Berharap pada Politisi

Berharap pada Politisi Ilustrasi

Covesia.com - Bolehkah kita berharap? Tentu tak salah, bahkan dianjurkan. Bukankah Imam Al-Ghazali justru menempatkan "cemas" dan "harap" dalam nukilan-nukilan teosofinya berkenaan dengan ibadah. Demikian juga, misalnya penyair klasik China Lut Szun pernah mengatakan bahwa : 

Harapan itu ibarat jalan di dalam rimba, pada awalnya tak ada, tapi karena sering dilalui, akhirnya jalan itu ada dengan sendirinya.

Demikian juga harapan kita tentang dunia politik yang diisi para politisi (itu sudah pasti, karena tidak mungkin diisi oleh seniman). Dunia politik dan politisi, bagaimanapun juga, adalah sebuah keniscayaan demokrasi. Ranah politik dalam perspektif teologi (Islam) adalah ranah yang "mulia". Bukankah dalam memperbaiki masyarakat, kekuasaan berada di tempat tertinggi setelah lisan/tulisan dan respon hati?

Namun publik justru menganggap dunia politik dan politisi sebagai "public enemy". Mungkin publik terlalu menggeneralisir, namun publik juga tidak bisa disalahkan. Ekspektasi publik terhadap dunia politik dan para politisi ini begitu besar. Karena itu tidaklah salah bila hedonisme yang menjangkiti para politisi tersebut membuat publik merasa dibodohi dan dipecundangi. Kasihan memang orang yang masuk dunia politik. Tak semua politisi itu yang busuk, pasti ada yang berhati bening dan berjiwa waras.

Namun karena dunia politik adalah dunia tawar menawar, maka mau tidak mau, kepentingan publik harus dikesampingkan ketika berbenturan dengan kepentingan kelompok-partai. Banyak politisi berhati bening tidak sanggup menolak "pakem" ini. Karena bagaimanapun juga, ketika seseorang ingin terjun di dunia politik, maka ia harus siap bergelut dengan dunia kebusukan. Kalau berhasil, dia akan menjadi politisi yang disegani kawan maupun lawan.

Politisi seharusnya tidak menjadi bagian utama dalam membiarkan masyarakat mempraktikkan pola berpolitik yang merusak, seperti money politic. Praktek jual beli suara hanya akan menjauhkan cita-cita indonesia menjadi lebih baik. 

Seorang calon yang menangnya dengan cara membayar, pasti yang dipikirkan pertama kali bagaimana mengembalikan modalnya, bukan bagaimana memperbaiki nasib rakyatnya. 

Politisi yang ingin memperbaiki negeri ini dengan setulus hati, agar tak mengajari rakyat dengan politik transaksional. Saya rasa, itu jauh lebih mendidik dan memiliki pengaruh besar dalam meniti harapan Indonesia yang lebih baik. Bagaimanapun juga, harapan ini harus terus kita pelihara. Selamat menempuh tahun-tahun politik. Masa "riuh rendah" yang adalah sebuah keniscayaan untuk dilalui.

(lif) 

Muhammad Ilham Fadli

Muhammad Ilham Fadli ( Ketua Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Imam Bonjol )


Berita Terkait

Baca Juga