Mengenang 98 Tahun AA Navis, UPTD Taman Budaya Sumbar Gelar Sejumlah Kegiatan

Mengenang 98 Tahun AA Navis UPTD Taman Budaya Sumbar Gelar Sejumlah Kegiatan

Covesia.com - UPTD Taman Budaya Sumbar mengenang 98 Tahun Sastrawan AA Navis pada Kamis (24/11) di Galery Taman Budaya Sumbar. 

Salah satu kegiatan mengenang sastrawan kondang tersebut adalah diskusi dengan pembicara Zelfeni Wimra, Ivan Adilla, Hasanuddin WS, dan Eva Krisna.

AA Navis, dalam kacamata Cerpenis yang juga Dosen UIN Zelfeni Wimra, adalah sastrawan yang produktif.

Semasa hidupnya, AA Navis menghasilkan 65 karya sastra dalam berbagai bentuk (novel, cerpen, dan kritik sastra), termasuk 22 buku kumpulan tulisan.

"Produktifnya AA Navis dalam berkarya karena ia memiliki etos kepengarangan," ujarnya.

Zelfeni bercerita, AA Navis pribadi yang sangat disiplin. Tidak hanya dalam berkarya, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Suatu hari, ia pernah menjadi pembicara dalam acara kemahasiswaan. Panitia terlambat datang. Navis tak terima dengan ketidaksiplinan itu. Ia pulang dan tidak mau lagi dibujuk untuk menjadi pembicara.

Menurut Zelfeni, Navis sangat disiplin. Selain menjaga kedisplinan, ia juga sangat menjaga estetika kebahasaan, yang juga terwujud dalam karya-karyanya.

Dosen Universitas Andalas, Ivan Adilla, memandang Navis sebagai sosok yang vokal dalam berbicara. Tapi, sebutnya, ia tidak hanya mengkritik. Navis juga pengamat, pelaku, dan pemikir kebudayaan.

"Untuk konteks Minangkabau, tampaknya belum ada yang mengatasinya hingga kini," ujar Ivan Adilla.

Sejumlah bukti dipaparkan Ivan Adilla bahwa Navis adalah sastrawan yang memiliki gagasan kemudian mewujudkannya.

Navis mendirikan sekolah, ASKI Padangpanjang, Lumbung Pitih Nagari, Gebu Minang, Dewan Kesenian Sumbar, Pertemuan Sastrawan Nusantara, dan Fakultas Sastra Universitas Andalas.

Eva Krisna dari Balai Bahasa Sumbar menyebut Navis adalah sastrawan satir dan pencemooh wahid.

Robohnya Surau Kami salah satu buktinya. Robohnya Surau Kami adalah kritik yang tajam kepada orang yang hanya memedulikan akhirat, tapi mengabaikan dunia. 

Sementara Dosen UNP Hasanuddin WS menyebut Navis sebagai sastrawan sejati. Salah satu syarat menjadi sastrawan, menurutnya, adalah menulis novel. "Navis menulis Novel Kemarau," ujar Hasanuddin. 

Dalam diskusi yang dihadiri sekitar 500 orang itu, terungkap juga bahwa Navis sangat menaruh harapan kepada generasi muda. Hal ini disampaikan jurnalis Hasril Chaniago.

Menurut Hasril, Navis mengatakan bahwa perubahan dan peningkatan kualitas perlu tenaga-tenaga muda yang penuh kreativitas. Makanya, anak muda perlu diberi kesempatan dan apresiasi.

Putri AA Navis, Gemala Ranti, menyampaikan terimakasih atas diselenggarakannya acara tersebut. Ia menyampaikan pihak keluarga berencana akan mendirikan Yayasan AA Navis pada 28 November. Di antara program-programnya adalah menerbitkan ulang buku-buku AA Navis. 

Rangkaian Kegiatan 98 Tahun AA Navis

Kepala UPTD Taman Budaya, Supriyadi, SE, M.Si, mengatakan, ada 3 kegiatan peringatan 98 tahun AA Navis.

Selain diskusi, juga ada penampilan seni di antaranya Dramatisasi Cerpen (Komunitas Payung Sumatera), Musikalisasi Puisi (Grup Sending Rasa, Teater Imam Bonjol, MAN 2 Padang), Monolog (Komunitas Seni Langit), Pembacaan Pusi (Deddy Arsya, Rizal Tanjung, Syarifudin Arifin, Yeni Ibrahim, Ichwanul Arif),  dan Musik Tradisi (Parewa Limo Suku).

98 Tahun AA Navis juga dimeriahkan dengan pameran Seni Rupa "Reconnection" yang diselenggarakan Mahasiswa Seni Murni ISI Padang Panjang. 

"Pameran ini telah dimulai pada Kamis 17 November hingga 29 November," ujarnya. 

Pameran yang diadakan di Galeri Taman Budaya Sumbar ini telah dikunjungi 2.000 orang sejak dibuka pada 17 November. 

(ril) 


Baca Juga