Mengenal 'Tambua Tansa' Alat Kesenian Tradional dari Agam yang Mendunia

Mengenal Tambua Tansa Alat Kesenian Tradional dari Agam yang Mendunia Dua pengerajin Tambua Tansa saat sedang melakukan proses pengecatan, Minggu (04/3) (Foto: Johan Utoyo)

Covesia.com – Berawal dari kecintaannya kepada kesenian tradisional Minangkabau mengantarkan Zulkifli,  (46) warga Pangka Tanjung, Jorong Pantas, Nagari Tanjung Sani, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) untuk  menjadi pengrajin tambua tansa.

Saat dikunjungi di lokasi produksi tambua di Nagari Tanjung Sani,Minggu, (4/3/2018),  terlihat Zulkifli yang akrab di panggil St Jamiak itu sedang melakukan proses pengeringan kayu yang sudah di lobangi serta 6 anggota yang dipekerjakan sedang sibuk dengan tugas membolongi kayu dan pengecatan,  pengeringan dan lainnya.

Pekerjaan sebagai pengrajin Tambua Tansa tersebut sudah ditekuninya sejak 2006 silam dan sampai saat ini masih bertahan. 

"Awalnya saya memang hobby bermain tambua tansa,  kemudian timbul inisiatif untuk memproduksi dan  mengembangkannya," ujarnya sambil menjemur kayu yang sudah di lobangi, Minggu (04/3).

Ia menuturkan, untuk bahan kayu yang digunakan ada 2 jenis yaitu kayu pulai dan sikuai yang di belinya dari masyarakat.

"Sebelum menebang kayu kita berkoordinasi dan ditemani BKSDA agar tidak salah lokasi penebangan,” lanjutnya.

Pokok kayu yang diambil adalah yang berdiameter 50 hingga 30 Cm,  kemudian di potong sepanjang 60 Cm, di bulatkan dan isi bagian tengah di buang barulah di bawa pulang untuk proses lanjutan.

Setibanya di rumah baru dilanjutkan dengan pembuangan bagian dalam kahu hingga tinggal 3 sampai 4 Cm, serta pengetaman bagian luar, barulah masuk pada prosespengeringan.

"Proses pengeringan badan tambua itu menggunakan cahaya mata hari dan memakan waktu cukup lama dari 15 hingga 20 hari,” tukas Zulkifli.

Setelah dinyatakan cukup kering baru dilaksanakan proses pelicinan sisi luar pokok kayu, kemudian dilanjutkan dengan pengecatan serta membuat lukisannya.

Untuk proses pengeringan cat juga memakan waktu sekitar 3 hingga 4 hari barulah di pasangi kulit kambing yang sudah di kikis dan di jemur kering,  masyarakat setempat disebut dengan di “samak”.

kulit yang digunakan untuk tambua adalah kulit kambing karena lebih keras dan lebih tipis dibandingkan kulit sapi.

Kulit tersebut di pesannya ke seorang pedagang kulit ternak di kota Bukittinggi dengan harga Rp 100 ribu / helai. “Satu tambua membutuhkan 2 helai kulit kambing,” tuturnya menjeaskan.

Mengenai harga, Zulkifli menjuanya antara Rp 1 juta hingga Rp 2,5 juta per tambua sesuai dengan ukuran dan jenis kayu yang digunakan. 

"Satu set tambua terdiri dari 7 tambua satu tansa dan 10 tambua 1 tansa tergantung pesanan, untuk Tansa kita buat dari besi plat, dan harganya Rp 1,5 juta, setelah di pesan kita akan menyelaraskan ukuran dan warna cat dan lukisannya,“ lanjut Zulkifli.

Ia mengaku tambua produksinya sudah dipasarkan di dalam dan luar daerah bahkan hingga ke Singapura, Brunai Darussalam, Malaysia hingga Amerika. 

Biasanya yang memesan adalah sekolah-sekolah, sanggar seni, para perantau yang mendirikan sanggar atau Universitas luar negeri yang mengajarkan kesenian tambua tansa," tutupnya.

(han/adi)

Berita Terkait

Baca Juga