Nepotisme Rasional SBY

Nepotisme Rasional SBY Foto: Dok.Probadi

Covesia.com - Salahkah apabila Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyiapkan anaknya untuk menjadi pemimpin masa depan? Setidaknya dimulai dari Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, walaupun gagal.Tidak salah. Bahkan dalam ilmu politik, kekuasaan itu didapatkan dari beragam sumber, salah satunya faktor genetik, selain legal-formal, personality dan kualitas finansial. Karena itu, dalam sejarah politik era modern, banyak kita kenal nama-nama politisi/pemimpin dunia yang meraih kekuasaan tersebabkan faktor genetik.

Nama Sukarno hingga hari ini begitu mempesona. Megawati menjadi besar karena ia menyandang nama besar ayahnya. Di India, darah genetik Pandit Jawaharlal Nehru mengharu biru sekian dekade politik India lewat anaknya Indira Gandhi dan sang cucu, Rajiv Gandhi serta istri Rajiv, Sonia Gandhi. 

Bahkan pengaruh Sonia, wanita cantik kelahiran Italiano tersebut, hingga hari ini begitu besar di India. Di Bangladesh, nama Mujibur Rahman masih berpengaruh lewat jandanya. Di Amerika Serikat, Kennedy dan Bush bisa juga dijadikan contoh bagaimana genetik berpengaruh besar dalam ranah politik, sebagaimana halnya perdana menteri Kanada, Trudeau jr. nan ganteng itu, meraih kekuasaan karena publik juga silau dengan nama besar ayahnya Pierre Trudeau. Di Malaysia, kita bisa mencatat nama Najib Tun Razak anak Tun Abdul Razak serta Hishamuddin Onn bin Tun Hussein Onn.

Semuanya Sah dalam kontestasi politik praktis. Yang mencengangkan itu kasus Korea Utara, "Marga" Kim justru menjadi "Tuhan". Kim il sung kepada Kim jong Il diteruskan kepada Kim Jong Un. Hingga hari ini Kim tetap "dimitoskan". 

Ini pola yang justru mematikan nalar atau, "berkelindannya" pola rekruitmen kepemimpinan di Kabupaten Klaten. Bupatinya yang ditangkap KPK. Suami berhenti jadi bupati, digantikan oleh teman suami, yang dulunya jadi wakil dari suami yang jadi bupati. Teman suami yang jadi bupati tersebut wakilnya adalah istri suami yang awalnya jadi bupati. Kemudian, Istri suami jadi bupati, wakilnya istri dari teman suami yang awalnya si istri jadi wakil bupati dari teman suami. Ah,sudahlah.

Saya hanya ingat Lee Kuen Yew. "Bapak" Singapura. Negerinya pemain bola idola publik Indonesia era 80-an, Fandi Ahmad. Lee dianggap diktator oleh banyak pihak. Bagi saya, Lee meruntuhkan dua diktum dalam ilmu politik yang berlaku secara umum, yaitu "Semakin lama berkuasa, berpotensi korup" dan "Diktator tidak menyejahterakan rakyat". Ditangannya, Singapura yang lahir pada 9 agustus 1965, Lee berhasil menarik lokomotif perubahan dan pembangunan, sehingga berhasil menarik kota itu keluar dari keterbelakangan. 

Ada beberapa kata sifat yang selalu berulang setiap kali orang berbicara tentang pemimpin yang satu ini: keras, disiplin, otoriter, tetapi bersih dan jujur. Pribadi Lee adalah sebagai pekerja yang spartan. Nah, Lee yang tidak seflamboyan Soekarno itu, menciptakan yang dalam teks ilmu politik disebut Nepotiseme-Rasional. Ia mempersiapkan "anaknya" Big Lee (Lee Hsie Long) dengan "semapan-mapannya". Dan dunia mengakui, Singapura dibawah Big Lee "lebih hebat" dibandingkan Singapura dibawah ayahnya. Bak kata Goenawan Mohammad (1998: 109), inilah sosok Raksasa di Negeri Liliput, yang telah menciptakan keajaiban hanya dalam satu generasi. Generasi ayah yang kemudian disambut oleh anaknya yang telah "mapan".

"Pertanyaan saya, apakah SBY terlampau cepat mengajukan anaknya untuk masuk dunia politik? Tidak. Bahkan saya suka sekali melihat kiprah Agus Harimurti ini. Bila kamu lihat status-status saya di media sosial (medsos) dua tahun lalu, saya paling suka mengulas dengan mata berbinar kiprah militernya Agus Harimurty, sesuatu yang tidak saya lakukan ketika melihat Puan Maharani. 

Lalu, apa hubungannya dengan Lee Kuen Yew dan anaknya? Entahlah. Saya juga bingung, kok Lee Kuen Yew dan anaknya Big Lee saya jadikan contoh.

Sudahlah. Tak perlu dibahas lebih panjang. Saya hanya membayangkan bagaimana kalau nama saya : Muhammad Ilham Yusril Ihza Mahendra Putra atau Muhammad Ilham bin Aburizal Bakrie, entah apa pulak yang terjadi.


Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )


Berita Terkait

Baca Juga