Mengulas Tradisi Mambadak di Surian, Mengenalkan Anak Pisang kepada Bako secara Adat

Mengulas Tradisi Mambadak di Surian Mengenalkan Anak Pisang kepada Bako secara Adat Ilustrasi

Covesia.com- Tradisi mambadak  merupakan salah satu prosesi pernikahan. Di daerah Surian, Kabupaten Solok, Sumatra Barat. 

Ahmad Nani (62) khatib suku panai nagari Surian mengatakan tradisi mambadak bertujuan untuk memperkenalkan anak pisang kepada pihak bako  atau kerabat ayahnya secara adat.

"Tujuan tradisi mambadak  agar anak dikenal dan diakui secara adat oleh pihak bako atau kerabat ayahnya sebagai anak pisang sekaligus mematri hubungan kekerabatan yang penuh kasih sayang antara anak dengan keluarga bakonya," ujar Ahmad Nani kepada covesia.com, Senin, (19/09/2022)

Mambadak adalah arak-arakan yang dilakukan oleh bako dan kerabat ayah yang lain  dimulai dari rumah induak bako menuju rumah orang tua mempelai. Induak bako merupakan sebutan untuk saudara perempuan dari pihak ayah dan orang-orang sekitar yang memiliki hubungan suku dengan ayah. 

Sehari sebelum tradisi mambadak dilaksanakan anak pisang dijemput dan memakai pakaian anak daro ( sebutan untuk mempelai perempuan) atau marapulai (sebutan untuk mempelai laki-laki). Seluruh bako atau orang-orang yang ikut dalam tradisi tersebut berkumpul di rumah induak bako yang memiliki hubungan paling dekat dengan mempelai. Biasanya di rumah saudara kandung dari pihak ayah.  

"Rangkaian pelaksanaan mambadak anak dijemput dan memakai pakaian di rumah induak bako, anak diantarkan dengan barang antaran  ke rumah ibunya, sampai di rumah anak ada acara pidato dan jamuan makan," jelasnya

Pada tradisi mambadak tersebut para induak bako dan rombongan  membawa antaran yang akan diberikan kepada anak pisang yang menjadi anak daro dan marapulai. 

"Yang harus dipersiapkan untuk tradisi mambadak, yang ada di dulang randah isinya ameh nan samiang, bareh nan sapacik, karambie nan sacukie, kain nan sabanang, dulang tinggi isinyo selimut, dasar kain satu stel, pecah belah dan perlengkapan mandi, carano isinya sirih, pinang dan diatasnya ameh nan samiang," ujarnya.

Tak hanya itu tradisi tersebut juga diiringi oleh alat musik tradisional.

"Anak diantarkan dengan iringan alat musik talempong, pupuik sarunai serta gendang," tambahnya.

Hal senada diungkapkanYas (59), warga Surian, mengatakan tradisi mambadak selain untuk memperkenalkan anak pisang kepada induak bako, tradisi ini juga bertujuan untuk membantu biaya kebutuhan anak pisang dengan barang antaran.

" Tradisi mambadak bertujuan untuk membantu biaya kebutuhan anak pisang sesuai kemampuan bako," ujar Yas.

Wartawan Magang: Yuli Suriani

Berita Terkait

Baca Juga