Revolusi Keblinger

Revolusi Keblinger Ilustrasi - pixabay

Covesia.com - Barusan saya nonton ceramah ustaz Zulkifli Ali (ZA) di youtube. Belum dapat ceramah utuhnya, tapi kesimpulan sementara saya, ceramah itu bukan ujaran kebencian, bukan hasutan. Agaknya ZA cuma bermaksud mengambil porsi peranan futurolog. Ia memberikan prediksi Indonesia yang gelap, caos dan berdarah-darah, menggunakan bahasa dirinya, sembelih-menyembelih.

Sah-sah saja memprediksi, tetapi sependek wawasan saya, maaf-maaf saja, prediksinya keblinger. Ambil contoh revolusi China, revolusi Komunis dan revolusi Syiah itu? Bagaimana ceritanya Partai Komunis China yang atheis berkongsi dengan kaum Syiah yang theis buat mengubah wajah DKI Jakarta, wajah Indonesia? Dua kelompok yang basis ideologinya bertentangan, berkongsi mendongkel pemerintahan, untuk selanjutnya pukul-pukulan? Apa kesamaan tujuan yang amat dahsyat sehingga mereka mau bergandeng tangan? Paling banter dua kaum ini sama-sama bernafsu mengkudeta Donal Trump di negeri Paman Sam sana.

Bahkan Tan Malaka yang pemahaman ideologinya paripurna itu saja gagal meyakinkan peserta Kongres Komunis Internasional ke-empat pada tanggal 12 November 1922, tentang perlunya berkongsian kaum komunis dengan Islam dalam menentang kolonialisme.

Padahal kala itu targetnya luar biasa jelas dan mulia: memerdekaan bangsa-bangsa utamanya di Asia Barat dan Asia Tenggara. Coba, apa ikatan yang lebih kuat buat menggeret semua unsur kebangsaan selain memerdekakan bangsa dari penjajahan asing, selain mendirikan negara yang berdaulat? Atau barangkali ada yang sedang berhalusinasi; membayangkan munculnya sosok bak Satrio Pingingit, sosok yang lidahnya bertuah sebagai komandan dari revolusi keblinger ini?

Adakah sosok sekaliber Sukarno pada tahun 1956 di era kekinian? Bung Karno yang bersabda “Demokrasi Terpimpin!” jadilah itu barang. Bung Besar yang bertitah: “Nasionalisme, Agama, dan Komunisme”, terbentuklah itu poros. Itu pun cuma seumur kucing saya di rumah. Demokrasi Terpimpin dan Nasakom jalannya tersendat-sendat, macet, lalu luluh-lantak seiring meredupnya kewibawaan Bung Karno.

Indonesia saat ini? Jangankan ngomongin Nasakom, mau memuluskan jalan presidential threshold yang juga keblinger itu, presiden dan jajarannya plus parpol-parpol koalisi sampai kerja lembur. Mau menarik pajak baru, ampun ributnya publik. Satu Pilgub Jakarta saja sudah bikin seantero Indonesia goncang. Mau pentas monolog “Saya Rusa Berbulu Merah” luar biasa susahnya. Masih berani bikin revolusi antipancasila di situasi macam ini? Maaf-maaf saja keblinger itu namanya.

Dan cetak berjuta-juta KTP di China dan Perancis itu? Ampun! Jika memenangkan pemilu di Indonesia segampang itu, cuma modal adu banyak produksi KTP, kenapa tidak kita daulat saja Direktur Utama perusaahaan pemenang tender pelaksanaan e-KTP itu sebagai capres 2019?

Saran saya begini saja. Kalau memang revolusi komunis dan revolusi syiah yang mau mendongkel Pancasila itu benar-benar ada, ya sudah kita sorong saja mereka buat berantem antar sesama. Nanti yang menang baru jadi lawan kaum propancasila. Lumayan buat hiburan alternatif penganti sinetron-sinetron hantu dan ABG yang lagi marak di televisi. Dan sementara itu, saran saya, cendikialah sewaktu membuka mulut!

Hendri Teja

Hendri Teja ( Sastrawan/ Penulis Novel 'TAN' )

Berita Terkait

Baca Juga