Yusril Ihza Mahendra dan Tuan Guru Bajang

Yusril Ihza Mahendra dan Tuan Guru Bajang Yusril Ihza Mahendra/ Foto: suratkabar.id

Covesia.com - Tahun 1999, salah seorang tokoh muda (Islam) yang jadi buah bibir publik pada masa itu, Yusril Ihza Mahendra, datang ke Kampus UIN Padang (waktu itu masih IAIN Padang). Tujuan utama mantan penulis teks pidato Presiden RI ke-2 Soeharto ini sebenarnya adalah untk deklarasi Partai Bulan Bintang (PBB). Partai yang dianggap sebagai penerus "trah" genetik-historis-ideologis Partai Masyumi. 

Ini kemudian kami manfaatkan. Yusril dan rombongan kami "bajak" untuk datang ke kampus Lubuk Lintah. Kedatangan beliau ke Kampus Lubuk Lintah tersebut disambut antusias. Maklum, namanya sedang "harum-harumnya". Setelah memberikan kuliah umum, kami mengadakan diskusi terbatas, di suatu sore. Saya masih ingat, waktu itu, Yusril didampingi oleh Farid Prawiranegara (anak Syafruddin Prawiranegara), Ahmad Sumargono (Ketua KISDI: Komiten Internasional untuk Solidaritas Dunia Islam) dan Malam Sabat (MS) Ka'ban.

Dalam sesi diskusi kecil tersebut, dari beberapa pertanyaan yang kami ajukan pada Yusril, ada satu pertanyaan, "Mengapa Yusril Ihza Mahendra mendirikan Partai Bulan Bintang?" Mengapa tokoh-tokoh Islam yang waktu itu menjadi buah bibir publik tidak duduk bersama untuk kemudian bersepakat mengusung dan membesarkan satu partai Islam saja?"

Semangat yang berkembang dalam diskusi di sore itu adalah kami menginginkan agar Yusril duduk bersama dengan Buya Ismail Hasan Metareum (waktu itu Ketua PPP), Amien Rais (yang mendirikan PAN), Gus Dur (deklarator PKB) dan Deliar Noer (Partai Ummat Islam). Terserah partai mana yang ingin dimajukan. Terserah pula, tokoh mana yang ingin "ditinggikan seranting didahulukan selangkah". Pokonya, partai yang merepresentasikan Islam Politik, bernaung di satu partai saja. Politik tersebut sangat identik dengan kepentingan. Bila banyak partai politik Islam, justru entisnya nanti menjadi "terbagi" dan terpolarisasi. Kepentingan politik (praktis) bermain. Sulit akhirnya menyatukan. bahkan ditakutkan justru saling berlawanan di "tengah rumah sendiri".

Yusril menjawab kira-kira, "Ini adalah sebuah strategi. Tak usah kita bicara tentang analisis dan pemetaan ideologis yang melatarbelakangi lahirnya berbagai partai politik Islam. Kita tidak ingin terkumpul di satu partai saja, agar bila suatu masa ada partai ppolitik berbasis ideologi Islam yang kalah atau mengecil, masih ada partai politik Islam lainnya yang eksis !". Yusril terkesan menghindar untuk menjelaskan lebih lanjut. Tai esan yang saya tangkap, Yusril sedang bicara dalam konteks beliau sebagai politisi. Adalah rasional bila seorang politisi mengejar kekuasaan. Sebuah keniscayaan. Dan Yusrilil sedang memanfaatkan dan mengkapitalisasi nama harumnya masa itu, untuk membuat biduk sendiri. Tak mungkin ia bergabung dengan Amien Rais yang juga sedang "jaya-jayanya".

Apa yang dikatakan Yusril ini, mengingatkan saya dengan pepatah klasik, "jangan masukkan seluruh telurmu ke dalam satu keranjang. bila keranjang tersebut jatuh, maka seluruh telurmu akan pecah semuanya. letakkan di beberapa keranjang!".

Sampai hari ini, partai politik Islam tak pernah "besar" dan "membesar". Bahkan cenderung "kecil" dan "mengecil".

Kamis tanggal 8 Februari 2018, Kampus Lubuk Lintah juga kedatangan (tepatnya : kami undang) seorang tokoh (politisi) yang juga menjadi buah bibir publik Indonesia belakngan ini. Namanya Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. Muhammad Zainul Wajdi, Lc. Gubernur Nusa Tengggara Barat. Dianggap sebagai politisi muda Islam potensial. Walau berasal dari "luar Jawa" yang secara demografis dan historis menguasai ranah politik Indonesia, tapi Tuan Guru Bajang dianggap oleh publik (setidaknya beberapa kalangan dari ummat Islam) sebagai representasi figur politisi (muda) masa depan Indonesia.

Di hadapan dosen dan mahasiswa yang antusias menyambutnya, TGB berbagi pengalaman manajerial dan akademik kepada kami. Tentang pengalamannya mengelola NTB, tentang pengalamannya menjadi politisi, (juga) tentang pengalamannya berinteraksi dengan entitas politik Indonesia. Pertanyaan banyak bermunculan. Beliau yang juga mrupakan alumni Universitas Al-Azhar Mesir ini menjawabnya dengan tenang dan runtut. Sesekali diselingi dengan gurauan segar. Lalu ketika ada yang bertanya, "mengapa Tuan Guru Bajang jutru menjadi kader Partai Demokrat?  Mengapa tidak membesarkan salah satu partai politik Islam?"

TGB tidak menjawabnya secara detail. Terkesan diplomatis.

Saya jadi ingat dengan jawaban Yusril. Di tempat ini, 18 tahun yang lalu lebih kurang.

Tapi lebih dari itu semua, kami merasa bahagia sekali atas kunjungan TGB tersebut, sebagaimana hal itu juga kami rasakan ketika Yusril berkunjung, dulu. Perjalanan sejarah kemudian menitahkan kisahnya, Yusril dan PBB-nya menjadi "kecil" dan "mengecil". Semoga TGB, tidak. Karena ada diktum umum yang sering kita dengar, "orang baik itu harus disebarkan!".

Tapi ini politik !

Wallahu a'lam

Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )


Berita Terkait

Baca Juga