'Gadai Anak' ,Tradisi Unik di Minangkabau yang Masih Lestari Hingga Kini

Gadai Anak Tradisi Unik di Minangkabau yang Masih Lestari Hingga Kini Foto: Johan Utoyo

Covesia.com - Menggadaikan anak, sepintas orang akan berfikir apakah ada orang tua yang tega menjadikan anak sebagai agunan pinjaman, sesulit apakah ekonomi hingga tega menggadaikan darah daging sendiri.

Lain halnya bagi masyarakat Minangkabau, tradisi menggadaikan anak ini acap kali di temukan di beberapa daerah, baik di pesisir selatan, Pariaman, Agam dan daerah lainnya.  

Entah hanya sekedar ikut-ikutan, masih menjadi kepercayaan atau hanya perintah orang tua maupun mertua. namun bagi sebagian besar masyarakat  cara ini tetap dilaksanakan hingga sekarang.

Tidak ada catatan sejarah tradisi gadai anak ini bermula, jika ditanya kepada masyarakat jawaban tetap sama yaitu  "sudah ada sejak zaman leluhur dahulunya".

Menurut kepercayaan masyarakat Minang, tradisi gadai anak ini dilaksanakan jika ada kemiripan raut wajah antara anak laki laki dengan ayah ataupun anak perempuan dengan ibunya.

Dengan alasan kemiripan tersebut  mertua taupun orang tua akan menganjurkan agar menggadaikan anak kepada salah satu ”bako” (saudari perempuan atau karib kerabat dari pihak suami - red).

Alasan menggadaikan anak ini agar kemiripan raut wajah mereka tidak menjadi petaka, seperti ketidak harmonisan hubungan mereka, sekit-sakitan atau ada yang meninggal salah satu.

Anak yang digadaikan ini biasanya ketika mulai berhenti menyusu 2 sekitar umur 2 tahun.

Dalam prakteknya orang tua kandung mendatangi calon orang tua gadai, kemudian secara simbolis anak ditukarkan dengan sejumlah uang, beras, baju atau benda benda lainnya.

Meski sudah digadaikan, hak asuh anak tetap berada pada orang tua kandungnya, namun gadai wajib di ditebus kembali saat anak sudah dewasa, biasanya saat akan khitan atau menikah.

Di kabupaten Agam sendiri ada sesuatu yang unik saat prosesi menebus gadaian kala anak akan menikah, orang tua kandung sang anak akan datang ke rumah orang tua pemberi gadai dengan menjujung (Jamba), setelah makan bersama barulah anak ditebus kembali.

Meski sudah ditebus, bagi sang anak, si pemberi gadai ini akan menjadi orang tua angkat. Silaturahmi antara keduanya  harus tetap terjalin, bahkan  tidak jarang akhirnya orang tua gadai ini menjadi mertua.

 (Jhn)

Berita Terkait

Baca Juga