Legenda 'Bujang Sambilan' Asal Usul Danau Maninjau

Legenda Bujang Sambilan Asal Usul Danau Maninjau Danau Maninjau (Dok. Covesia)

Covesia.com - Danau Maninjau adalah sebuah danau yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat. Danau vulkanik yang berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut itu memiliki luas sekitar 99,5 km2 dan kedalaman mencapai 495 meter.

Danau maninjau berasal dari letusan besar gunung api Sitinjau yang menghamburkan kurang lebih 220-250 km kubik material piroklastik. Itulah hasil kesimpulan para ahli yang sudah meneliti asal usul Danau Maninjau.

Namun bagi masyarakat Tanjung Raya, kabupaten Agam, ada sebuah legenda yang saat ini masih diceritakan secara turun menurun kepada generasi penerus mengenai asal muasal Gunung Sitinjau itu meletus dan berubah menjadi danau, legenda itu dikenal dengan nama Bujang Sambilan (Sembilan Lajang)

Menurut cerita turun temurun dari nenek moyang di selingkaran Danau Maninjau, ledakan Gunung Sitinjau terjadi karena kutukan sepasang kekasih yang  tidak mendapat restu dari saudara pihak perempuan dan mereka  dituduh telah melakukan perbuatan yang melanggar kepercayaan maupun adat.

Diceritakan pada zaman dahulu, di Sumatera Barat terdapat sebuah gunung berapi yang amat tinggi bernama Gunung Tinjau, gunung tersebut posisinya berdekatan dengan gunung Marapi dan Singgalang, ibaratkan tungku yang berdiri di tiga sisi. Gunung Sitinjau merupakan gunung tertinggi di antara dua gunung lainnya dan di puncaknya memiliki kawah luas yang mengeluarkan lahar panas.

Di kaki Gunung Sitinjau terdapat beberapa perkampungan dengan masyarakat hidup makmur tentram dan sejahtera, dengan petani sebagai profesi utama.

Di salah satu perkampungan di kaki Sitinjau tinggallah sepuluh bersaudara yatim piatu yang terdiri atas sembilan lelaki dan seorang perempuan. Kesepuluh bersaudara tersebut bernana Kukuban, Kudun, Bayua, Malintang, Galapuang, Balok, Batang, Bayang, dan Kaciak.

Sementara adik mereka yang paling bungsu seorang perempuan bernama Siti Rasani, akrab dipanggil Sani.

Walau yatim piatu, 10 saudara itu memiliki mamak (saudara laki-laki dari ibu/red) yang bernama Datuk Limbatang. Ia memiliki seorang putra yang bernama Giran. 

Dalam sistem kekerabatan dan adat di Minangkabau, mamak memegang peranan penting untuk mendidik, membimbing dan mengawasi keponakannya.

Seiring Berjalannya waktu, Sani pun berubah menjadi gadis yang cantik jelita, sehingga Giran pun menaruh hati, ibarat gayung bersambut perasaan Giran pun dirasakan Rasani sehingga mereka pun menjadi sepasang kekasih.

Sebagai orang tua tentu Datuak Limbatang sudah memahami putra dan keponakannya, sehingga untuk mengantisipasi terjadinya hal yang tidak di inginkan, ia berencana untuk menjodohkan, meskipun berstatus sebagai mamak tentunya Datuak Limbatang harus merumbukkan niat tersebut kepada seluruh saudara Sani.

Namun tujuan baik itu ditolak mentah-mentah oleh Simalintang. Penolakan lamaran itu disebabkan dendam pribadinya dengan Giran saat adu tangkas di  gelanggang perhelatan pesta panen yang dilakukan beberapa waktu sebelumnya. 

Dalam pertandingan, Giran tanpa sengaja mencederai Simalintang sehingga ia pun merasa tidak senang dan menyimpan dendam.

Penolakan pinangan yang dilakukan oleh salah satu kakaknya diketahui oleh Sani. Disaat kemelut, kedua pasangan itu sepakat bertemu di sebuah ladang di tepi sungai.

Pertemuan itu untuk merundingkan masalah yang sedang mereka hadapi, namun tidak menemukan titik terang.

Ketika hendak kembali ke rumah, pakaian yang dikenakan Sani tersangkut ranting kayu dan sobek, selain sobek ranting kayu juga melukai kakinya. 

Melihat kondisi tersebut Giran pun berniat untuk menolong Sani, namun tanpa di sadari 9 saudara Sani bersama puluhan warga sudah mengintai mereka dari jauh. 

Saat membersihkan luka mereka pun digerebek dan dituduh telah melakukan perbuatan asusila. Akhirnya, mereka digiring ke persidangan adat untuk mempertanggung jawabkan perbuatan. 

Saat di persidangan, Sani dan Giran membantah tuduhan yang dilontarkan kepada mereka. Namun berdasarkan kesaksian sembilan saudara laki-laki Sani, sidang adat pun memutuskan bahwa keduanya bersalah karena telah melanggar adat yang berlaku di kampung itu. 

Sebagai hukuman, keduanya harus dibuang ke kawah Gunung Sitinjau.

Pada hari yang telah ditentukan keduanya menjalankan hukuman. Sebelum melompat ke dalam kawah, keduanya berkata jika mereka tidak bersalah, Gunung Sitinjau akan meletus dan sembilan saudara laki-lakinya dikutuk menjadi ikan.

Sesaat setelah hukuman dijalankan, tiba-tiba gunung pun meletus dengan dahsyatnya sehingga tidak ada seorang pun yang selamat. Sedangkan sembilan saudara laki-laki Sani menjelma menjadi ikan.

Letusan dahsyat Gunung Tinjau itu menyisakan kawah yang luas dan lama-kelamaan berubah menjadi sebuah danau dan diberi nama Danau Maninjau. 

Untuk mengabadikan kisah, nama mereka dijadikan nama daerah yang berada di sekeliling Danau Maninjau seperti, Tanjung Sani, Sigiran, Sungai Batang, Sikudun, Bayua, Koto Malintang, Koto Kaciak, Sigalapuang, Balok dan Kukuban.

Sembilan saudara laki-laki Sani yang dikutuk menjadi ikan itu, diyakini sebagai penjaga danau.

Yus Dt Parpatiah

Yus Dt Parpatiah ( Budayawan dan Pimpinan Balerong Group )

Berita Terkait

Baca Juga