UMKM Sumbar dan Gamaik Mendapat Perhatian pada Promosi Persembahan Negeri Serumpun di Malaysia

UMKM Sumbar dan Gamaik Mendapat Perhatian pada Promosi Persembahan Negeri Serumpun di Malaysia

Covesia.com - Itinerary Promosi Persembahan Negeri Serumpun Melayu telah selesai dilangsungkan. Dari 29 November hingga 1 Desember 2022, rombongan yang terdiri atas UMKM dan musisi tradisi menggelar rangkaian acara di Selangor dan Kuala Lumpur. 

Ini adalah kegiatan promosi budaya yang difasilitasi oleh Dinas Pariwsata Provinsi Sumatera Barat dukungan dana Pokir Supardi Ketua DPRD Sumbar. Sejumlah UMKM dan Grup musik dari Sumbar diboyong ke negeri jiran itu. 

Saat sampai di Selangor pada akhir November itu, rombongan disambut oleh sejumlah organisasi, terutama organisasi perantau Minang. Ada organisasi Bundo Kanduang, Ikatan Keluarga Minang, Pengurus Pertubuhan Jaringan Masyarakat Minangkabau-Malaysia, dan organisasi lainnya. 

“Kami disambut dengan hangat,” kata Oldi, pengelola Randang Jaguang Mak Ranin, salah satu UMKM yang ada dalam rombongan. 

Selain Randang Jaguang Mak Ranin, terdapat sejumlah UMKM asal Payakumbuh-50 Kota lainnya. Sebut saja Kopi Uda Parjok, Bumbu Masak A. Rajab, serta Karipik Balado, Tenun Halaban, serta Tenun Kubang. 

Dari Selangor, rombongan bertolak ke Kuala Lumpur. Kehadiran UMKM-UMKM dari Sumbar ditanggapi dengan antusias oleh pengunjung expo yang berlangsung di Malaysia Grand Bazzar.

“Semua stand, baik kuliner, fashion, atau kriya menjadj pusat perhatian khusus oleh pengunjung. Tak hanya tamu undangan tapi juga pengunjung tempat lokasi acara,” kata Oldi lagi.

Pelaku UMKM yang datang ke lokasi memakai baju basiba untuk perempuan dan baju guntiang cino bagi laki-laki, makin memancing ketertarikan pengunjung. Pilihan pakaian ini terbukti manjur. 

“Produk kami laris manis, karena sebagian produk unik dan berbeda dan baru bagi pengunjung. Mereka penasaran dg produk seperti songket, tenun, bordir, rajut, eco print, rendang, karupuak sanjai, rakik, bumbu, dll,” lanjut Oldi.

Selain pengunjung umum, expo di Selangor juga dihadiri UMKM setempat yang memamerkan produk-produk seperti tas, kuliner olahan kopi, coklat, dan sebagainya.  Dengan demikian, pelaku UMKM dari Sumbar bisa saling bertukar pikiran dan berdiskusi. Semacam studi banding. 

Menurut Olde kegiatan ini sangat membantu mempromosikan budaya dan produk UMKM ke luar dunia internasional. Ia pun berharap produk UMKM Sumbar makin mendapat tempat di pasar global.

Gamaik dan Promosi Wisata Budaya

Selain memboyong ragam produk UMKM Sumbar, dalam tour ke negeri jiran ini juga ikut serta grup musik SPD Sampai Hati. Grup musik ini membawa misi memperkenalkan gamaik ke khalayak Malaysia. 

Musik tradisi ini demikian kaya dengan unsur budayanya serta unik dari segi musikalitas ini, namun belum dilirik sebagai bagian dari promosi wisata budaya terutama untuk pasar wisatawan mancanegara. Ia belum dieksplorasi secara maksimal. 

Dalam expo tersebut SPD Sampai hati menampilkan beberapa tembang gamaik lawas. Pakaian guntiang cino yang dipakai para personil SPD Sampai Hati, selain membuat pengunjung expo tertarik juga makin menonjolkan kekayaan  gamaik. 

“Dalam gamaik memang ada beberapa unsur budaya. Mulai dari India, Tionghoa, dan Minang sendiri,” kata salah satu personel SPD Sampai Hati Ferry YJ. 

Ferry menerangkan bahwa alat musik Gazal dalam gamaik berasal dari India, sementara Gambang merupakan alat musik yang dibawa para musisi Tionghoa. Kebudayaan Minang kemudian memasukkan unsur pantun dan irama ke dalam gamaik.  

Jika ditampilkan dalam format yang lebih ‘tradisional’, seperti dalam gamaik baradaik, menurut Ferry, kita akan lihat betapa kayanya kesenian ini. Dalam gamaik baradaik, ada seni tari, seni tutur (kato sasambahan), serta seni musik yang berasal dari perpaduan berbagai kebudayaan. Pantun-pantun dalam gamaik jenis ini berisi ajaran budi, nasehat, serta parasaian hidup. 

Menurut Supardi Ketua DPRD Sumbar, sudah saatnya segala kekayaan yang terkandung dalam gamaik dieksplorasi lebih jauh. Selain nilai-nilai positif dalam lirik-liriknya, gamaik juga berpotensi besar menjadi salah satu ikon wisata budaya Sumbar.  

“Sumbar bisa dikatakan minim dalam soal sumber daya alam, namun seni budayanya sangat kaya.  Hampir semua daerah punya keindahan alam. Tapi tak semuanya punya seni kriya seperti tenun Halaban atau gamaik,” jelas sosok yang juga penggemar berat gamaik ini saat diwawancarai wartawan.

Ia pun berharap pemerintah dan segenap masyarakat harus benar-benar melihat seni dan budaya, seperti kuliner, tenunan, serta gamaik, sebagai aset berharga yang harus terus dikembangkan, terutama dalam konteks pengembangan pariwisata berbasis budaya. 

(ril) 

Baca Juga