingkungan sekitarnya. Dan juga mereka yang ingin belajar ia juga siap untuk memberikan ilmunya tersebut. 

(don) 

Berita Terkait

Baca Juga