'Harimau Cindaku' dan Isu Bangkitnya Komunisme

Harimau Cindaku dan Isu Bangkitnya Komunisme Ilustrasi (Istimewa)

Covesia.com - Dulu, ketika saya masih belia hingga remaja, ada kisah tentang "harimau cindaku". Di kampung saya, cerita tentang ini, dikisahkan turun temurun. Cerita yang menakutkan. Membuat anak-anak tak bisa berleluasa merambah seantero kampung untuk bermain-main. Saya tak tahu, apakah di daerah lain punya kisah seperti ini. Bisa jadi ada.

"Harimau cindaku" ini entah dari mana istilah ini bermula. Artinya pun tak terjumpa di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) maupun Kamus Bahasa Minangkabau. Kalau harimau kita sudah tahu. "Cindaku" itu entah apalah makna katanya. Kadang terfikir juga, mengapa tak "harimau cintaku", kok mesti "harimau cindaku". Tapi yang pasti, menakutkan.

Biasanya keluar di malam hari. Terikat dengan Musim. Tak sepanjang waktu "harimau cindaku" ini muncul. Ada masanya. Ada penyebabnya. Penyebab yang bisa jadi menjurus ke fitnah. Kalau ada "orang jahat" yang meninggal, maka beberapa hari kemudian, isu ini muncul.

"Si anu yang meninggal beberapa hari lalu, sudah menjadi harimau. Harimau jadi-jadian. Harimau cindaku. Demikian ungkapan yang sering saya dengar masa itu. 

Kadang saya tanya pada ayah tentang kebenarannya, maka ayah berkata, kurang ajar mendekati bajingan orang yang menyebarkan berita ini. Tak tahukah kamu, bagaimana perasaan keluarga orang yang meninggal itu bila anggota keluarganya yang telah dikuburkan beberapa hari lalu jadi harimau jadi-jadian? Saya lihat ayah begitu marah sambil mematahkan rokok yang baru dibakar.

Walaupun begitu, saya seakan-akan percaya karena ini menjadi perbincangan masyarakat umum. Di kedai, di sekolah maupun di tempat-tempat ibu-ibu berkumpul. "Harimau cindaku" sedang muncul. Hati-hati. Pintu rumah tolong diberi palang dari kayu", kata seorang ibu.

Suasana kampung gerah. Banyak bapak-bapak yang ronda. Tapi "harimau cindaku" itu tak kunjung jua di dapat. Mungkin sampai hari ini. Suatu ketika, di kedai ayah, berkumpullah bapak-bapak. Saya mendengar debat panas mereka tentang isu ini. Menyimak penuh takzim. Seorang bapak kemudian menyela, "berputar-putar cerita kita ini. Ibarat memutar kain sarung. Tak tahu ujung pangkalnya. Katanya ada, tapi tak bisa menunjukkan bukti langsung. Kata si anu dari si anu yang diriwayatkan si anu. Periwayatnya pun Tak kuat dan tak valid. Kalau begitu, lebih baik kita tunggu saja diantara kita ini yang langsung melihat. Kemudian kabarkan kepada yang lain. Kita kepung. Tangkap. Habis perkara. Diskusi bubar. Minum kita lagi.Semua terdiam.

Tapi isu "harimau cindaku ini tetap berkembang. Bahkan semakin meresahkan. Hingga suatu malam, seorang Buya kharismatik di kampung saya yang akan menuju masjid untuk sholat subuh, menangkap "harimau cindaku" itu. Dalam perjalanN menuju masjid, Buya ini melihat sesosok yang menyerupai pocong merangkak-rangkak seperti harimau. Tanpa takut (iman beliau kuat). Buya ini spontan mengambil batu. Tujuannya jelas, dilemparkan ke sosok "meresahkan" tersebut. Sebelum buya melemparkan batu, spontan sosok ini berteriak, "Jangan Buya. Ini saya !", katanya sambil membuka pakaian kamuflasenya itu.

Buya terperanjat. "Kamu rupanya. Tujuan kamu apa, bikin resah orang sekampung? hardik buya dengan marah. "Hanya menakut-nakutkan saja. Kalau ada saya juga ingin memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan saya", jawab sosok yang terbuka identitasnya itu.

Buya menceritakan ini kepada ayah saya. Ayah menceritakan pada saya. Dan ayah pun berkata, "Buya menyaksikan langsung. Ia menceritakkannya kemudian. Tak diragui berita yang disampaikannya itu. Beliau tak mungkin berbohong. Ayah kemudian berkata lagi, "Kuatkan imanmu. Cek berita dengan baik. Jangan fitnah orang lain. Jangan lupa, gunakan juga nalarmu. Isu "harimau cindaku" pun mereda. 

Tapi di lain masa, muncul lagi. Tetap seperti biasa, tak ada yang bisa menangkapnya. Bagi saya, ucapan ayah benar dan rasional. 

Namun hikmahnya juga ada dengan munculnya isu "harimau cindaku" tersebut. Anak-anak takut keluyuran malam. Selalu ada aspek fungsional dari sebuah peristiwa. Kini, anak-anak di kampung saya nampaknya tak begitu percaya dengan isu seperti di atas. Mereka tak bisa dibodohi lagi. Mungkin karena sudah semakin cerdas.

Komunisme muncul lagi, kata seorang kawan, sore tadi ketika berdiskusi di pinggir pantai. Menunggu anak-anak menikmati festival buda saudara-saudara muslim keturunan India di Kampung Keling serta perayaan Imlek di daerah Kampung China.

"Bahkan mereka telah mempersiapkan puluhan juta orang untuk merebut kekuasaan," katanya kembali dengan semangat.

Beginilah. Komunisme itu sedang bangkit atau tidak, bagi saya ini adalah sesuatu yang berulang-ulang. Seperti mengenal musim. Karena sejak saya mahasiswa, isu ini sudah berulang-ulang dihembuskan.

Bagi saya, komunisme ini sudah terpuruk, itu sudah pasti. Di tempat lahirnya pun, ideologi ini tidak diminati lagi. Memang masih menjadi haluan negara mereka, tapi hanya bungkusan saja. Bahkan lawan dari ideologi ini,  kapitalisme liberalisme justru sedang dipraktikkan secara telanjang. Kamu lihatlah bagaimana praktik ekonomi China dan Rusia. 

Artinya, ideologi ini sudah masuk dalam keranjang sampah sejarah. Kalau ada orang yang masih merindukan ideologi ini, berarti seleranya rendah.

Sejak saya mahasiswa, cukup banyak (bukan berarti banyak sekali) saya membaca buku-buku Marxisme dengan segala “cabangnya” seperti Lenininsme, Trotskysme, Maoisme dan seterusnya. Bahkan buku-buku Tan Malaka, Nyoto, Aidit dan biografi-biografi para Stalinis di Amerika Latin cukup banyak saya koleksi-baca. 

Termasuk improvisasi Marxisme ala Timur Tengah (Baathisme). Semakin saya baca, justru semakin terlihat ketidakmungkinan (bahasa kerennya : utopis/utopia) ideologi ini akan eksis di tengah-tengah ummat manusia. Sejarah membuktikan itu.

Kalau kita baca sejarah lahirnya ideologi ini, kita akan tahu kondisi-kondisi apa saja yang membuat ideologi ini dirindukan. Kalau kita pahami konteks hadirnya ideologi pada suatu era tertentu oleh suatu komunitas tertentu, kita akan semakin tahu mengapa ideologi ini diminati. Ideologi ini hadir dirindukan kembali ketika ketidakadilan, diskriminasi, kebodohan, ketimpangan ekonomi, rakyat kecil banyak kelaparan, kebencian ditumbuhkan di sana sini, pejabat banyak yang korupsi, janji-janji elit yang tidak dipenuhi, kebohongan elit dipertontonkan. Kondisi-kondisi ini yang menginspirasi Karl Marx menyusun “kitab suci” kaum Marxian,  Das Kapital dan Manifesto Komunisme.

Lalu apa yang harus kita lakukan ? Jangan mudah dibodohi. Bisa jadi ini dimanfaatkan untuk kepentingan pihak tertentu. Rajin berusaha, sehingga tidak menjadi orang yang bergantung pada orang lain. Spesifiknya, musuh kita sebenarnya adalah kebodohan, kemiskinan dan suasana kebencian. Inilah yang membuat ideologi tersebut hadir sebagai “penawar”. 

Bukankah beberapa elit politik kita memberikan sinyalemen agar kita harus mengkhawatirkan hadirnya ideologi tersebut? Dalam konteks ilmu komunikasi politik dan psikologi politik, sebuah pesan atau sinyal politik, tidak pernah “kosong”. Ada muatan politik untuk mempengaruhi psikologi publik. Pertanyaan sederhananya satu saja, dengan dihembuskannya isu tersebut, pihak mana secara politik diuntungkan dan pihak mana secara politik dirugikan ?”. Hubungkan puzzle-puzzlenya dan kemudian silahkan kita analisis.

Walaupun ada yang mendebat, tapi fakta sejarahnya, PKI pernah melakukan tindakan tak terpuji dalam konteks berbangsa dan bernegara. "Jumhur" sejarawan mengatakan hal seperti itu. Persoalan debat akademiknya, itu persoalan perspektif. Paradigma teori yang digunakan.

Maka bila kita sederhanakan, seandainya ada organisasi ini lagi, bangkit lagi, jutaan orang bahkan puluhan juta pengikutnya, ya cari saja kantornya, tokohnya, laporkan saja pada polisi. Kan organisasi ini illegal ?

Dua kisah di atas, dengan dimensi temporal (waktu) dan spasial (tempat) serta tema yang berbeda, mungkin memiliki "benang merah".

Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )


Berita Terkait

Baca Juga