Organisasi Kemahasiswaan di Era Kampus Merdeka

Organisasi Kemahasiswaan di Era Kampus Merdeka Firmansyah David

Covesia.com - Program Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka (MBKM) yang diluncurkanoleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di awal tahun 2020 berdampak pada dinamika pengelolaan perguruan tinggi. Program ini memberi ‘kebebasan’ perguruan tinggi dalam mengelola kegiatan akademik sebagai upaya untuk meningkatkan keterserapan lulusan di dunia usaha dan dunia kerja (IDUKA). Program MBKM menuntut perguruan tinggi menginisiasi kerjasama yang seluas-luasnya dengan IDUKA. Dimulai dari belajar diluar program studi, di perguruan tinggi lain hingga pada institusi kemasyarakatan, sekolah dan IDUKA. Hal ini tidak lain bertujuan untuk mengasah pola pikir dan melatih kemampuan adaptasi mahasiswa di dunia profesional. 

Organisasi kemahasiswaan memiliki sejarah panjang sebagai agen perubahan di masyarakat. Budi Utomo, misalnya, sebagai organisasi kemahasiswaan pertama yang didirikan di era perjuangan kemerdekaan berhasil mengagas Sumpah Pemuda di tahun 1928. Sumpah Pemuda menjadi semangat utama bagi pemuda dan mahasiswa dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sejak itu, berbagai bentuk organisasi kemahasiswaan telah menjadi penggerak utama perubahan sejarah politik dan kemasyarakatan di Indonesia. 

Pertanyaan mendasar bagi pengelola perguruan tinggi adalah apakah ‘semangat’ dari organisasi kemahasiswaan tersebut dapat berkontribusi pada kemampuan perguruan tinggi menghasilkan lulusan yang berkompeten. Program studi mengambil peran dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar guna menciptakan lulusan yang memiliki kompetensi akademik dan skill yang mumpuni. Disisi lain, organisasi kemahasiswaan tentunya harus mengambil peran dalam pembentukan softskill mahasiswa. Mahasiswa diharapkan mampu dalam mengenali kemampuan diri, kepemimpinan, kerja tim dan lain sebagainya. Pengelolaan unit kerja dan struktur organisasi perguruan harus bisa beradaptasi dengan perubahan zaman, tidak terkecuali organisasi kemahasiswaan. Dengan demikian, tidak hanya program studi, program MBKM juga secara tidak langsung menuntut organisasi kemahasiswaan untuk berbenah dan beradaptasi. Bentuk - bentukpembenahan tersebut dapat berupa meningkatkan kolaborasi dengan organisasi kemahasiswaan di Perguruan Tinggi lain.

Organisasi kemahasiswaan pada perguruan tinggi di Indonesia telah memiliki agenda kolaborasi dengan organisasi di perguruan tinggi lain.  ini dapat berbentuk aliansi dan musyawarah Badan Eksekutif Mahasiswa maupun Himpunan Mahasiswa baik di tingkat regional maupun nasional. Ke depan jejaring organisasi yang telah dibangun diharapkan berkontribusi pada program MBKM seperti kegiatan pertukaran mahasiswa baik di tingkat perguruan tinggiatau program studi. Kegiatan antar organisasi kemahasiswaan dapat berupa perkenalan organisasi satu sama lain  atau memfasilitasi mahasiswa dari dan keluar perguruan tinggi. Pada program MBKM, pertukaran mahasiswa antar program studi baik didalam maupun diluar perguruan tinggi merupakan program dasar merdeka belajar. 

Kemudian beradaptasi dengan dinamika IDUKA.  Program MBKM berikutnya adalah program magang di institusi di luar perguruan tinggi.Institusi tersebut dapat berupa industri besar, menengah, kecil hingga mikro; sekolah menengah, lembaga penelitian, lembaga kemasyarakatan, dan lembaga non-profit lainnya. Ini disesuaikan dengan minat dan jurusan mahasiswa. Untuk itu organisasi kemahasiswaan, bersama dengan program studi, harus beradaptasi dan mengetahui bagaimana dunia luar kampus ‘bekerja’. Organisasi mahasiswa harus lebih sering mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan dunia profesional seperti pengenalandunia kerja, profesionalisme, tata organisasi industri dan lain sebagainya. 

Selanjutnya organisasi kemahasiswaan harus memiliki program kerja terukur. walaupun kebanyakan organisasi kemahasiswaan sudah memiliki Anggaran Dasar dan Rumah Tangga, merealisasikan program kerja merupakan hambatan bagi sebagian organisasi kemahasiswaan. Mahasiswa yang terlibat di organisasi kemahasiswaan memang harus mendedikasikan waktunya untuk merancang dan menjalankan program kerja. Jika selama ini program kerjahanyauntukmemenuhipengembangankreatifitas di perguruantinggisendiri, maka di Kampus Merdeka, program kerjaorganisasikemahasiswaanharusterukurdanfeasibeluntukdijalankan. Hal ini harus dilakukan karena berkaitan dengan skala dan agenda di IDUKA.

terakhir, koordinasi yang baik dengan sivitas akademika di perguruan tinggi. Meskipun nantinya organisasi kemahasiswaan akan berkolaborasi dengan IDUKA, tetapi koordinasi yang baik dengan sivitas akademika harus tetap terjaga. Program MBKM merupakan program holistik yang melibatkan setiap pemangku kepentingan. Organisasi kemahasiswaan diharapkan mampu menjalin koordinasi yang baik dengan Program Studi, Fakultas dan pemangku kepentingan lainnya. 

Dengan demikian, organisasi kemahasiswaan di era Kampus Merdeka diharapkan memiliki karakter ‘resilient’ dimana organisasi dengan kemampuan sendiri harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.  Organisasi kemahasiswaan berada di garda terdepan dan memiliki kontribusi yang besar terhadap suksesnya program ini. 

(Penulis ialah Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Institut Teknologi Padang)


Firmansyah David, Ph.D

Firmansyah David, Ph.D ( Wakil Rektor I Institut Teknologi Padang )

Berita Terkait

Baca Juga