Bijak dalam Menyikapi Berita

Bijak dalam Menyikapi Berita Ilustrasi

Covesia.com - Era Teknologi Informasi memungkinkan semua orang membuat dan memuat berita sebanyak-banyaknya dan sesuka-sukanya. Celakanya, berita-berita tersebut, bisa pula "digoreng" segoreng-gorengnya. Kalau pembaca tidak hati-hati dan bijak dalam menyikapi setiap pemberitaan yang ada, akan sangat berbahaya. Dua orang yang bersaudara bisa jadi bermusuhan. Orang-orang yang tadinya berteman baik, bisa berkelahi. Bahkan, sesama muslim bisa saling kecam dan saling kafir-mengkafirkan. Akibatnya, tentu saja penyesalan yang akan datang.

Rasulullah SAW, dulu pernah juga menerima kabar yang tidak benar itu dari seorang sahabat yang ditugaskannya untuk menjemput zakat yang telah dikumpulkan oleh sahabat beliau yang lain di suatu daerah. Tetapi, rasul tidak begitu saja menerimanya. Ceritanya seperti ini; sesudah al-Harits masuk Islam Rasulullah saw memerintahkannya untuk mengajak kabilahnya masuk Islam dan membayar zakat. Al-Harits pun menyatakan kesediaan dan kesanggupannya. 

Kepada Rasulullah, Al-Harits menyatakan, “Saya akan pulang ke kampung saya untuk mengajak orang lain masuk Islam dan membayar zakat. Bila sudah sampai waktunya, kirimkanlah utusan untuk mengambilnya” Namun ketika kaum Bani Musthaliq sudah menerima Islam dan zakat sudah banyak dikumpulkan sedang waktu yang disepakati oleh Rasul untuk mengambil zakat telah tiba, ternyata utusan beliau belum juga datang. 

Al-Harits pun merasa khawatir kalau ada sesuatu yang tidak berkenan di hati Rasulullah SAW. yang menyebabkan beliau tidak kunjung mengirimkan utusan. Al-Harits khawatir kalau persoalan ini akan berakibat buruk bagi dirinya dan kaumnya.

Setelah melalui musyawarah dengan tokoh-tokoh Bani Musthaliq, Al-Harits merasa harus datang kepada Rasulullah SAW. Keberangkatan ke Madinah ini dipimpin sendiri oleh Al-Harits dan diikuti oleh serombongan tokoh Bani Musthaliq, untuk menyerahkan zakat itu kepada Nabi.

Sementara itu, dalam waktu yang hampir bersamaan Rasulullah SAW juga mengutus Al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat yang telah dikumpulkan Al-Harits. Di tengah jalan al-Walid melihat Al-Harits beserta sejumlah orang berjalan menuju Madinah. 

Didasari oleh ingatan akan permusuhan di masa jahiliyah antara dirinya dengan al-Harits, timbul rasa gentar di hati Al-Walid, jangan-jangan al-Harits akan menyerang dirinya. Karena itulah kemudian ia berbalik kembali ke Madinah dan menyampaikan laporan yang tidak benar.

Al-Walid melaporkan kepada Rasulullah bahwa Al-Harits tidak mau menyerahkan zakat, bahkan ia akan dibunuhnya. Rasulullah saw tidak langsung begitu saja percaya, beliau pun mengutus lagi beberapa sahabat yang lain untuk menemui Al-Harits. Ketika utusan itu bertemu dengan Al-Harits, ia berkata: kami diutus Rasulullah untuk bertemu denganmu” Al-Harits bertanya, ada apa? Utusan Rasulullah itupun menjawab: sesungguhnya Rasulullah saw telah mengutus Al-Walid bin Uqbah untuk mengambil zakat, lalu ia mengatakan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat bahkan mau membunuhnya.

Al-Harits menjawab, Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya, aku tidak melihatnya dan tidak ada yang datang kepadaku. Maka ketika mereka sampai kepada Nabi, beliau pun bertanya, apakah benar engkau menolak untuk membayarkan zakat dan hendak membunuh utusanku? Demi Allah yang telah mengutusmu dengan sebenar-benarnya, aku tidak berbuat demikian.

Setelah peristiwa ini, turunlah Firman Allah SWT, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya sehingga kamu akan menyesal atas perbuatanmu itu. [QS Al-Hujurat (49): 6].

Agar kita tidak menyesal, agar ukhuwah kita tetap terjaga, agar ruhama atau kasih sayang diantara kita tetap terpelihara, mari kita bijak dalam bermedia.

(lif)

Dr. H. Ismail, M.Ag

Dr. H. Ismail, M.Ag ( Dekan Fakultas Syariah IAIN Bukittinggi )

Berita Terkait

Baca Juga