'Mahasiswa Zaman Now' Hilangnya Daya Kritis?

Mahasiswa Zaman Now Hilangnya Daya Kritis Pembina Serikat Mahasiswa Muslim Indonesia (SMMI) Sumbar, Ardinal

Covesia.com - Pengalaman menarik  ketika kembali berinteraksi dengan anak-anak muda kampus yang energik. Banyak ide dan gagasan yang dikemukakan, dan banyak pula kekhawatiran yang muncul dari fenomena yang ada. Interaksi itu memberikan pandangan yang subjektivitas jika menjadikan penilaian terhadap kondisi dunia mahasiswa secara keseluruhan. Tapi setidaknya, kondisi yang penulis temukan memberikan sedikit perspektif melihat kondisi anak-anak muda kampus saat ini.

Beda zaman, beda pula dinamikanya. Manusia memang sangat lambat dalam merespon perubahan. Percepatan yang muncul akibat lompatan tekhnologi terutama dalam dunia komunikasi telah mendorong begitu banyak perubahan  dalam interaksi sosial. “Kid zaman now” adalah istilah baru yang muncul akibat dari kemajuan tekhnologi itu yang lebih cenderung terkesan negativ untuk mereka.

Dalam sejarah perkembangan peradaban, perubahan sosial akibat fenomena yang muncul selalu dipelopori oleh anak-anak muda. Terutama mereka yang berasal dari dunia kampus. Indonesia merdeka dari kesadaran yang muncul dari anak-anak muda saat itu. Begitu juga dengan berbagai revolusi yang lahir dibelahan bumi ini. Lompatan tekhnologi komunikasi melalui dunia internet juga  dipelopori oleh anak-anak muda yang bergelimang dalam dunia akademis itu.

Ekspektasi yang muncul ketika awal-awal bersinggungan dengan mereka tidaklah sepenuhnya tercapai. Gambaran tentang progresif tidaklah seutuhnya terlihat. Banyak ternyata dari mereka tidak memiliki  budaya kritis seperti mahasiswa yang penulis kenal secara langsung ataupun melalui tulisan dan pikiran-pikiran mereka yang pernah dibaca.

Daya kritis dan analisis persoalan yang sangat dangkal bukan hal yang mencengangkan. Mereka lebih banyak diam dalam diskusi-diskusi yang penulis ikuti dengan sebagian yang hampir rata-rata adalah aktifis kampus di daerah tempat penulis berdomisili. Pertanyaan besar yang muncul adalah kenapa kondisi ini bisa terjadi?.

Fenomena ini menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk bisa diurai akar masalahnya. Banyak faktor yang mempengaruhi itu semua yang tentu  saja harus dilakuan analisis yang tepat terhadap penyebab timbulnya persolan tersebut, namun setidaknya ada beberapa persoalan yang mendasar yang menyebabkan itu.

Pertama, budaya literasi yang sangat kurang. Bagi anak-anak muda sekarang membaca bukanlah sesuatu hal yang menarik. Kemajuan tekhnologi dengan menanyakan segala halnya ke “Mbah Google” seakan telah menjadi sumber rujukan primer diluar jurnal-jurnal ilmiah yang telah dipublikasikan melalui dunia maya itu.  Sehingga banyak hal informasi tentang masa lalu ataupun apa yang sedang terjadi amat minim  mereka miliki.

Semangat perlawanan adalah ciri yang melekat pada anak-anak muda. Cara berfikir mereka masih murni tanpa terkontaminasi terhadap keberpihakan. Semangat ini menjadi latah karena kurangnya pemahaman akan persoalan disebabkan daya analisis yang kurang tajam akibat minimnya budaya literasi tersebut. Kritikan yang mereka lontarkan sering hanya berangkat dari respon terhadap peristiwa yang sedang terjadi tanpa memamahami latar belakang persoalan yang sebenarnya. Keadaan ini akan menjadi kondisi yang sangat rawan dimanfaatkan oleh kelompok kepentingan tertentu.

Kedua, kondisi yang pertama tersebut tentu saja tidak terjadi begitu saja. Sistem pendidikan kita dari tingkat dasar sampai menengah tidak mendorong kekritisan siswanya. Kurikulum yang berubah-ubah menjadi salah satu penyebabnya menurut hemat penulis. Sistem pengajaran bahasa Indonesia tidak mendorong ke arah itu. Lebih kurang dua belas tahun belajar bahasa Indonesia sejak dari sekolah dasar sampai menengah dan berlanjut sampai perguruan tinggi tidak menghasilkan ouput yang menggembirakan untuk dunia tulis dan baca. Begitu ransangan yang diberikan oleh pemerintah untuk bisa memotivasi para siswa dan mahasiswa untuk bisa menulis ide dan gagasan mereka. Beberapa orang yang penulis kenal dari mahasiswa, ketika mengerjakan tugas  lebih cenderung mengandalkan copy paste dan tugas-tugas yang dihasilkan lebih cenderung hanya untuk memenuhi kewajiban terhadap mata kuliah yang sedang mereka ikuti.

Ketiga, banyak orang tua yang masih memiliki pandangan bahwa kuliah adalah untuk mencari kerja. Selesai kuliah sangat diharapkan anak-anak mereka bisa menjadi pegawai negeri sipil (PNS) sehingga orang tua lebih banyak tidak mensuport kegiatan anak-anaknya di luar dunia perkuliahan. Berproses dalam organisasi dianggap adalah sesuatu kegiatan yang tidak bermanfaat dan membuang waktu. Perlakuan terhadap mereka yang kuliah masih saja seperti memperlakukan anak-anak mereka yang masih duduk dibangku sekolah menengah atas yang cenderung diintervensi dalam menentukan pilihan.

Keempat, disisi lain dari cerita anak-anak kampus ini, pihak pemegang otoritas kampus juga secara tidak lansung mendorong agar mahasiswa hanya lebih focus terhadap perkuliahan semata. Kekritisan mahasiswa dianggap sebagai sebuah ancaman serius terhadap stabilitas kampus. Mereka yang kritis dianggab mengganggu dan cenderung dilakukan penetralisiran sikap itu dengan otoritas yang dimiliki.

Setidaknya empat hal itulah menurut asumsi penulis yang menyebabkan hilangnya daya kritis anak-anak muda saat ini. Bila saja ke depannya kondisi terus saja berlansung, tentu saja hal ini sangat mengkhawatirkan. Terbentuknya generasi yang permisif dan terkesan kurangnya kepedulian terhadap fenomena sosial yang terjadi apakah dilingkungannya, skala lokal dan nasional akan menimbulkan persoalan yang cukup serius ke depannya.

Apa yang akan terjadi dihari esok, ditentukan pada saat ini. Kepedulian terhadap kaum muda ini bukanlah hanya semata-mata dalam prilaku sosial yang menyimpang saja. Sebutlah misalnya narkoba ataupun bentuk kenakalan lainnya. Mendorong kreatifitas mereka dan kekritisannya merupakan sisi lain yang perlu terus dipacu dan diapresiasi. Misalkan saja ketika ulang tahun pemerintah daerah, Pemda mendorong mahasiswa maupun siswa untuk lomba menulis tentang daerahnya dengan hadiah yang cukup menarik mereka untuk mengikuti lomba itu.

Selain itu perlu juga disediakan sarana untuk mereka mengekspresikan kreatifitas mereka apakah itu dalam dunia seni, atau produk kreatifitas lainnya. Misalkan saja pemda menyediakan sarana untuk mereka bisa manggung dalam setiap minggu. Pagelaran seni tari dan musik. Penelitian dan sebagainya, penulis yakin kita akan kembali menemukan anak-anak muda yang tidak lagi dijudge dengan kid zaman now itu, Wallahu’Alam.

Ardinal

Ardinal ( Pembina Serikat Mahasiswa Muslim Indonesia (SMMI) Sumbar )

Berita Terkait

Baca Juga