Setelah 13 Tahun AJI Padang

Setelah 13 Tahun AJI Padang Deklarasi AJI Padang 23 Januari 2005 di Gedung Genta Budaya Padang/ Dok. AJI Padang

Covesia.com -Tiba-tiba Ocha Mariadi mengeluarkan dua kue bulat yang dipenuhi coklat.

"Sekarang kita merayakan Ulang Tahun AJI Padang ke-13, karena waktunya hampir tepat, 23 Januari," katanya.

Selama AJI Padang berdiri kami selalu melupakan perayaan ulang tahun. Mungkin pernah perayaan hanya dengan mendatangkan kue dan meniup lilin, tapi mungkin hanya beberapa kali dan itu momen yang terlupakan.

Saat ini setelah agenda Konferta (Konferensi Kota) AJI Padang ke-5 di Hotel Bunda, Padang, 20 Januari 2018 tuntas, tak ada yang memberitahu akan ada peringatan ulang tahun. Ocha ternyata sengaja membuat kejutan.

Akhirnya kami membakar lilin merah angka 13 (konon di dunia lain ini angka yang dianggap sial). Setelah meniup, Andri El Faruqi, koresponden TEMPO yang baru saja terpilih tanpa lawan bersama Andhika D .Khagen (pimpinan Klikpositif.com) sebagai ketua dan sekretaris AJI Padang yang baru, memotong kue.

Andri diminta menyerahkan potongan pertama kepada Febrianti, juga koresponden TEMPO. Febrianti adalah pemegang kartu nomor satu keanggotaan AJI Padang. Saya mendapat potongan kue kedua sebagai mantan ketua pertama AJI Padang dan juga pemegang kartu nomor dua.

Lalu kami pun foto bareng bersama Ketua Umum AJI Indonesia Abdul Manan yang hadir.

AJI Padang kami deklarasikan 23 Januari 2005 di Gedung Genta Budaya Padang melalui proses verifikasi yang melelahkan dan membuat putus asa. Kemudian disahkan melalui Kongres AJI ke-6 di Cipanas, 25 November 2005. Meski begitu, sejak disahkan hingga sekarang AJI Padang tetap memiliki sekretariat dengan pengurus yang tak pernah putus.

Saya dengan sekretaris Tularji (periode 2006-2008), Hendra Makmur-Erinaldi (2009-2012), Hendra Makmur - Rus Akbar (2012-2015), Yuafriza Ocha-Yose Hendra (2015-2017). Semua pengurus ini adalah generasi deklarator. Sekarang dengan terpilihnya Andri -Andhika (periode 2017-2020) ini adalah generasi baru setelah deklarasi.

Saya masih ingat bertemu dengan Andri saat pelatihan jurnalistik di kampus IAIN Imam Bonjol. Ia pengurus persma "Suara Kampus" yang mengurus acara pelatihan. Kami tentu saja senang generasi Andri dan kawan-kawan mulai melanjutkan roda tampuk kepengurusan AJI Padang.

Sebagai kenangan, saya sertakan di bawah ini sesuatu yang bersejarah dalam pendirian AJI Padang, siaran pers pertama tentang acara deklarasi AJI Padang 13 tahun silam.


(PERS RELEASE, 23 JANUARI 2005)

AJI Padang dideklarasikan

PADANG-- Sebanyak 18 jurnalis di Sumbar mendeklarasikan berdirinya Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang di Gedung Abdullah Kamil Padang, Minggu (23/1/2005).

Deklarasi dihadiri Sekretaris Jenderal (Sekjen) AJI Indonesia, Nezar Patria dan Divisi Etik dan Pengembangan Profesi AJI, Sopril Amir. Dari kalangan organisasi wartawan lain hadir Wakil Ketua PWI Sumbar Fitri Adona, Presiden Padang Press Club (PPC) Khairul Jasmi dan Sekretaris Persatuan Jurnalis Indonesia (PJI) Sumbar, Sri Rahayu Ningsih.

Acara juga dihadiri sejumlah akademisi, aktivis LSM, pimpinan media pers, dan lembaga pers mahasiswa dan lembaga mahasiswa. Di antaranya, Pakar Hukum Tata Negara Universitas Andalas Saldi Isra, Direktur LBH Padang Alvon Kurnia Palma, Ketua PBHI Sumbar Samaratul Fuad, Aktivis Badan Anti Korupsi Sumbar Ardyan, Aktivis Walhi Sumbar Heri Prasetyo, Aktivis Forum Peduli Sumatra Barat (FPSB) Rusmazar Ruzuar, Oktavianus Rizwa dan Abel Tasman, serta Kepala Biro Media Indonesia/Metro TV Padang, Ade Alawi.

Dalam sambutannya, Sekjen AJI Nezar Patria mengharapkan AJI Padang bisa memberikan kontribusi positif dalam rangka memperjuangkan kebebasan pers dan meningkatkan peran pers bagi masyarakat di daerah ini.

Dia menjelaskan Padang telah lama menjadi inspirasi bagi AJI karena gerakan masyarakat sipil serta semangat memberantas korupsi telah menjadi teladan nasional.

”Saya memberikan apresiasi bagi peranan wartawan di Sumatra Barat amat besar dalam pengusutan anggota dewan di berbagai DPRD di Sumbar,” katanya.

Sementara itu, Ketua Caretaker AJI Padang Syofyardi Bachyul Jb menjelaskan, dideklerasikannya AJI Padang dengan tujuan menjaga kebebasan pers, memperjuangkan kesejahteraan jurnalis, dan turut serta menegakkan demokrasi.

”Proses keanggotaan AJI Padang hingga sampai dideklerasikan sudah berlangsung satu sejak awal 2003,” ungkap koresponden The Jakarta Post itu.

Saat ini AJI Padang memiliki 18 anggota yang bekerja di berbagai media cetak maupun elektronik, di antaranya TEMPO, Koran Tempo, Media Indonesia, Metro TV, Bisnis Indonesia, Detikcom, KBR 68H, Harian Haluan, dan Tabloid Puailiggoubat.

Dalam acara deklarasi tersebut sejumalah perwakilan memberikan sambutan positif.

Rusmazar Ruzuar dari Forum Peduli Sumatra Barat (FPSB) mengharapkan lahirnya AJI ikut memberikan kontribusi terhadap upaya pencerahan dan pencerdasan masyarakat di daerah ini. ”Kami menyambut baik terbentuknya AJI Padang,” ungkap Wakil Ketua Kadin Sumbar tersebut.

Acara deklarasi ditutup dengan diskusi bertajuk ”Peran Jurnalis dalam Pemberantasan Korupsi”. Dalam acara itu Saldi Isra, penerima Bung Hatta Award 2004 dan Sekjen AJI Nezar Patria tampil sebagai pemancing diskusi.

Menurut Saldi independensi jurnalis dalam mengungkap kasus-kasus korupsi sangat dibutuhkan, mengingat peran jurnalis dalam mendorong terbongkarnya kasus korupsi sangat besar.

Saldi juga mengritik bahwa pemberitaan pers di Indonesia selama ini terlalu toleran untuk pelaku korupsi. Para pejabat yang sedang diusut malah diprofilkan, seolah-olah ia jadi pahlawan.

Saldi menyontohkan Akbar Tandjung ketika diusut dalam kasus Buloggate yang ternyata oleh beberapa media dibuat tulisannya memiliki anak asuh yang diposisikan sebagai pahlawan. 

Gubenur Aceh Abdullah Puteh yang sedang diusut dalam tindak pidana lebih sering diambil fotonya dalam pose tersenyum, gagah dengan raut wajah tak bersalah saat diperiksa di pengadilan.

”Ini sangat berbeda dengan Korea Selatan, medianya tidak pernah memuat mantan presiden yang diusut karena korupsi sedang memakai jas lengkap dengan dasi, tetapi memuatnya memakai pakaian tahanan,” tegasnya.

Media pers, menurut Saldi, juga harus punya sikap yang jelas terhadap pelaku korupsi. ”Sikap yang jelas akan mengisolir pelaku korupsi, jika tak ada sikap seperti itu, apa lagi mudah memberikan maaf, artinya membiarkan praktek korupsi tumbuh subur,” ujarnya.

Sementara itu, Nezar Patria mengungkapkan, sedikit sekali media nasional yang memberikan perhatian terhadap kasus-kasus korupsi di tingkat lokal. ”Selalu saja nilai korupsi yang lebih besar yang kira-kira memiliki sensasi besar yang selalu diberikan perhatian, sementara korupsi di tingkat lokal sedikit sekali diberikan tempat,” ujarnya.

***

Syofiardi Bachyul JB

Syofiardi Bachyul JB ( Jurnalis Senior )

Berita Terkait

Baca Juga